<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Domestik Dihidupkan Bakal Buat Indonesia Survive dari Covid-19</title><description>Ekonomi domestik bisa membantu Indonesia bertahan di tengah pandemi Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19"/><item><title>Ekonomi Domestik Dihidupkan Bakal Buat Indonesia Survive dari Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19</guid><pubDate>Selasa 04 Mei 2021 22:07 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19-mrpJS4rmKi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi RI (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/04/320/2405581/ekonomi-domestik-dihidupkan-bakal-buat-indonesia-survive-dari-covid-19-mrpJS4rmKi.jpg</image><title>Ekonomi RI (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ekonomi domestik bisa membantu Indonesia bertahan di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, porsi ekspor impor RI ke PDB masih rendah.

&amp;ldquo;Ekonomi kita orientasinya adalah domestik ekonomi. Data menunjukkan porsi ekspor impor kita terhadap PDB rendah, jadi kalau kita bisa menghidupkan ekonomi domestik kita maka kita akan cukup survive melewati masa pandemi ini,&amp;rdquo; kata Ekonom senior CORE Indonesia Hendri Saparani, Jakarta, Selasa (4/5/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mimpi Indonesia Jadi Negara Maju Sangat Sulit Imbas Covid-19
Namun yang menjadi kendala, lanjut dia, seberapa besar pengaruh insentif-insentif yang diberikan pemerintah untuk menggerakkan domestik ekonomi.

Menurut data CORE, mobilitas orang sudah terjadi tetapi tidak diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang masih jauh di bawah kondisi pra-pandemi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Sebut Tantangan Pemulihan Ekonomi 2022 Masih Berat
&amp;ldquo;Indeks penjualan riil masih tajam negatifnya, artinya konsumsi rumah tangga belum mendorong penjualan ritel atau produk yang diminati masyarakat,&amp;rdquo; ujar dia.Hal tersebut disebabkan karena kelas menengah atas yang 82 persen  berkontribusi terhadap konsumsi rumah tangga belum banyak melakukan  aktivitas ekonomi. Sedangkan masyarakat golongan ke bawah masih sangat  bergantung dengan berbagai program bantuan sosial yang diberikan  pemerintah.

Kemudian sebanyak 2,9 juta orang kehilangan pekerjaan saat pandemi  sehingga mereka tidak punya tambahan pendapatan untuk berbelanja.

&amp;ldquo;Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia karena 56 persen  dari ekonomi kita adalah konsumsi. Jadi bagaimana kita bisa menggerakkan  konsumsi kembali,&amp;rdquo; katanya.

Hendri Saparani mengatakan APBN sebagai domestik ekonomi, bisa  menjadi kunci penyangga pertumbuhan ekonomi bila realisasinya lebih  cepat dan didesain dengan tepat. Selain itu, diperlukan sejumlah  terobosan kebijakan agar pertumbuhan ekonomi di kuartal II hingga IV  bisa di atas 5 persen.

&amp;ldquo;Yang digelontorkan pemerintah (dana PEN) tidak sedikit, tetapi tidak  diintegrasikan sehingga multiplier effectnya menjadi terbatas. Kalau  kita lakukan beberapa terobosan kita akan mencapai di atas 5 persen  seperti yang diharapkan pemerintah,&amp;rdquo; kata nya.

Adapun Presiden Joko Widodo meminta seluruh jajaran kabinet  merealisasikan pertumbuhan ekonomi di level 7 persen pada kuartal II  2021, naik signifikan dibandingkan kuartal II 2020 yang minus 5,32  persen.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonomi domestik bisa membantu Indonesia bertahan di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, porsi ekspor impor RI ke PDB masih rendah.

&amp;ldquo;Ekonomi kita orientasinya adalah domestik ekonomi. Data menunjukkan porsi ekspor impor kita terhadap PDB rendah, jadi kalau kita bisa menghidupkan ekonomi domestik kita maka kita akan cukup survive melewati masa pandemi ini,&amp;rdquo; kata Ekonom senior CORE Indonesia Hendri Saparani, Jakarta, Selasa (4/5/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mimpi Indonesia Jadi Negara Maju Sangat Sulit Imbas Covid-19
Namun yang menjadi kendala, lanjut dia, seberapa besar pengaruh insentif-insentif yang diberikan pemerintah untuk menggerakkan domestik ekonomi.

Menurut data CORE, mobilitas orang sudah terjadi tetapi tidak diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang masih jauh di bawah kondisi pra-pandemi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Sebut Tantangan Pemulihan Ekonomi 2022 Masih Berat
&amp;ldquo;Indeks penjualan riil masih tajam negatifnya, artinya konsumsi rumah tangga belum mendorong penjualan ritel atau produk yang diminati masyarakat,&amp;rdquo; ujar dia.Hal tersebut disebabkan karena kelas menengah atas yang 82 persen  berkontribusi terhadap konsumsi rumah tangga belum banyak melakukan  aktivitas ekonomi. Sedangkan masyarakat golongan ke bawah masih sangat  bergantung dengan berbagai program bantuan sosial yang diberikan  pemerintah.

Kemudian sebanyak 2,9 juta orang kehilangan pekerjaan saat pandemi  sehingga mereka tidak punya tambahan pendapatan untuk berbelanja.

&amp;ldquo;Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia karena 56 persen  dari ekonomi kita adalah konsumsi. Jadi bagaimana kita bisa menggerakkan  konsumsi kembali,&amp;rdquo; katanya.

Hendri Saparani mengatakan APBN sebagai domestik ekonomi, bisa  menjadi kunci penyangga pertumbuhan ekonomi bila realisasinya lebih  cepat dan didesain dengan tepat. Selain itu, diperlukan sejumlah  terobosan kebijakan agar pertumbuhan ekonomi di kuartal II hingga IV  bisa di atas 5 persen.

&amp;ldquo;Yang digelontorkan pemerintah (dana PEN) tidak sedikit, tetapi tidak  diintegrasikan sehingga multiplier effectnya menjadi terbatas. Kalau  kita lakukan beberapa terobosan kita akan mencapai di atas 5 persen  seperti yang diharapkan pemerintah,&amp;rdquo; kata nya.

Adapun Presiden Joko Widodo meminta seluruh jajaran kabinet  merealisasikan pertumbuhan ekonomi di level 7 persen pada kuartal II  2021, naik signifikan dibandingkan kuartal II 2020 yang minus 5,32  persen.</content:encoded></item></channel></rss>
