<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi China Meroket 18,3% Dongkrak Saham-Saham Batu Bara</title><description>Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal satu tahun 2021 naik sebesar 18,3%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara"/><item><title>Ekonomi China Meroket 18,3% Dongkrak Saham-Saham Batu Bara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara</guid><pubDate>Rabu 21 April 2021 12:23 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara-AfXbN7oARG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Batu Bara (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/21/278/2398304/ekonomi-china-meroket-18-3-dongkrak-saham-saham-batu-bara-AfXbN7oARG.jpg</image><title>Batu Bara (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal satu tahun 2021 naik sebesar 18,3%. Hal ini ternyata menjadi katalis positif bagi komoditas batubara. Sehingga, saham-saham berbasis batubara pun mulai dikoleksi oleh investor maupun trader pasar modal.

Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengungkapkan, saat ini memang China adalah pengguna batubara terbesar di dunia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: MNC Sekuritas: Sektor Komoditas Topang IHSG Jelang Akhir Pekan
&amp;ldquo;Ketika ekonomi Tiongkok bergerak naik ke atas, memang diperkirakan demand terhadap komoditas itu bergerak naik ke atas. Bahkan, beberapa lembaga intenasional menyatakan bahwa harga komoditas ini akan memasuki grand supercycle yaitu kenaikan yang sangat tinggi,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara Market Opening IDX Channel, Rabu (21/4/2021).

Hans mengatakan, diketahui harga komoditas sempat mencapai puncaknya di tahun 2012 dan 2013. Lalu, seiring dengan kenaikan tersebut harga komoditas cenderung turun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: IHSG Masih Tunjukan Sinyal Negatif, Ini Rekomendasi Sahamnya
&amp;ldquo;Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi dunia dalam periode hampir satu dekade yaitu dari 2012 &amp;ndash; 2021, ini cenderung melemah. Dan menyebabkan komoditas termasuk batubara ga terlalu tinggi,&amp;rdquo; kata dia.Namun, kata dia, saat ini keadaan dunia sudah berubah dan Tiongkok  memimpin kenaikan dari pertumbuhan ekonomi. Hans menuturkan, hal  tersebut terjadi karena China sudah menang dari pandemi Covid-19.

&amp;ldquo;Di kuartal satu dan dua mereka sudah menang dari pandemi Covid  karena ekonominya recovery dengan cepat. Pada kuartal satu tahun lalu  memang mereka sangat jelek ekonominya, karena lockdown yang ketat  dilakukan. Akan tetapi, di kuartal sekarang dia udah recovery,&amp;rdquo; ucap  Direktur PT Ekuator Swarna Investama tersebut.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal satu tahun 2021 naik sebesar 18,3%. Hal ini ternyata menjadi katalis positif bagi komoditas batubara. Sehingga, saham-saham berbasis batubara pun mulai dikoleksi oleh investor maupun trader pasar modal.

Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengungkapkan, saat ini memang China adalah pengguna batubara terbesar di dunia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: MNC Sekuritas: Sektor Komoditas Topang IHSG Jelang Akhir Pekan
&amp;ldquo;Ketika ekonomi Tiongkok bergerak naik ke atas, memang diperkirakan demand terhadap komoditas itu bergerak naik ke atas. Bahkan, beberapa lembaga intenasional menyatakan bahwa harga komoditas ini akan memasuki grand supercycle yaitu kenaikan yang sangat tinggi,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara Market Opening IDX Channel, Rabu (21/4/2021).

Hans mengatakan, diketahui harga komoditas sempat mencapai puncaknya di tahun 2012 dan 2013. Lalu, seiring dengan kenaikan tersebut harga komoditas cenderung turun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: IHSG Masih Tunjukan Sinyal Negatif, Ini Rekomendasi Sahamnya
&amp;ldquo;Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi dunia dalam periode hampir satu dekade yaitu dari 2012 &amp;ndash; 2021, ini cenderung melemah. Dan menyebabkan komoditas termasuk batubara ga terlalu tinggi,&amp;rdquo; kata dia.Namun, kata dia, saat ini keadaan dunia sudah berubah dan Tiongkok  memimpin kenaikan dari pertumbuhan ekonomi. Hans menuturkan, hal  tersebut terjadi karena China sudah menang dari pandemi Covid-19.

&amp;ldquo;Di kuartal satu dan dua mereka sudah menang dari pandemi Covid  karena ekonominya recovery dengan cepat. Pada kuartal satu tahun lalu  memang mereka sangat jelek ekonominya, karena lockdown yang ketat  dilakukan. Akan tetapi, di kuartal sekarang dia udah recovery,&amp;rdquo; ucap  Direktur PT Ekuator Swarna Investama tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
