<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ajaran Nabi Muhammad SAW ketika Terjebak dalam Rutinitas Pekerjaan</title><description>Tidak hanya pemimpin atau pemilik sebuah perusahaan, karyawan atau bawahan juga diharuskan untuk memiliki sikap profesionalisme.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan"/><item><title>Ajaran Nabi Muhammad SAW ketika Terjebak dalam Rutinitas Pekerjaan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/10/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan</guid><pubDate>Senin 10 Mei 2021 03:30 WIB</pubDate><dc:creator>Fariza Rizky Ananda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan-CUbxgp6vEw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/455/2405792/ajaran-nabi-muhammad-saw-ketika-terjebak-dalam-rutinitas-pekerjaan-CUbxgp6vEw.jpg</image><title>Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Tidak hanya pemimpin atau pemilik sebuah perusahaan, karyawan atau bawahan juga diharuskan untuk memiliki sikap profesionalisme. Sebagai seseorang yang direkrut, karyawan mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan.
Dikutip dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Senin (10/5/2021), profesionalisme seorang bawahan, secara teknis adalah mengikuti apa yang diperintah oleh atasan mereka.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Dalam al-Quran secara tegas diperintahkan untuk taat pada perintah pemimpin, &quot;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (seorang pemimpin yang berwenang menangani urusan-urusan kamu) di antara kamu.&quot; (QS. an-Nisa [4] : 59)
Namun terkadang karyawan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh atasan walaupun sebetulnya dia tidak mengerti arah dan tujuan yang dimaksud atau apa yang sesungguhnya dibicarakan atasannya. Hal ini bisa menyebabkan dia merasa terjebak pada sebuah rutinitas pekerjaan yang membosankan dan tidak menimbulkan semangat dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Hasan ibn Ali meriwayatkan bahwa Rasul bersabda, &quot;Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan berbaliklah kepada apa-apa yang tidak meragukanmu. Kebenaran adalah ketenangan, dan kepalsuan adalah keragu-raguan&quot;. (Ahmad, Tirmidzi, Nasa'I dan Darimy).
Ada sebuah dilema yang selalu mengiringi sikap ini, terhadap keberlangsungan karier. Logikanya seseorang akan berpikir, &quot;Bagaimana saya akan dapat promosi kalau saya terus mengkritik kebijakan yang diambil oleh perusahaan? Saya akan dapat promosi dengan bekerja sejalan dengan pemikiran direksi&quot;.Seorang karyawan seharusnya jangan hanya bisa mengikuti apa yang  menjadi keinginan atasan tetapi juga harus mampu bersikap kritis atas  kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang diambil oleh pihak  perusahaan. Sikap seperti ini jangan diartikan sebagai sikap yang  memberontak atau bahkan menjilat tetapi benar-benar demi kemajuan  perusahaan.
Itu sebabnya penting bagi pemimpin untuk bersikap profesional, yaitu  memiliki kemampuan untuk memberi petunjuk kepada bawahan mereka ketika  mengerjakan sebuah pekerjaan. Seorang pemimpin yang profesional juga  harus mengerti dan meyakini dengan benar semua hal yang berhubungan  dengan pekerjaan tersebut.
Selain itu, penting bagi pemimpin untuk memberi pekerjaan sesuai  dengan kompetensi dan kemampuan karyawannya. Jika atasan memberikan  tugas yang di luar kemampuan bawahan, maka atasan harus ikut  membantunya.
Dari Ma'rur bin Suwaid Ra, berkata Rasulullah SAW pada Abu Dzar,  &quot;Janganlah kamu beri tugas melebihi batas kemampuan mereka (hamba  sahaya). Jika akan kamu tugaskan juga, hendaklah kamu bantu dia.&quot; (HR.  Muslim).</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Tidak hanya pemimpin atau pemilik sebuah perusahaan, karyawan atau bawahan juga diharuskan untuk memiliki sikap profesionalisme. Sebagai seseorang yang direkrut, karyawan mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan.
Dikutip dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Senin (10/5/2021), profesionalisme seorang bawahan, secara teknis adalah mengikuti apa yang diperintah oleh atasan mereka.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Dalam al-Quran secara tegas diperintahkan untuk taat pada perintah pemimpin, &quot;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (seorang pemimpin yang berwenang menangani urusan-urusan kamu) di antara kamu.&quot; (QS. an-Nisa [4] : 59)
Namun terkadang karyawan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh atasan walaupun sebetulnya dia tidak mengerti arah dan tujuan yang dimaksud atau apa yang sesungguhnya dibicarakan atasannya. Hal ini bisa menyebabkan dia merasa terjebak pada sebuah rutinitas pekerjaan yang membosankan dan tidak menimbulkan semangat dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Hasan ibn Ali meriwayatkan bahwa Rasul bersabda, &quot;Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan berbaliklah kepada apa-apa yang tidak meragukanmu. Kebenaran adalah ketenangan, dan kepalsuan adalah keragu-raguan&quot;. (Ahmad, Tirmidzi, Nasa'I dan Darimy).
Ada sebuah dilema yang selalu mengiringi sikap ini, terhadap keberlangsungan karier. Logikanya seseorang akan berpikir, &quot;Bagaimana saya akan dapat promosi kalau saya terus mengkritik kebijakan yang diambil oleh perusahaan? Saya akan dapat promosi dengan bekerja sejalan dengan pemikiran direksi&quot;.Seorang karyawan seharusnya jangan hanya bisa mengikuti apa yang  menjadi keinginan atasan tetapi juga harus mampu bersikap kritis atas  kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang diambil oleh pihak  perusahaan. Sikap seperti ini jangan diartikan sebagai sikap yang  memberontak atau bahkan menjilat tetapi benar-benar demi kemajuan  perusahaan.
Itu sebabnya penting bagi pemimpin untuk bersikap profesional, yaitu  memiliki kemampuan untuk memberi petunjuk kepada bawahan mereka ketika  mengerjakan sebuah pekerjaan. Seorang pemimpin yang profesional juga  harus mengerti dan meyakini dengan benar semua hal yang berhubungan  dengan pekerjaan tersebut.
Selain itu, penting bagi pemimpin untuk memberi pekerjaan sesuai  dengan kompetensi dan kemampuan karyawannya. Jika atasan memberikan  tugas yang di luar kemampuan bawahan, maka atasan harus ikut  membantunya.
Dari Ma'rur bin Suwaid Ra, berkata Rasulullah SAW pada Abu Dzar,  &quot;Janganlah kamu beri tugas melebihi batas kemampuan mereka (hamba  sahaya). Jika akan kamu tugaskan juga, hendaklah kamu bantu dia.&quot; (HR.  Muslim).</content:encoded></item></channel></rss>
