<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Obligasi Indonesia Lesu Tertekan Lonjakan Inflasi AS</title><description>Harga obligasi Indonesia saat ini mengalami pelemahan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as"/><item><title>Harga Obligasi Indonesia Lesu Tertekan Lonjakan Inflasi AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as</guid><pubDate>Senin 19 April 2021 19:19 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as-isQqzV4mIQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">saham (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/19/278/2397248/harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as-isQqzV4mIQ.jpg</image><title>saham (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Harga obligasi Indonesia saat ini mengalami pelemahan. Mayoritas surat berharga membukukan pelemahan harga.

Ekonom PT Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan bahwa beberapa minggu terakhir, obligasi Indonesia mengalami tekanan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tambah Land Bank, Adhi Commuter Properti Cari Utang Rp500 Miliar
Hal ini juga disebabkan karena kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang membiarkan inflasi meninggi tanpa mengubah kebijakan akomodatif mereka.

&quot;Ini lebih ke sentimen, terutama di pricing. Karena kalau kita lihat, yield US Treasury juga meningkat drastis untuk yang tenor 10 tahun, karena mereka mengantisipasi lonjakan inflasi,&quot; ujar Ahmad dalam IDX Channel Live Market Review di Jakarta, Senin(19/4/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indosat Bakal Lunasi Obligasi Rp630 Miliar
Sehingga, yield obligasi di negara-negara berkembang juga mengalami kenaikan. Sementara itu, tren ekonomi China yang sangat membaik juga membuat negara tersebut menjadi tujuan investasi negara-negara berkembang.&quot;Ekonomi yang tinggi, ekspektasi level perusahaan-perusahaan China  juga tinggi, begitu pula labanya akan naik tajam. Jadi prospektif untuk  diisi ekuitasnya,&quot; tambah Ahmad.

Dari sisi pasar fixed income, Ahmad menilai bahwa Indonesia masih  cukup atraktif. Ini lebih mengarah ke bobot alokasi investasi terkait  sentimen dari China.

&quot;Kalau kita lihat, dampaknya (China) terhadap obligasi Indonesia  belum terlalu signifikan. Sentimennya lebih tajam ke AS,&quot; ucapnya.

Dia mengatakan, pasar AS masih menjadi benchmark pasar obligasi,  sehingga kalau yield-nya naik, otomatis yield Indonesia dan  negara-negara berkembang lainnya mengikuti.

&quot;Memang di AS kenaikan inflasinya cukup tajam, bulan Maret itu  sekitar 2,6%. Sedangkan yieldnya masih di sekitar 1,6%-an. Kalau kita  lihat nilai riil yieldnya minus sekitar 1%, artinya kalau mereka  investasi di obligasi, ya daya peluang mereka turun,&quot; tukas Ahmad.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga obligasi Indonesia saat ini mengalami pelemahan. Mayoritas surat berharga membukukan pelemahan harga.

Ekonom PT Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan bahwa beberapa minggu terakhir, obligasi Indonesia mengalami tekanan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tambah Land Bank, Adhi Commuter Properti Cari Utang Rp500 Miliar
Hal ini juga disebabkan karena kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang membiarkan inflasi meninggi tanpa mengubah kebijakan akomodatif mereka.

&quot;Ini lebih ke sentimen, terutama di pricing. Karena kalau kita lihat, yield US Treasury juga meningkat drastis untuk yang tenor 10 tahun, karena mereka mengantisipasi lonjakan inflasi,&quot; ujar Ahmad dalam IDX Channel Live Market Review di Jakarta, Senin(19/4/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indosat Bakal Lunasi Obligasi Rp630 Miliar
Sehingga, yield obligasi di negara-negara berkembang juga mengalami kenaikan. Sementara itu, tren ekonomi China yang sangat membaik juga membuat negara tersebut menjadi tujuan investasi negara-negara berkembang.&quot;Ekonomi yang tinggi, ekspektasi level perusahaan-perusahaan China  juga tinggi, begitu pula labanya akan naik tajam. Jadi prospektif untuk  diisi ekuitasnya,&quot; tambah Ahmad.

Dari sisi pasar fixed income, Ahmad menilai bahwa Indonesia masih  cukup atraktif. Ini lebih mengarah ke bobot alokasi investasi terkait  sentimen dari China.

&quot;Kalau kita lihat, dampaknya (China) terhadap obligasi Indonesia  belum terlalu signifikan. Sentimennya lebih tajam ke AS,&quot; ucapnya.

Dia mengatakan, pasar AS masih menjadi benchmark pasar obligasi,  sehingga kalau yield-nya naik, otomatis yield Indonesia dan  negara-negara berkembang lainnya mengikuti.

&quot;Memang di AS kenaikan inflasinya cukup tajam, bulan Maret itu  sekitar 2,6%. Sedangkan yieldnya masih di sekitar 1,6%-an. Kalau kita  lihat nilai riil yieldnya minus sekitar 1%, artinya kalau mereka  investasi di obligasi, ya daya peluang mereka turun,&quot; tukas Ahmad.</content:encoded></item></channel></rss>
