<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 BUMN Karya Jual Tol ke Investor, Bakal Didiskon?</title><description>Pemerintah bakal melakukan Aksi melego beberapa ruas jalan tol itu dilakukan BUMN Karya demi mengurangi beban bunga utang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon"/><item><title>3 BUMN Karya Jual Tol ke Investor, Bakal Didiskon?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon</guid><pubDate>Senin 10 Mei 2021 11:05 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon-B8ItS7vyKU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jalan TOl (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/10/320/2408292/3-bumn-karya-jual-tol-ke-investor-bakal-didiskon-B8ItS7vyKU.jpg</image><title>Jalan TOl (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah bakal melakukan Aksi melego beberapa ruas jalan tol itu dilakukan BUMN Karya demi mengurangi beban bunga utang. Ketiga perusahaan negara tersebut adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.


Dalam proses transaksinya, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign Wealth Fund (SWF) sebagai lembaga pengelolaan Investasi pemerintah pusat, bertindak sebagai fasilitator antara investor dengan manajemen ketiga perusahaan pelat merah tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 7 Fakta IPO BUMN, Investor Bisa Borong Saham
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, melontarkan sejumlah pertanyaan perihal rencana manajemen tiga BUMN Karya yang menjual sejumlah ruas tol kepada investor. Bhima mempertanyakan, apakah aset jalan tol yang ditawarkan kepada pengusaha asing dan domestik untuk mencari keuntungan atau hanya sekedar menutup kerugian perusahaan saja?

Penjualan tol sangat disesalkan hanya karena BUMN karya sedang mengalami tekanan cash flow dan naiknya rasio utang terhadap ekuitas. Karenanya, dia memperkirakan, manajemen akan menawarkan harga yang lebih renda alias diskon.
 
&amp;nbsp;Baca juga:Wamen BUMN Sedih RI Negara Muslim Terbesar tapi Literasi Wakaf Masih Minim

&quot;Pertanyaan besarnya apakah aset jalan tol yang dijual untung atau sekedar menutup kerugian? Jawabannya mungkin akhirnya harus dijual dengan harga diskon,&quot; ujar Bhima saat dimintai pendapatnya, Senin (10/5/2021).Biaya konstruksi jalan tol yang dibangun tercatat cukup mahal. Bhima  memperkirakan, pembangunan per kilometer (KM) jalan tol menelan senilai  Rp 120 miliar hingga Rp 150 miliar. Jika upaya divestasi aset negara itu  bertujuan menjaga cash flow perusahaan dan naiknya rasio utang terhadap  ekuitas, maka kemungkinan besar nilai transaksi yang ditawarkan cukup  rendah. Akibatnya, kontras antara biaya konstruksi dan transaksi.


&quot;Padahal dulu saat membangun jalan tol biaya nya Rp120-150 miliar per  KM sangat mahal. Nanti yang jadi titik kritisnya adalah mau dijual  berapa? Apakah penjualan tol di tengah kondisi keuangan BUMN yang sedang  bermasalah bisa mengembalikan modal saat membangun?,&quot; tutur dia.


Sejumlah ruas tol milik negara memang mencuri perhatian Indef. Dalam  kajiannya, tercatat ada dua kekeliruan. Pertama, terletak pada tidak  terintegrasinya pembangunan jalan tol dengan penurunan biaya logistik.


Dimana, biaya logistik hanya menurun kurang dari 2 persen atau  menjadi 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) saja. Bahkan,  tercatat mahal jika dibanding negara di Asean. Persoalan ini memang  diakui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Secara gamblang, Kepala  Negara menegaskan, biaya logistik jalan tol di dalam negeri masih sangat  mahal, sekitar 24 persen dari PDB.


Kekeliruan kedua adalah integrasi jalan tol dengan kawasan industri  yang dinilai tidak sejalan. Padahal, fungsi tol harusnya dominan untuk  angkutan logistik di kawasan industri. Dari sisi ekonomi, jalan tol yang  dibangun itu akan mempermudah akses ke bandara, pelabuhan, destinasi  wisata, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.


Selain itu, mendukung kelancaran rantai pasok. Ujungnya, memperkuat  daya saing dengan menekan biaya logistik. &quot;Tapi karena nggak nyambung  dan biaya menjadi mahal akhirnya pelaku industri tidak optimal memakai  jalan tol,&quot; kata Bhima.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah bakal melakukan Aksi melego beberapa ruas jalan tol itu dilakukan BUMN Karya demi mengurangi beban bunga utang. Ketiga perusahaan negara tersebut adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.


Dalam proses transaksinya, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign Wealth Fund (SWF) sebagai lembaga pengelolaan Investasi pemerintah pusat, bertindak sebagai fasilitator antara investor dengan manajemen ketiga perusahaan pelat merah tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 7 Fakta IPO BUMN, Investor Bisa Borong Saham
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, melontarkan sejumlah pertanyaan perihal rencana manajemen tiga BUMN Karya yang menjual sejumlah ruas tol kepada investor. Bhima mempertanyakan, apakah aset jalan tol yang ditawarkan kepada pengusaha asing dan domestik untuk mencari keuntungan atau hanya sekedar menutup kerugian perusahaan saja?

Penjualan tol sangat disesalkan hanya karena BUMN karya sedang mengalami tekanan cash flow dan naiknya rasio utang terhadap ekuitas. Karenanya, dia memperkirakan, manajemen akan menawarkan harga yang lebih renda alias diskon.
 
&amp;nbsp;Baca juga:Wamen BUMN Sedih RI Negara Muslim Terbesar tapi Literasi Wakaf Masih Minim

&quot;Pertanyaan besarnya apakah aset jalan tol yang dijual untung atau sekedar menutup kerugian? Jawabannya mungkin akhirnya harus dijual dengan harga diskon,&quot; ujar Bhima saat dimintai pendapatnya, Senin (10/5/2021).Biaya konstruksi jalan tol yang dibangun tercatat cukup mahal. Bhima  memperkirakan, pembangunan per kilometer (KM) jalan tol menelan senilai  Rp 120 miliar hingga Rp 150 miliar. Jika upaya divestasi aset negara itu  bertujuan menjaga cash flow perusahaan dan naiknya rasio utang terhadap  ekuitas, maka kemungkinan besar nilai transaksi yang ditawarkan cukup  rendah. Akibatnya, kontras antara biaya konstruksi dan transaksi.


&quot;Padahal dulu saat membangun jalan tol biaya nya Rp120-150 miliar per  KM sangat mahal. Nanti yang jadi titik kritisnya adalah mau dijual  berapa? Apakah penjualan tol di tengah kondisi keuangan BUMN yang sedang  bermasalah bisa mengembalikan modal saat membangun?,&quot; tutur dia.


Sejumlah ruas tol milik negara memang mencuri perhatian Indef. Dalam  kajiannya, tercatat ada dua kekeliruan. Pertama, terletak pada tidak  terintegrasinya pembangunan jalan tol dengan penurunan biaya logistik.


Dimana, biaya logistik hanya menurun kurang dari 2 persen atau  menjadi 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) saja. Bahkan,  tercatat mahal jika dibanding negara di Asean. Persoalan ini memang  diakui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Secara gamblang, Kepala  Negara menegaskan, biaya logistik jalan tol di dalam negeri masih sangat  mahal, sekitar 24 persen dari PDB.


Kekeliruan kedua adalah integrasi jalan tol dengan kawasan industri  yang dinilai tidak sejalan. Padahal, fungsi tol harusnya dominan untuk  angkutan logistik di kawasan industri. Dari sisi ekonomi, jalan tol yang  dibangun itu akan mempermudah akses ke bandara, pelabuhan, destinasi  wisata, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.


Selain itu, mendukung kelancaran rantai pasok. Ujungnya, memperkuat  daya saing dengan menekan biaya logistik. &quot;Tapi karena nggak nyambung  dan biaya menjadi mahal akhirnya pelaku industri tidak optimal memakai  jalan tol,&quot; kata Bhima.</content:encoded></item></channel></rss>
