<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anjuran Rasulullah Berlaku Adil Kepada Karyawan, Memberi Pekerjaan Sesuai Kompetensi dan Kemampuan</title><description>Dalam dunia usaha yang melakukan kegiatan berdasarkan untung-rugi, sikap  ikhlas mungkin akan dianggap sebagai sikap yang tidak rasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/07/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/07/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan"/><item><title>Anjuran Rasulullah Berlaku Adil Kepada Karyawan, Memberi Pekerjaan Sesuai Kompetensi dan Kemampuan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/07/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/07/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan</guid><pubDate>Jum'at 07 Mei 2021 03:31 WIB</pubDate><dc:creator>Fariza Rizky Ananda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/04/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan-NsbU7s8nJr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/04/455/2405186/anjuran-rasulullah-berlaku-adil-kepada-karyawan-memberi-pekerjaan-sesuai-kompetensi-dan-kemampuan-NsbU7s8nJr.jpg</image><title>Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ikhlas diartikan sebagai sebuah sikap yang didasari oleh ketulusan hati. Dapat dikatakan bahwa ikhlas adalah sebuah perbuatan yang tidak mengharapkan adanya balasan atau timbal balik. Dalam dunia usaha yang melakukan kegiatan berdasarkan untung-rugi, sikap ikhlas mungkin akan dianggap sebagai sebuah sikap yang tidak rasional, karena bagaimana mungkin pengusaha melakukan kegiatan tanpa mengharapkan adanya timbal balik materi.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Namun, bisa jadi yang dianggap irasional oleh orang yang berprinsip keuntungan adalah sesuatu yang rasional bagi orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai etis dalam kehidupan. Pengusaha dengan sikap ikhlas ini bisa mengaplikasikan sikap adil dalam kegiatan berbisnisnya.
Dalam buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Jumat (7/5/2021), salah satu contoh penggunaan sikap ikhlas dalam berbisnis adalah dalam menetapkan target perusahaan.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Pengusaha harus mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki perusahaannya sebelum menentukan target. Jika pengusaha memaksakan kehendak, karyawannya akan mengalami tekanan yang berat dan akhirnya bekerja melebihi kemampuannya. Lalu ketika perusahaan mengalami kegagalan atau tidak mencapai target yang telah ditetapkan, yang terjadi adalah ketegangan di antara karyawan mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab.
Namun bukan berarti pengusaha tidak boleh memasang target yang tinggi, tidak perlu bekerja terlalu keras dan bersabar dengan bersikap menerima apa adanya. Sikap ikhlas bukan berarti menerima tanpa berusaha atau dengan usaha seadanya.
Ikhlas adalah sikap penyadaran dan penyerahan diri setelah perjuangan yang maksimal. Ketika semua orang di perusahaan punya sikap ikhlas, ketika tidak mencapai target yang terjadi bukan ketegangan tapi sebuah bentuk penyerahan diri. Ikhlas akan melahirkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan dalam bekerja.Selain itu, membebankan pekerjaan yang berlebihan kepada bawahan  sangat tidak diperkenankan untuk dilakukan. Apabila seseorang telah  menerima tekanan yang berlebihan sehingga mengakibatkan dampak buruk  padanya berarti dia telah diperlakukan secara tidak adil.
Allah SWT berfirman, &amp;ldquo;Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil  dan berbuat ikhsan, pemberian kepada kaum kerabat, dan Dia melarang  perbuatan keji, kemungkaran, dan penganiayaan. Dia memberi pengajaran  kepada kamu agar kamu selalu ingat&amp;rdquo; (QS. An-Nahl (16): 90).
Sesungguhnya keadilan adalah sebuah keadaan menguntungkan dan  menyenangkan pada kedua belah pihak. Seorang atasan harus bersikap adil  kepada bawahannya dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan  kompetensinya masing-masing, sedang bawahan pun harus adil dalam  menyelesaikan target yang ditugaskan oleh perusahaan.
Kalau atasan memberikan tugas yang di luar kemampuan bawahan, maka  atasan harus ikut membantunya. Dari Ma'rur bin Suwaid Ra, berkata  Rasulullah SAW pada Abu Dzar, &quot;Janganlah kamu beri tugas melebihi batas  kemampuan mereka (hamba sahaya). Jika akan kamu tugaskan juga, hendaklah  kamu bantu dia.&quot; (HR. Muslim).
Sikap ini pun jangan sampai berlebihan sehingga menunjukkan bahwa  atasan tidak percaya pada kemampuan bawahan. Sikap perusahaan pun jangan  menganak-emaskan seorang karyawan hanya karena kedudukan atau adanya  hubungan kekeluargaan dengan pihak-pihak tertentu.
Sikap adil dalam perusahaan akan memicu semua orang untuk melakukan  yang terbaik dan perusahaan pun akan menilai secara objektif dan  memberikan reward (penghargaan) maupun punishment (hukuman) yang  sebanding.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ikhlas diartikan sebagai sebuah sikap yang didasari oleh ketulusan hati. Dapat dikatakan bahwa ikhlas adalah sebuah perbuatan yang tidak mengharapkan adanya balasan atau timbal balik. Dalam dunia usaha yang melakukan kegiatan berdasarkan untung-rugi, sikap ikhlas mungkin akan dianggap sebagai sebuah sikap yang tidak rasional, karena bagaimana mungkin pengusaha melakukan kegiatan tanpa mengharapkan adanya timbal balik materi.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Namun, bisa jadi yang dianggap irasional oleh orang yang berprinsip keuntungan adalah sesuatu yang rasional bagi orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai etis dalam kehidupan. Pengusaha dengan sikap ikhlas ini bisa mengaplikasikan sikap adil dalam kegiatan berbisnisnya.
Dalam buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Jumat (7/5/2021), salah satu contoh penggunaan sikap ikhlas dalam berbisnis adalah dalam menetapkan target perusahaan.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Pengusaha harus mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki perusahaannya sebelum menentukan target. Jika pengusaha memaksakan kehendak, karyawannya akan mengalami tekanan yang berat dan akhirnya bekerja melebihi kemampuannya. Lalu ketika perusahaan mengalami kegagalan atau tidak mencapai target yang telah ditetapkan, yang terjadi adalah ketegangan di antara karyawan mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab.
Namun bukan berarti pengusaha tidak boleh memasang target yang tinggi, tidak perlu bekerja terlalu keras dan bersabar dengan bersikap menerima apa adanya. Sikap ikhlas bukan berarti menerima tanpa berusaha atau dengan usaha seadanya.
Ikhlas adalah sikap penyadaran dan penyerahan diri setelah perjuangan yang maksimal. Ketika semua orang di perusahaan punya sikap ikhlas, ketika tidak mencapai target yang terjadi bukan ketegangan tapi sebuah bentuk penyerahan diri. Ikhlas akan melahirkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan dalam bekerja.Selain itu, membebankan pekerjaan yang berlebihan kepada bawahan  sangat tidak diperkenankan untuk dilakukan. Apabila seseorang telah  menerima tekanan yang berlebihan sehingga mengakibatkan dampak buruk  padanya berarti dia telah diperlakukan secara tidak adil.
Allah SWT berfirman, &amp;ldquo;Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil  dan berbuat ikhsan, pemberian kepada kaum kerabat, dan Dia melarang  perbuatan keji, kemungkaran, dan penganiayaan. Dia memberi pengajaran  kepada kamu agar kamu selalu ingat&amp;rdquo; (QS. An-Nahl (16): 90).
Sesungguhnya keadilan adalah sebuah keadaan menguntungkan dan  menyenangkan pada kedua belah pihak. Seorang atasan harus bersikap adil  kepada bawahannya dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan  kompetensinya masing-masing, sedang bawahan pun harus adil dalam  menyelesaikan target yang ditugaskan oleh perusahaan.
Kalau atasan memberikan tugas yang di luar kemampuan bawahan, maka  atasan harus ikut membantunya. Dari Ma'rur bin Suwaid Ra, berkata  Rasulullah SAW pada Abu Dzar, &quot;Janganlah kamu beri tugas melebihi batas  kemampuan mereka (hamba sahaya). Jika akan kamu tugaskan juga, hendaklah  kamu bantu dia.&quot; (HR. Muslim).
Sikap ini pun jangan sampai berlebihan sehingga menunjukkan bahwa  atasan tidak percaya pada kemampuan bawahan. Sikap perusahaan pun jangan  menganak-emaskan seorang karyawan hanya karena kedudukan atau adanya  hubungan kekeluargaan dengan pihak-pihak tertentu.
Sikap adil dalam perusahaan akan memicu semua orang untuk melakukan  yang terbaik dan perusahaan pun akan menilai secara objektif dan  memberikan reward (penghargaan) maupun punishment (hukuman) yang  sebanding.</content:encoded></item></channel></rss>
