<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Fakta Dahlan Iskan Soroti Rapor Merah BUMN Karya</title><description>Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mencatat,  BUMN karya mengalami stagnasi sumber pendanaan dari pihak ketiga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/11/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/11/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya"/><item><title>4 Fakta Dahlan Iskan Soroti Rapor Merah BUMN Karya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/11/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/11/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya</guid><pubDate>Minggu 11 April 2021 07:31 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/10/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya-BvHBcEZVr1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">dahlan Iskan (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/10/320/2392514/4-fakta-dahlan-iskan-soroti-rapor-merah-bumn-karya-BvHBcEZVr1.jpg</image><title>dahlan Iskan (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mencatat, BUMN karya mengalami stagnasi sumber pendanaan dari pihak ketiga. Alternatif pendanaan badan usaha di sektor konstruksi itu dinilai 'mentok'.

Berikut fakta Dahlan Iskan komentari rapor merah BUMN yang telah dirangkum oleh Okezone, Minggu (11/4/2021):
 
&amp;nbsp;Baca juga:  5 Fakta Parahnya Laporan Keuangan BUMN Karya, Ada yang Rugi Rp7,3 Triliun
 
1. Perseroan BUMN Tidak Bisa Jual Saham Melebihi 50%
 
&amp;nbsp;
Misalnya, Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam pasar modal Indonesia yang digadang-gadang menjadi alternatif pendanaan perusahaan, pun mengalami pembatasan. Di mana, perseroan pelat merah tidak diizinkan menjual sahamnya melebihi 50%.

&quot;Sebenarnya, masih ada jalan lain, rights issue di pasar modal atau menambah jumlah saham yang dijual ke publik. Tapi BUMN punya batas, tidak boleh menjual saham ke publik melebihi 50 persen, takutnya mayoritasnya jatuh ke publik,&quot; ujar Dahlan, Senin (5/4/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Disentil Dahlan Iskan, Begini Parahnya Kondisi Keuangan BUMN Karya
 
2. Susah Pinajm Dana Bank

Semua BUMN Konstruksi, kata dia, mentok di batas tersebut. Dengan demikian rights issue bukan menjadi pilihan manajemen lagi.

Tak hanya itu, dana bank yang menjadi nafas bisnis konstruksi pun dinilai tidak memungkinkan. Artinya, sekuat-kuatnya bank, lembaga tetap tunduk pada mekanisme bisnisnya sendiri. Dimana, ada batas jumlah pemberian kredit pada satu group perusahaan.&quot;Ketika perusahaan sudah tidak bisa pinjam dana bank, karena sudah  capai batas atas, maka bencana tahap satu pun datang. Ketika bencana  tahap satu itu datang, harapan tinggal pada obligasi, medium term notes  (MTM) dan sejenisnya. Tapi pemilik dana obligasi pun tahu, mana  perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok,&quot; katanya.



3. Ada Sumber Dana Selain Pinjaman Bank

Di sisi lain, ada sumber pendanaan lain yang tergolong lebih murah  jika dibandingkan dengan pinjaman bank dan obligasi. Dana yang dimaksud  Dahlan adalah sub kontraktor.

&quot;Tapi dana ini sudah lebih dulu dipakai. Inilah sumber dana  tersembunyi yang penting sekali. Jarang yang menyadari ini, ketika sub  kontraktor tidak kunjung dibayar, maka sebenarnya mereka itulah sumber  dana terdepan BUMN Infrastruktur,&quot; kata dia

 
4. SWF Diharapkan Bisa Jadi Wadah Dana BUMN

Karena itu, Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign  Wealth Fund (SWF) diharapkan menjadi wadah alternatif bagi pendanaan  BUMN. Anggaran yang nantinya dihimpun yang berasal dari Amerika Serikat  (AS), Uni Emirat Arab, Kanada, dan Jepang, akan menjadi sumber pendanaan  BUMN Karya dan sektor lainnya.

Adapun laporan keuangan tahunan yang dirilis perusahaan konstruksi  pelat merah. Dimana, PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengalami kerugian  hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 Waskita Karya mampu mengantongi  laba bersih Rp 938 miliar.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laba perseroan terkontraksi dari  Rp2,28 triliun menjadi kurang dari Rp185,76 miliar. Sementara itu,  kinerja keuangan PT PP (Persero) mengalami penurunan dari Rp819,4 miliar  menjadi Rp128,7 miliar.</description><content:encoded>JAKARTA - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mencatat, BUMN karya mengalami stagnasi sumber pendanaan dari pihak ketiga. Alternatif pendanaan badan usaha di sektor konstruksi itu dinilai 'mentok'.

Berikut fakta Dahlan Iskan komentari rapor merah BUMN yang telah dirangkum oleh Okezone, Minggu (11/4/2021):
 
&amp;nbsp;Baca juga:  5 Fakta Parahnya Laporan Keuangan BUMN Karya, Ada yang Rugi Rp7,3 Triliun
 
1. Perseroan BUMN Tidak Bisa Jual Saham Melebihi 50%
 
&amp;nbsp;
Misalnya, Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam pasar modal Indonesia yang digadang-gadang menjadi alternatif pendanaan perusahaan, pun mengalami pembatasan. Di mana, perseroan pelat merah tidak diizinkan menjual sahamnya melebihi 50%.

&quot;Sebenarnya, masih ada jalan lain, rights issue di pasar modal atau menambah jumlah saham yang dijual ke publik. Tapi BUMN punya batas, tidak boleh menjual saham ke publik melebihi 50 persen, takutnya mayoritasnya jatuh ke publik,&quot; ujar Dahlan, Senin (5/4/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Disentil Dahlan Iskan, Begini Parahnya Kondisi Keuangan BUMN Karya
 
2. Susah Pinajm Dana Bank

Semua BUMN Konstruksi, kata dia, mentok di batas tersebut. Dengan demikian rights issue bukan menjadi pilihan manajemen lagi.

Tak hanya itu, dana bank yang menjadi nafas bisnis konstruksi pun dinilai tidak memungkinkan. Artinya, sekuat-kuatnya bank, lembaga tetap tunduk pada mekanisme bisnisnya sendiri. Dimana, ada batas jumlah pemberian kredit pada satu group perusahaan.&quot;Ketika perusahaan sudah tidak bisa pinjam dana bank, karena sudah  capai batas atas, maka bencana tahap satu pun datang. Ketika bencana  tahap satu itu datang, harapan tinggal pada obligasi, medium term notes  (MTM) dan sejenisnya. Tapi pemilik dana obligasi pun tahu, mana  perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok,&quot; katanya.



3. Ada Sumber Dana Selain Pinjaman Bank

Di sisi lain, ada sumber pendanaan lain yang tergolong lebih murah  jika dibandingkan dengan pinjaman bank dan obligasi. Dana yang dimaksud  Dahlan adalah sub kontraktor.

&quot;Tapi dana ini sudah lebih dulu dipakai. Inilah sumber dana  tersembunyi yang penting sekali. Jarang yang menyadari ini, ketika sub  kontraktor tidak kunjung dibayar, maka sebenarnya mereka itulah sumber  dana terdepan BUMN Infrastruktur,&quot; kata dia

 
4. SWF Diharapkan Bisa Jadi Wadah Dana BUMN

Karena itu, Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign  Wealth Fund (SWF) diharapkan menjadi wadah alternatif bagi pendanaan  BUMN. Anggaran yang nantinya dihimpun yang berasal dari Amerika Serikat  (AS), Uni Emirat Arab, Kanada, dan Jepang, akan menjadi sumber pendanaan  BUMN Karya dan sektor lainnya.

Adapun laporan keuangan tahunan yang dirilis perusahaan konstruksi  pelat merah. Dimana, PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengalami kerugian  hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 Waskita Karya mampu mengantongi  laba bersih Rp 938 miliar.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laba perseroan terkontraksi dari  Rp2,28 triliun menjadi kurang dari Rp185,76 miliar. Sementara itu,  kinerja keuangan PT PP (Persero) mengalami penurunan dari Rp819,4 miliar  menjadi Rp128,7 miliar.</content:encoded></item></channel></rss>
