<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Silicon Valley ala Indonesia Diprediksi Mangkrak, Ada Apa?</title><description>Proyek Bukit Algoritma di Sukabumi diprediksi akan mengalami mangkrak.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/15/320/2395296/silicon-valley-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/15/320/2395296/silicon-valley-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa"/><item><title>Silicon Valley ala Indonesia Diprediksi Mangkrak, Ada Apa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/15/320/2395296/silicon-valley-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/15/320/2395296/silicon-valley-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa</guid><pubDate>Kamis 15 April 2021 16:48 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/15/320/2395296/silicon-valey-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa-C05JSNjy14.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Digital (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/15/320/2395296/silicon-valey-ala-indonesia-diprediksi-mangkrak-ada-apa-C05JSNjy14.jpg</image><title>Ekonomi Digital (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda memproyeksikan, proyek Bukit Algoritma di Sukabumi akan mengalami mangkrak. Saat ini pembangunan Silicon Valley Indonesia itu ditangani langsung oleh BUMN Konstruksi, PT Amarta Karya (Persero).
Sebab utama mangkraknya proyek industri 4.0 ini adalah kesiapan. Menurut, Huda masih ada persoalan mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu oleh pemerintah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bukit Algoritma Jadi Silicon Valley Indonesia? Penuhi Syarat Ini Dulu
&quot;Berbagai permasalahan mendasar harus diperbaiki terlebih dahulu karena sangat berpotensi sekali bukit algoritma mangkrak dan bisa seperti proyek lainnya yang pemanfaatannya tidak maksimal, seperti Bandara Kertajati yang hanya menjadi bengkel pesawat,&quot; ujar Huda dalam webinar, Kamis, (15/4/2021).
Persoalan mendasar yang dimaksud adalah ekosistem ekosistem research and development (R&amp;amp;D) Indonesia yang tercatat masih sangat rendah karena beberapa kondisi yang memberatkan. Pertama adalah proporsi dana R&amp;amp;D terhadap PDB masih sangat rendah. Kedua, produk high-tech Indonesia masih sangat sedikit.
 
Baca juga: RI Bakal Punya 'Silicon Valley' Rp18 Triliun&amp;nbsp;
&quot;Lalu SDM-nya juga belum mencukupi untuk masuk ke dalam industri 4.0,&quot; katanya.Hal ini tampak dari ketimpangan digital yang masih tinggi dalam skill  dan penggunaan produk digital. Selain itu, dia mencatat bahwa inovasi  Indonesia berada di posisi ke-4 terburuk se-ASEAN.
ICOR Indonesia masih berada di angka 6.7, karena modal yang masuk ke  Indonesia semakin tidak efisien dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.  Ongkos inovasi juga semakin mahal.
Dia mencontohkan China dan Vietnam sebagai negara yang berhasil  menjadikan dana R&amp;amp;D sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. &quot;Jumlah  peneliti di Indonesia masih sangat rendah, hanya 216 dari 1 juta  penduduk,&quot;
Sementara itu, hasil paten Indonesia juga rendah dibandingkan dengan  negara ASEAN lainnya. Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura,  proporsi penduduk Indonesia yang ahli dalam pemrograman komputer pun  masih sangat rendah, hanya 3,5 persen dari penduduk muda dan dewasa.
&quot;Indonesia hanya unggul dari Thailand dan Filipina. Maka dari itu,  masih terdapat selisih antara penawaran dan permintaan tenaga kerja  sektor ICT, khususnya untuk pekerjaan data dan analisa dan pemrograman  di industri fintech,&quot; tutur dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda memproyeksikan, proyek Bukit Algoritma di Sukabumi akan mengalami mangkrak. Saat ini pembangunan Silicon Valley Indonesia itu ditangani langsung oleh BUMN Konstruksi, PT Amarta Karya (Persero).
Sebab utama mangkraknya proyek industri 4.0 ini adalah kesiapan. Menurut, Huda masih ada persoalan mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu oleh pemerintah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bukit Algoritma Jadi Silicon Valley Indonesia? Penuhi Syarat Ini Dulu
&quot;Berbagai permasalahan mendasar harus diperbaiki terlebih dahulu karena sangat berpotensi sekali bukit algoritma mangkrak dan bisa seperti proyek lainnya yang pemanfaatannya tidak maksimal, seperti Bandara Kertajati yang hanya menjadi bengkel pesawat,&quot; ujar Huda dalam webinar, Kamis, (15/4/2021).
Persoalan mendasar yang dimaksud adalah ekosistem ekosistem research and development (R&amp;amp;D) Indonesia yang tercatat masih sangat rendah karena beberapa kondisi yang memberatkan. Pertama adalah proporsi dana R&amp;amp;D terhadap PDB masih sangat rendah. Kedua, produk high-tech Indonesia masih sangat sedikit.
 
Baca juga: RI Bakal Punya 'Silicon Valley' Rp18 Triliun&amp;nbsp;
&quot;Lalu SDM-nya juga belum mencukupi untuk masuk ke dalam industri 4.0,&quot; katanya.Hal ini tampak dari ketimpangan digital yang masih tinggi dalam skill  dan penggunaan produk digital. Selain itu, dia mencatat bahwa inovasi  Indonesia berada di posisi ke-4 terburuk se-ASEAN.
ICOR Indonesia masih berada di angka 6.7, karena modal yang masuk ke  Indonesia semakin tidak efisien dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.  Ongkos inovasi juga semakin mahal.
Dia mencontohkan China dan Vietnam sebagai negara yang berhasil  menjadikan dana R&amp;amp;D sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. &quot;Jumlah  peneliti di Indonesia masih sangat rendah, hanya 216 dari 1 juta  penduduk,&quot;
Sementara itu, hasil paten Indonesia juga rendah dibandingkan dengan  negara ASEAN lainnya. Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura,  proporsi penduduk Indonesia yang ahli dalam pemrograman komputer pun  masih sangat rendah, hanya 3,5 persen dari penduduk muda dan dewasa.
&quot;Indonesia hanya unggul dari Thailand dan Filipina. Maka dari itu,  masih terdapat selisih antara penawaran dan permintaan tenaga kerja  sektor ICT, khususnya untuk pekerjaan data dan analisa dan pemrograman  di industri fintech,&quot; tutur dia.</content:encoded></item></channel></rss>
