<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bahan Baku dari Luar Pulau, Industri Pengolahan Masih Terkonsentrasi di Jawa</title><description>Adanya kesenjangan industri pengolahan di sektor makanan dan minuman yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa"/><item><title>Bahan Baku dari Luar Pulau, Industri Pengolahan Masih Terkonsentrasi di Jawa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa</guid><pubDate>Senin 19 April 2021 22:48 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa-KIUeKMGpY8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/19/320/2397408/bahan-baku-dari-luar-pulau-industri-pengolahan-masih-terkonsentrasi-di-jawa-KIUeKMGpY8.jpg</image><title>Rupiah (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Adanya kesenjangan industri pengolahan di sektor makanan dan minuman yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal, bahan baku lebih banyak tersebar di pulau-pulau lain di luar Jawa.

Hal ini dilontarkan Pengurus Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Bidang Kerjasama Luar Negeri, Iwan Winardi setelah mendengar keluhan dari berbagai pelaku usaha seperti di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Menurut mereka, lebih dari 52 persen industri pengolahan masih terdapat di Pulau Jawa.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Covid-19 Ubah Pola Konsumsi, Industri Makanan Jangan Gagap Teknologi
&quot;Teman-teman dari Sumatera mengeluhkan, ada bahan-bahan baik, kopi, ikan dan seterusnya, tetapi hampir 52 persen itu terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara potensi lainnya baik di Sulawesi, Kalimantan, Papua ini masih di bawah 10 persen,&quot; katanya dalam acara 500K Eksportir Baru, Senin (19/4/2021).

Hal tersebut menjadi tantangan ke depan, bagaimana mendistribusikan berbagai produk dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mamang Bakso Boedjangan Balas 'Surat Cinta' Burger King, Begini Isinya
&quot;Jadi infrastruktur untuk pengolahan FnB ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini yang menjadi tantangan men-sharing-kan bahan baku yang tumbuh di semua area di semua pulau termasuk mendistribusikannya,&quot; ujar dia.Iwan menilai, pemerataan infrastruktur segera segera dibangun  pemerintah. Sebab, perkiraan dalam 25 tahun mendatang pendapatan per  kapita Indonesia akan tumbuh 60 kali lipat.

Proyeksi itu didorong oleh pertumbuhan pasar domestik 60 kali lipat  dari yang ada saat ini. Karenanya, dibutuhkan infrastruktur di industri  makanan dan minuman (mamin) yang mampu memproduksi barang konsumsi yang  dapat didistribusikan secara berkelanjutan.

&quot;Growth per kapita 25 tahun yang akan datang diperkirakan akan lompat  sangat banyak hampir 60 kali. Maka market itu akan tumbuh dalam 25  tahun sebanyak 60 size market yang ada secara domestik,&quot; ujar dia.

Industri mamin perlu digenjot untuk memenuhi kebutuhan akan datang,  meskipun saat ini mengalami pertumbuhan yang negatif akibat pandemi  Covid-19. &quot;Consumption growth itu akibat pandemi mengalami penurunan,  kita tumbuh minus, tetapi situasi ini mungkin 100 tahun sekali terjadi.  Kita harus selalu positif situasi ini akan berakhir,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Adanya kesenjangan industri pengolahan di sektor makanan dan minuman yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal, bahan baku lebih banyak tersebar di pulau-pulau lain di luar Jawa.

Hal ini dilontarkan Pengurus Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Bidang Kerjasama Luar Negeri, Iwan Winardi setelah mendengar keluhan dari berbagai pelaku usaha seperti di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Menurut mereka, lebih dari 52 persen industri pengolahan masih terdapat di Pulau Jawa.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Covid-19 Ubah Pola Konsumsi, Industri Makanan Jangan Gagap Teknologi
&quot;Teman-teman dari Sumatera mengeluhkan, ada bahan-bahan baik, kopi, ikan dan seterusnya, tetapi hampir 52 persen itu terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara potensi lainnya baik di Sulawesi, Kalimantan, Papua ini masih di bawah 10 persen,&quot; katanya dalam acara 500K Eksportir Baru, Senin (19/4/2021).

Hal tersebut menjadi tantangan ke depan, bagaimana mendistribusikan berbagai produk dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mamang Bakso Boedjangan Balas 'Surat Cinta' Burger King, Begini Isinya
&quot;Jadi infrastruktur untuk pengolahan FnB ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini yang menjadi tantangan men-sharing-kan bahan baku yang tumbuh di semua area di semua pulau termasuk mendistribusikannya,&quot; ujar dia.Iwan menilai, pemerataan infrastruktur segera segera dibangun  pemerintah. Sebab, perkiraan dalam 25 tahun mendatang pendapatan per  kapita Indonesia akan tumbuh 60 kali lipat.

Proyeksi itu didorong oleh pertumbuhan pasar domestik 60 kali lipat  dari yang ada saat ini. Karenanya, dibutuhkan infrastruktur di industri  makanan dan minuman (mamin) yang mampu memproduksi barang konsumsi yang  dapat didistribusikan secara berkelanjutan.

&quot;Growth per kapita 25 tahun yang akan datang diperkirakan akan lompat  sangat banyak hampir 60 kali. Maka market itu akan tumbuh dalam 25  tahun sebanyak 60 size market yang ada secara domestik,&quot; ujar dia.

Industri mamin perlu digenjot untuk memenuhi kebutuhan akan datang,  meskipun saat ini mengalami pertumbuhan yang negatif akibat pandemi  Covid-19. &quot;Consumption growth itu akibat pandemi mengalami penurunan,  kita tumbuh minus, tetapi situasi ini mungkin 100 tahun sekali terjadi.  Kita harus selalu positif situasi ini akan berakhir,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
