<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tren Belanja Online di Awal Ramadhan, Produk Makanan Laris Manis</title><description>Asosiasi e-commerce Indonesia (IdEA) merilis data awal pergerakan tren belanja online di pekan pertama Ramadhan tahun ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis"/><item><title>Tren Belanja Online di Awal Ramadhan, Produk Makanan Laris Manis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis</guid><pubDate>Sabtu 17 April 2021 10:37 WIB</pubDate><dc:creator>Hafid Fuad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis-UrSJ0CibLb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Belanja Online (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/17/455/2396204/tren-belanja-online-di-awal-ramadhan-produk-makanan-laris-manis-UrSJ0CibLb.jpg</image><title>Belanja Online (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash;  Asosiasi e-commerce Indonesia (IdEA) merilis data awal pergerakan tren belanja online di pekan pertama Ramadhan tahun ini.
Kepala Bidang Komunikasi Publik idEA Astrid Warsito mengaku telah menarik data dari berbagai e-Commerce demi melihat tren belanja online pekan pertama puasa ini. Hasilnya menunjukkan secara garis besar terjadi pertumbuhan signifikan pembelian pada beberapa produk seperti; makanan dan kebutuhan harian, MRO (perkakas), pakaian atau baju muslim, serta produk TV &amp;amp; Home audio.
Baca Juga: Harbolnas Ramadhan Gratis Ongkir, Sri Mulyani: Biar Orang Belanja
 
&quot;Secara transaksi rata-rata ada kenaikan transaksi dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan transaksi harian sebelum Ramadhan. Data kami melihat mayoritas data e-commerce, yaitu perpaduan e-retailers dan marketplace,&quot; kata Astrid saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (17/4/2021).
Dia juga memberikan gambaran momen Harbolnas Desember tahun 2020 sebagai acuan tren belanja di masa pandemi. Seperti diketahui, tren belanja online melesat naik sejak COVID-19 merajalela di Indonesia.
Baca Juga: Ma'ruf Amin: Digitalisasi Pasar Pasti Terjadi, Pedagang Harus Belajar Teknologi
 
Hal yang menarik diperhatikan adalah daya tarik utama pembelian terletak pada promo ongkos kirim yang gratis, sebesar 78%. Setelah itu baru promo potongan harga. Sementara untuk penggunaan voucher dan cashback tidak terlalu diminati konsumen.Lalu siapa profil konsumen tersebut?
Ternyata konsumen yang menjadi  pasar terbesar berada pada kalangan milenial. Yakni 36% ada pada rentang  usia 15-24 tahun, serta 34% lainnya pada kelompok umur 25-34 tahun.  Kalangan yang kategori 'dewasa' yakni pada rentang usia 35-44 tahun  hanya berkisar 19% saja. Sisanya merupakan konsumen di kelompok usia 45  tahun ke atas. Kaum pria masih mendominasi pembelian.
Fakta menarik lainnya adalah kenaikan transaksi dari luar Jawa.  Dominasi transaksi di pulau paling padat di Indonesia ini mulai  bergeser. Dari total kenaikan penjualan yakni 28%, mayoritas 97% berasal  dari luar Jawa.
Lalu, produk-produk yang mendominasi minat konsumen, pada dasarnya  sudah bisa diprediksi. Kompetisinya tipis antara produk perawatan diri,  makanan dan minuman, serta kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar  pembelian produk-produk tersebut menyasar buatan lokal. Sumbangsih dari  produk lokal bahkan mencapai Rp5,6 triliun.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash;  Asosiasi e-commerce Indonesia (IdEA) merilis data awal pergerakan tren belanja online di pekan pertama Ramadhan tahun ini.
Kepala Bidang Komunikasi Publik idEA Astrid Warsito mengaku telah menarik data dari berbagai e-Commerce demi melihat tren belanja online pekan pertama puasa ini. Hasilnya menunjukkan secara garis besar terjadi pertumbuhan signifikan pembelian pada beberapa produk seperti; makanan dan kebutuhan harian, MRO (perkakas), pakaian atau baju muslim, serta produk TV &amp;amp; Home audio.
Baca Juga: Harbolnas Ramadhan Gratis Ongkir, Sri Mulyani: Biar Orang Belanja
 
&quot;Secara transaksi rata-rata ada kenaikan transaksi dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan transaksi harian sebelum Ramadhan. Data kami melihat mayoritas data e-commerce, yaitu perpaduan e-retailers dan marketplace,&quot; kata Astrid saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (17/4/2021).
Dia juga memberikan gambaran momen Harbolnas Desember tahun 2020 sebagai acuan tren belanja di masa pandemi. Seperti diketahui, tren belanja online melesat naik sejak COVID-19 merajalela di Indonesia.
Baca Juga: Ma'ruf Amin: Digitalisasi Pasar Pasti Terjadi, Pedagang Harus Belajar Teknologi
 
Hal yang menarik diperhatikan adalah daya tarik utama pembelian terletak pada promo ongkos kirim yang gratis, sebesar 78%. Setelah itu baru promo potongan harga. Sementara untuk penggunaan voucher dan cashback tidak terlalu diminati konsumen.Lalu siapa profil konsumen tersebut?
Ternyata konsumen yang menjadi  pasar terbesar berada pada kalangan milenial. Yakni 36% ada pada rentang  usia 15-24 tahun, serta 34% lainnya pada kelompok umur 25-34 tahun.  Kalangan yang kategori 'dewasa' yakni pada rentang usia 35-44 tahun  hanya berkisar 19% saja. Sisanya merupakan konsumen di kelompok usia 45  tahun ke atas. Kaum pria masih mendominasi pembelian.
Fakta menarik lainnya adalah kenaikan transaksi dari luar Jawa.  Dominasi transaksi di pulau paling padat di Indonesia ini mulai  bergeser. Dari total kenaikan penjualan yakni 28%, mayoritas 97% berasal  dari luar Jawa.
Lalu, produk-produk yang mendominasi minat konsumen, pada dasarnya  sudah bisa diprediksi. Kompetisinya tipis antara produk perawatan diri,  makanan dan minuman, serta kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar  pembelian produk-produk tersebut menyasar buatan lokal. Sumbangsih dari  produk lokal bahkan mencapai Rp5,6 triliun.</content:encoded></item></channel></rss>
