<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Naik 1%</title><description>Harga minyak dunia naik lebih dari 1% pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1"/><item><title>Harga Minyak Dunia Naik 1%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1</guid><pubDate>Selasa 04 Mei 2021 08:07 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1-Bte9NHJkxr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kilang Minyak (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/04/320/2405178/harga-minyak-dunia-naik-1-Bte9NHJkxr.jpg</image><title>Kilang Minyak (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia naik lebih dari 1% pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika angka ekonomi China dan tingkat vaksinasi di Amerika Serikat menunjukkan rebound yang kuat mengangkat harapan permintaan yang lebih besar di dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei terkerek 80 sen atau 1,2%, menjadi ditutup pada USD67,56 per barel. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Juni bertambah 91 sen atau 1,4%, menjadi menetap di USD64,49 per barel, dilansir dari Antara, Selasa (4/5/2021).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Imbas Melemahnya Impor Jepang
 
Namun, investor tetap waspada, atas tingkat infeksi yang memecahkan rekor di India, importir bahan bakar terbesar ketiga di dunia, bersama dengan pasokan minyak OPEC+ yang lebih tinggi.
Amerika Serikat dan China, dua konsumen minyak teratas dunia, diharapkan dapat mendorong pemulihan permintaan dari pandemi virus corona.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Ditopang Berkurangnya Pasokan Libya
 
&quot;Bahkan ketika kasus COVID-19 mencapai rekor tertinggi minggu ini, harga minyak telah bergerak lebih tinggi karena meningkatnya jumlah vaksinasi di pasar negara-negara maju,&quot; kata laporan BofA Global Research. &amp;ldquo;Data terbaru menunjukkan keefektifan tinggi vaksin dalam mencegah infeksi dan kematian.&amp;rdquo;
Sekitar sepertiga dari penduduk AS telah divaksinasi penuh, pelacak virus corona Reuters menunjukkan.Sementara itu, impor minyak mentah China mencatat rekor musiman  rata-rata di Februari dan Maret dari peningkatan penjualan mobil,  pemulihan perjalanan lokal dan latar belakang industri yang kuat, kata  BofA Global Research.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS. Indeks  dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya,  turun 0,37% menjadi 90,9487 pada akhir perdagangan Senin (3/5). Secara  historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.
Namun, beberapa bagian dunia seperti India mengalami peningkatan  kasus virus corona. India pada Senin (3/5) melaporkan lebih dari 300.000  kasus baru virus corona selama 12 hari berturut-turut. Gelombang baru  virus telah menyebabkan penurunan penjualan bahan bakar pada April.
&quot;Kegelisahan India saat ini menghentikan harga minyak dari kenaikan lebih lanjut,&quot; kata analis Rystad Energy Louise Dickson.
Brent telah menguat hampir 30% tahun ini, pulih dari posisi terendah  bersejarah tahun lalu berkat rekor pemotongan pasokan oleh Organisasi  Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama dikenal  sebagai OPEC+.
Namun, OPEC+ minggu lalu memutuskan tetap berpegang pada rencana  untuk meningkatkan pasokan sedikit mulai 1 Mei dan produksi OPEC naik  pada April, dipimpin oleh dorongan dari Iran, survei Reuters menemukan.
Teheran dan kekuatan-kekuatan dunia sedang mengadakan pembicaraan  untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang dapat menambah  pasokan minyak global jika kesepakatan tercapai. Kepala negosiator  nuklir Iran pada Sabtu (1/5) mengatakan bahwa Teheran mengharapkan  sanksi AS terhadap minyak, bank, dan sebagian besar individu serta  institusi akan dicabut.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia naik lebih dari 1% pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika angka ekonomi China dan tingkat vaksinasi di Amerika Serikat menunjukkan rebound yang kuat mengangkat harapan permintaan yang lebih besar di dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei terkerek 80 sen atau 1,2%, menjadi ditutup pada USD67,56 per barel. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Juni bertambah 91 sen atau 1,4%, menjadi menetap di USD64,49 per barel, dilansir dari Antara, Selasa (4/5/2021).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Imbas Melemahnya Impor Jepang
 
Namun, investor tetap waspada, atas tingkat infeksi yang memecahkan rekor di India, importir bahan bakar terbesar ketiga di dunia, bersama dengan pasokan minyak OPEC+ yang lebih tinggi.
Amerika Serikat dan China, dua konsumen minyak teratas dunia, diharapkan dapat mendorong pemulihan permintaan dari pandemi virus corona.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Ditopang Berkurangnya Pasokan Libya
 
&quot;Bahkan ketika kasus COVID-19 mencapai rekor tertinggi minggu ini, harga minyak telah bergerak lebih tinggi karena meningkatnya jumlah vaksinasi di pasar negara-negara maju,&quot; kata laporan BofA Global Research. &amp;ldquo;Data terbaru menunjukkan keefektifan tinggi vaksin dalam mencegah infeksi dan kematian.&amp;rdquo;
Sekitar sepertiga dari penduduk AS telah divaksinasi penuh, pelacak virus corona Reuters menunjukkan.Sementara itu, impor minyak mentah China mencatat rekor musiman  rata-rata di Februari dan Maret dari peningkatan penjualan mobil,  pemulihan perjalanan lokal dan latar belakang industri yang kuat, kata  BofA Global Research.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS. Indeks  dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya,  turun 0,37% menjadi 90,9487 pada akhir perdagangan Senin (3/5). Secara  historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.
Namun, beberapa bagian dunia seperti India mengalami peningkatan  kasus virus corona. India pada Senin (3/5) melaporkan lebih dari 300.000  kasus baru virus corona selama 12 hari berturut-turut. Gelombang baru  virus telah menyebabkan penurunan penjualan bahan bakar pada April.
&quot;Kegelisahan India saat ini menghentikan harga minyak dari kenaikan lebih lanjut,&quot; kata analis Rystad Energy Louise Dickson.
Brent telah menguat hampir 30% tahun ini, pulih dari posisi terendah  bersejarah tahun lalu berkat rekor pemotongan pasokan oleh Organisasi  Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama dikenal  sebagai OPEC+.
Namun, OPEC+ minggu lalu memutuskan tetap berpegang pada rencana  untuk meningkatkan pasokan sedikit mulai 1 Mei dan produksi OPEC naik  pada April, dipimpin oleh dorongan dari Iran, survei Reuters menemukan.
Teheran dan kekuatan-kekuatan dunia sedang mengadakan pembicaraan  untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang dapat menambah  pasokan minyak global jika kesepakatan tercapai. Kepala negosiator  nuklir Iran pada Sabtu (1/5) mengatakan bahwa Teheran mengharapkan  sanksi AS terhadap minyak, bank, dan sebagian besar individu serta  institusi akan dicabut.</content:encoded></item></channel></rss>
