<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Jepang Minus 5,1% pada Kuartal I-2021   </title><description>Ekonomi Jepang minus 5,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2021.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021"/><item><title>Ekonomi Jepang Minus 5,1% pada Kuartal I-2021   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021</guid><pubDate>Selasa 18 Mei 2021 09:44 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021-QT3JV0QzUQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/18/320/2411532/ekonomi-jepang-minus-5-1-pada-kuartal-i-2021-QT3JV0QzUQ.jpg</image><title>Ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ekonomi Jepang minus 5,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2021. Pertumbuhan ekonomi negatif itu terjadi di tengah pemulihan ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang masuk teritori negatif akibat anjloknya konsumsi masyarakat selama lockdown.

Otoritas Jepang menerapkan keadaan darurat (emergency state) kedua akibat kondisi pandemi Covid-19 yang memburuk.
Baca Juga:&amp;nbsp;Harta Miliarder Jepang Makin Banyak Tembus Rp3.615 Triliun meski Ekonominya Kontraksi&amp;nbsp;
Pada kuartal III dan IV tahun lalu, ekonomi Jepang tumbuh positif masing-masing 22,9% dan 11,6%. Tren pemulihan terjadi setelah kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok 28,6%.

&quot;Konsumsi masyarakat menjadi faktor terbesar penyebab kontraksi ekonomi kuartal satu,&quot; kata Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dikutip dari Channel News Asia.

Pertumbuhan ekonomi Jepang yang minus jauh lebih buruk daripada ekspektasi analis yang memprediksi pertumbuhan minus 4,6%. Konsumsi masyarakat yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB turun 1,4%.

Investasi juga anjlok 1,4%. Namun, ekspor tumbuh 2,3% berkat pemulihan ekonomi global, terutama dari industri otomotif dan elektronik. Namun, kontribusi ekspor secara netto terhadap PDB minus 0,2% akibat impor yang lebih tinggi.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonomi Jepang minus 5,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2021. Pertumbuhan ekonomi negatif itu terjadi di tengah pemulihan ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang masuk teritori negatif akibat anjloknya konsumsi masyarakat selama lockdown.

Otoritas Jepang menerapkan keadaan darurat (emergency state) kedua akibat kondisi pandemi Covid-19 yang memburuk.
Baca Juga:&amp;nbsp;Harta Miliarder Jepang Makin Banyak Tembus Rp3.615 Triliun meski Ekonominya Kontraksi&amp;nbsp;
Pada kuartal III dan IV tahun lalu, ekonomi Jepang tumbuh positif masing-masing 22,9% dan 11,6%. Tren pemulihan terjadi setelah kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok 28,6%.

&quot;Konsumsi masyarakat menjadi faktor terbesar penyebab kontraksi ekonomi kuartal satu,&quot; kata Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dikutip dari Channel News Asia.

Pertumbuhan ekonomi Jepang yang minus jauh lebih buruk daripada ekspektasi analis yang memprediksi pertumbuhan minus 4,6%. Konsumsi masyarakat yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB turun 1,4%.

Investasi juga anjlok 1,4%. Namun, ekspor tumbuh 2,3% berkat pemulihan ekonomi global, terutama dari industri otomotif dan elektronik. Namun, kontribusi ekspor secara netto terhadap PDB minus 0,2% akibat impor yang lebih tinggi.</content:encoded></item></channel></rss>
