<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Kuartal I-2021 Diramal Minus 0,8%, Konsumsi Rumah Tangga Masih Kontraksi</title><description>Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021  diperkirakan minus 0,87% (year on  year /yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat minus 2,19% yoy.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi"/><item><title>Ekonomi RI Kuartal I-2021 Diramal Minus 0,8%, Konsumsi Rumah Tangga Masih Kontraksi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi</guid><pubDate>Rabu 05 Mei 2021 08:04 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi-uaiTeX5OmA.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/320/2405785/ekonomi-ri-kuartal-i-2021-diramal-minus-0-8-konsumsi-rumah-tangga-masih-kontraksi-uaiTeX5OmA.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021  diperkirakan minus 0,87% (year on year /yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat minus 2,19% yoy.
Ekonom Bank Permata Josua Parde mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran minus 1,0% yoy. Kontraksi pada kuartal 1 2021 tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi sebesar minus 3,61% yoy.
&quot;Semakin terbatasnya kontraksi dipengaruhi oleh percepatan belanja pemerintah pusat terutama belanja bansos, belanja modal dan belanja barang,&quot; kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/5/2021).
Baca Juga: Maaf Pak Jokowi, Ekonomi RI Kuartal I-2021 Kayaknya Masih Minus
 
Selain itu pemerintah melakukan beberapa stimulus kebijakan seperti relaksasi PPN perumahan, relakasasi PPnBM kendaraan bermotor yang dikombinasikan dengan pelonggaran kebijakan DP kendaraan bermotor dan kebijakan LTV dari Bank Indonesia.
Data yang menunjukkan adanya perbaikan dari konsumsi rumah tangga di antaranya penjualan ritel, yang terkontraksi -17,1% yoy, membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal 2020  sebesar -19,2% yoy.
Baca Juga: Bicara Ekonomi Hijau, Jokowi: Indonesia Adalah Negara Terkaya
 
Dari sisi Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), terlihat bahwa kontraksinya semakin terbatas, di mana pada kuartal I, tercatat IKK terkontrkasi sebesar -17,9%yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi pada kuartal keempat 2020, sebesar -23,6% yoy.
Dari konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -21,1%yoy, sedikit membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal IV  sebesar -41,8%yoy.
&quot;Perbaikan penjualan mobil ditopang oleh pertumbuhan di bulan Maret 2021, di mana kebijakan relaksasi PPNBm serta pelonggaran kebijakan makroprudensial BI. Dari sisi penjualan motor, kontraksinya pun menurun bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di mana penjualan motor Januari- Maret 2021 terkontraksi -17,7%yoy dibandingkan dengan -49,8%yoy di Oktober sampai Desember 2020,&quot; katanya.Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal IV tahun 2020  tercatat tumbuh positif sebesar 14,6%yoy, meningkat dibandingkan dengan  kuartal sebelumnya yang masih berkontraksi sebesar -14,8% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada 1Q21 diperkirakan masih mengalami  kontraksi di kisaran -2%yoy hingga -3%yoy, membaik dari kuartal  sebelumnya yang tercatat -6,15%. Perbaikan ini dapat terindikasi  pertumbuhan konsumsi semen yang terkontraksi -0,2%yoy pada Januari Maret   dari kuartal sebelumnya sebesar -13,8%yoy.
&quot;Masih kontraksinya konsumsi semen mengindikasikan bahwa investasi  bangunan masih terkontraksi dibanding tahun lalu, meskipun kontraksinya  tidak sedalam kuartal IV 2020,&quot; katanya.
Selain itu, investasi non-bangunan juga diperkirakan melambat  dibandingkan dengan periode pra-pandemi, terindikasi dari impor barang  modal pada kuartal I 2021 terindikasi dari impor barang modal yang sudah  tumbuh 11,5%yoy.
&quot;Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung tumbuh positif sejalan  dengan kenaikan belanja pemerintah pada Jan-Mar&amp;rsquo;21 sebesar 15,61%yoy,&quot;  imbuhnya.
Sementara  itu, surplus neraca perdagangan pada kuartal 1  yang  menurun dibandingkan kuartal sebelumnya mengindikasikan bahwa adanya  penurunan net ekspor, yang didorong oleh penguatan impor secara umum.  Meskipun demikian, volume permintaan ekspor cenderung meningkat sejalan  dengan pemulihan aktivitas perekonomian global. Oleh sebab itu, net  ekspor juga diperkirakan tumbuh positif.
&quot;Dengan indikator tersebut, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi  pada kuartal I  akan jauh lebih membaik bila dibandingkan dengan kuartal  IV 2020, dan memberi sinyal awal pemulihan ekonomi, ditopang oleh  investasi dan juga konsumsi rumah tangga meskipun laju tahunan dari dua  komponen tersebut masih terkontraksi,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021  diperkirakan minus 0,87% (year on year /yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat minus 2,19% yoy.
Ekonom Bank Permata Josua Parde mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran minus 1,0% yoy. Kontraksi pada kuartal 1 2021 tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi sebesar minus 3,61% yoy.
&quot;Semakin terbatasnya kontraksi dipengaruhi oleh percepatan belanja pemerintah pusat terutama belanja bansos, belanja modal dan belanja barang,&quot; kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/5/2021).
Baca Juga: Maaf Pak Jokowi, Ekonomi RI Kuartal I-2021 Kayaknya Masih Minus
 
Selain itu pemerintah melakukan beberapa stimulus kebijakan seperti relaksasi PPN perumahan, relakasasi PPnBM kendaraan bermotor yang dikombinasikan dengan pelonggaran kebijakan DP kendaraan bermotor dan kebijakan LTV dari Bank Indonesia.
Data yang menunjukkan adanya perbaikan dari konsumsi rumah tangga di antaranya penjualan ritel, yang terkontraksi -17,1% yoy, membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal 2020  sebesar -19,2% yoy.
Baca Juga: Bicara Ekonomi Hijau, Jokowi: Indonesia Adalah Negara Terkaya
 
Dari sisi Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), terlihat bahwa kontraksinya semakin terbatas, di mana pada kuartal I, tercatat IKK terkontrkasi sebesar -17,9%yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi pada kuartal keempat 2020, sebesar -23,6% yoy.
Dari konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -21,1%yoy, sedikit membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal IV  sebesar -41,8%yoy.
&quot;Perbaikan penjualan mobil ditopang oleh pertumbuhan di bulan Maret 2021, di mana kebijakan relaksasi PPNBm serta pelonggaran kebijakan makroprudensial BI. Dari sisi penjualan motor, kontraksinya pun menurun bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di mana penjualan motor Januari- Maret 2021 terkontraksi -17,7%yoy dibandingkan dengan -49,8%yoy di Oktober sampai Desember 2020,&quot; katanya.Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal IV tahun 2020  tercatat tumbuh positif sebesar 14,6%yoy, meningkat dibandingkan dengan  kuartal sebelumnya yang masih berkontraksi sebesar -14,8% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada 1Q21 diperkirakan masih mengalami  kontraksi di kisaran -2%yoy hingga -3%yoy, membaik dari kuartal  sebelumnya yang tercatat -6,15%. Perbaikan ini dapat terindikasi  pertumbuhan konsumsi semen yang terkontraksi -0,2%yoy pada Januari Maret   dari kuartal sebelumnya sebesar -13,8%yoy.
&quot;Masih kontraksinya konsumsi semen mengindikasikan bahwa investasi  bangunan masih terkontraksi dibanding tahun lalu, meskipun kontraksinya  tidak sedalam kuartal IV 2020,&quot; katanya.
Selain itu, investasi non-bangunan juga diperkirakan melambat  dibandingkan dengan periode pra-pandemi, terindikasi dari impor barang  modal pada kuartal I 2021 terindikasi dari impor barang modal yang sudah  tumbuh 11,5%yoy.
&quot;Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung tumbuh positif sejalan  dengan kenaikan belanja pemerintah pada Jan-Mar&amp;rsquo;21 sebesar 15,61%yoy,&quot;  imbuhnya.
Sementara  itu, surplus neraca perdagangan pada kuartal 1  yang  menurun dibandingkan kuartal sebelumnya mengindikasikan bahwa adanya  penurunan net ekspor, yang didorong oleh penguatan impor secara umum.  Meskipun demikian, volume permintaan ekspor cenderung meningkat sejalan  dengan pemulihan aktivitas perekonomian global. Oleh sebab itu, net  ekspor juga diperkirakan tumbuh positif.
&quot;Dengan indikator tersebut, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi  pada kuartal I  akan jauh lebih membaik bila dibandingkan dengan kuartal  IV 2020, dan memberi sinyal awal pemulihan ekonomi, ditopang oleh  investasi dan juga konsumsi rumah tangga meskipun laju tahunan dari dua  komponen tersebut masih terkontraksi,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
