<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pedoman Rasulullah dalam Berbisnis, Jangan Memaksakan Diri Bekerja di Luar Kemampuan</title><description>Pentingnya memberikan tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan karyawan merupakan salah satu bentuk profesionalisme.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/11/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/11/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan"/><item><title>Pedoman Rasulullah dalam Berbisnis, Jangan Memaksakan Diri Bekerja di Luar Kemampuan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/11/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/11/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan</guid><pubDate>Selasa 11 Mei 2021 03:31 WIB</pubDate><dc:creator>Fariza Rizky Ananda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan-fjTsOFYW3C.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/455/2405794/pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-jangan-memaksakan-diri-bekerja-di-luar-kemampuan-fjTsOFYW3C.jpg</image><title>Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pentingnya memberikan tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan karyawan merupakan salah satu bentuk profesionalisme yang dilakukan oleh seorang pemimpin atau pemberi kerja. Bahkan, hal tersebut sudah ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dilansir dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Selasa (11/5/2021), profesionalisme ini juga berlaku bagi karyawan untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja di luar bidang dan kompetensinya, karena hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Rasulullah bersabda, &quot;Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya, berkata seseorang: bagaimana caranya menyia-nyiakan amanat ya Rasulullah? Berkata Nabi: apabila diserahkan sesuatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.&quot; (HR. Bukhari).
Profesionalisme dan kompetensi terhadap sebuah pekerjaan adalah dua hal yang saling berkaitan, namun kadang ada individu yang memaksakan diri mengerjakan sebuah pekerjaan yang bukan bidangnya sehingga yang terjadi adalah kerugian, baik dari sisi waktu pelaksanaan pekerjaan maupun kerugian materil.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Allah berfirman, &quot;Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.&quot; (QS al-Isra [17]: 36).
Profesionalisme bukan berarti memaksakan diri untuk menyelesaikan semua pekerjaan tanpa ada pengetahuan yang mencukupi. Bukan juga bersikap sok tahu atau merasa paling mengerti padahal yang diketahui belum tentu benar. Egoisme yang terlalu tinggi terkadang menutupi pandangan yang objektif dalam menyelesaikan sebuah masalah.Menjadi seseorang yang jujur pada kemampuan diri dan tidak memaksakan  kehendak menjadikan perusahaan mempunyai orang-orang pilihan yang  sesuai dengan kriteria pekerjaan yang dibutuhkan. Selain itu,  profesional juga berarti seseorang bisa menerima kritik dan saran yang  dilayangkan kepadanya, terutama mengenai kinerjanya ketika bekerja.
Luqman al-Hakim berkata pada anaknya, &quot;Wahai anakku, bermusyawarahlah  dengan orang yang berpengalaman karena sesungguhnya ia memberimu dari  pendapatnya sesuatu yang mahal sedangkan engkau mengambilnya dengan cara  cuma-cuma&quot;.
Ikhlas dalam menerima saran dan masukan haruslah menjadi bagian dari  sikap seorang profesional. Sikap inilah yang patut dimiliki ketika  menjalankan sebuah bisnis, baik itu bagi pemimpin atau pemilik bisnis  maupun karyawan yang dipekerjakan.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pentingnya memberikan tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan karyawan merupakan salah satu bentuk profesionalisme yang dilakukan oleh seorang pemimpin atau pemberi kerja. Bahkan, hal tersebut sudah ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dilansir dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Selasa (11/5/2021), profesionalisme ini juga berlaku bagi karyawan untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja di luar bidang dan kompetensinya, karena hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Rasulullah bersabda, &quot;Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya, berkata seseorang: bagaimana caranya menyia-nyiakan amanat ya Rasulullah? Berkata Nabi: apabila diserahkan sesuatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.&quot; (HR. Bukhari).
Profesionalisme dan kompetensi terhadap sebuah pekerjaan adalah dua hal yang saling berkaitan, namun kadang ada individu yang memaksakan diri mengerjakan sebuah pekerjaan yang bukan bidangnya sehingga yang terjadi adalah kerugian, baik dari sisi waktu pelaksanaan pekerjaan maupun kerugian materil.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Allah berfirman, &quot;Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.&quot; (QS al-Isra [17]: 36).
Profesionalisme bukan berarti memaksakan diri untuk menyelesaikan semua pekerjaan tanpa ada pengetahuan yang mencukupi. Bukan juga bersikap sok tahu atau merasa paling mengerti padahal yang diketahui belum tentu benar. Egoisme yang terlalu tinggi terkadang menutupi pandangan yang objektif dalam menyelesaikan sebuah masalah.Menjadi seseorang yang jujur pada kemampuan diri dan tidak memaksakan  kehendak menjadikan perusahaan mempunyai orang-orang pilihan yang  sesuai dengan kriteria pekerjaan yang dibutuhkan. Selain itu,  profesional juga berarti seseorang bisa menerima kritik dan saran yang  dilayangkan kepadanya, terutama mengenai kinerjanya ketika bekerja.
Luqman al-Hakim berkata pada anaknya, &quot;Wahai anakku, bermusyawarahlah  dengan orang yang berpengalaman karena sesungguhnya ia memberimu dari  pendapatnya sesuatu yang mahal sedangkan engkau mengambilnya dengan cara  cuma-cuma&quot;.
Ikhlas dalam menerima saran dan masukan haruslah menjadi bagian dari  sikap seorang profesional. Sikap inilah yang patut dimiliki ketika  menjalankan sebuah bisnis, baik itu bagi pemimpin atau pemilik bisnis  maupun karyawan yang dipekerjakan.</content:encoded></item></channel></rss>
