<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Masih Minus, Insentif Pajak Mobil Mewah Dinilai Tak Mampu Dongkrak Konsumsi</title><description>Indef menilai berbagai kebijakan pemerintah dalam mendorong konsumsi  masyarakat sepanjang awal 2021 belum menunjukkan hasil signifikan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi"/><item><title>Ekonomi RI Masih Minus, Insentif Pajak Mobil Mewah Dinilai Tak Mampu Dongkrak Konsumsi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi</guid><pubDate>Rabu 05 Mei 2021 21:44 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi-yj1HGD2RWf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mobil (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/320/2406274/ekonomi-ri-masih-minus-insentif-pajak-mobil-mewah-dinilai-tak-mampu-dongkrak-konsumsi-yj1HGD2RWf.jpg</image><title>Mobil (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai berbagai kebijakan pemerintah dalam mendorong konsumsi masyarakat sepanjang awal 2021 belum menunjukkan hasil signifikan.

Hal itu disampaikan langsung oleh Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad. Menurutnya belum menunjukkan hasil signifikan itu terlihat dari capaian konsumsi rumah tangga yang masih kontraksi 2,23%.
&amp;nbsp;Baca juga:  Masih Ada Kesempatan Jadi CPNS, Yuk Daftar di Sini
Kemudian, lanjut dia salah satu insentif yang tidak terlalu memberikan dampak bagi konsumsi rumah tangga adalah pembebasan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM). Di mana insentif ini sudah digulirkan sejak awal tahun.

&quot;Maka itu beberapa insentif perlu dipertanyakan. Pertama untuk kelompok menengah ke atas ternyata tidak mendorong konsumsi jauh lebih tinggi. Terutama sejak pembebasan PPnBM selama 3 bulan di awal tahun kemarin itu,&quot; ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/5/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pendaftaran CPNS Jalur Sekolah Kedinasan Kemenhub Diperpanjang hingga 4 Mei 2021
Dia juga menuturkan, konsumsi Rumah Tangga (RT) belum menunjukkan kinerja positif. Dan daya beli masyarakat tercatat masih melemah bahkan apabila dibandingkan setelah dan sebelum pandemi Covid.&quot;Jadi daya beli kita itu masih rendah. Ini bahkan lebih lebih rendah  dibandingkan kondisi sebelum Covid. Namun apabila kita lihat dulu  sebelum Covid pada bulan Maret itu masih mencapai 2,62 bahkan hampir 3  begitu inflasi kita ini salah satu indikator mengukur daya beli,&quot; ungkap  dia.

Sebelumnya, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal I 2021 minus 0,74%  secara year on year (yoy). Sedangkan secara quartal per quartal (q to q)  0,96%. Indonesia pun masih resesi.</description><content:encoded>JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai berbagai kebijakan pemerintah dalam mendorong konsumsi masyarakat sepanjang awal 2021 belum menunjukkan hasil signifikan.

Hal itu disampaikan langsung oleh Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad. Menurutnya belum menunjukkan hasil signifikan itu terlihat dari capaian konsumsi rumah tangga yang masih kontraksi 2,23%.
&amp;nbsp;Baca juga:  Masih Ada Kesempatan Jadi CPNS, Yuk Daftar di Sini
Kemudian, lanjut dia salah satu insentif yang tidak terlalu memberikan dampak bagi konsumsi rumah tangga adalah pembebasan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM). Di mana insentif ini sudah digulirkan sejak awal tahun.

&quot;Maka itu beberapa insentif perlu dipertanyakan. Pertama untuk kelompok menengah ke atas ternyata tidak mendorong konsumsi jauh lebih tinggi. Terutama sejak pembebasan PPnBM selama 3 bulan di awal tahun kemarin itu,&quot; ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/5/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pendaftaran CPNS Jalur Sekolah Kedinasan Kemenhub Diperpanjang hingga 4 Mei 2021
Dia juga menuturkan, konsumsi Rumah Tangga (RT) belum menunjukkan kinerja positif. Dan daya beli masyarakat tercatat masih melemah bahkan apabila dibandingkan setelah dan sebelum pandemi Covid.&quot;Jadi daya beli kita itu masih rendah. Ini bahkan lebih lebih rendah  dibandingkan kondisi sebelum Covid. Namun apabila kita lihat dulu  sebelum Covid pada bulan Maret itu masih mencapai 2,62 bahkan hampir 3  begitu inflasi kita ini salah satu indikator mengukur daya beli,&quot; ungkap  dia.

Sebelumnya, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal I 2021 minus 0,74%  secara year on year (yoy). Sedangkan secara quartal per quartal (q to q)  0,96%. Indonesia pun masih resesi.</content:encoded></item></channel></rss>
