<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab UMKM Kelabakan meski Sudah Jualan Online</title><description>Teten Masduki mengungkapkan persoalan UMKM yang banyak tutup meski sudah jualan online</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online"/><item><title>Penyebab UMKM Kelabakan meski Sudah Jualan Online</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online</guid><pubDate>Kamis 20 Mei 2021 10:42 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/19/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online-0l66X0HIhH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tantangan UMKM meski Sudah Jualan Online. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/19/320/2412573/penyebab-umkm-kelabakan-meski-sudah-jualan-online-0l66X0HIhH.jpg</image><title>Tantangan UMKM meski Sudah Jualan Online. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan persoalan UMKM yang banyak tutup meski sudah jualan online. Menurut Teten, persoalannya bukan bagaimana UMKM menampilkan produk di online dengan strategi yang berbeda di offline, tetapi juga harus menyiapkan produk yang unggul.
&quot;Problem dari UMKM yang onboarding digital itu banyak yang gugur juga, karena salah satu faktornya, kapasitas produksinya belum cukup. Marketnya besar, yang berarti dia harus memenuhi permintaan dengan cepat, rata-rata UMKM tidak punya stok kan, modalnya terbatas,&quot; kata Teten dalam Forum Fristian TVRI di Jakarta, Kamis (20/5/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;UMKM Diberi Opsi Vaksin Gratis atau Berbayar
Faktor kedua, sambung dia, adalah kualitas produksinya. Dua isu besar ini menjadi tantangan bagi UMKM untuk bertahan di online, bukan sekadar onboarding saja. Maka dari itu, pihak KemenkopUKM langsung menghubungkan UMKM dengan ekosistem digitalnya.
&quot;Jadi kan setiap platform pendekatannya berbeda. Kami sediakan konsultan, para pendamping, termasuk rumah-rumah kreatif yang kita sediakan di berbagai daerah, dimana mereka bisa belajar mulai dari packaging, penampilan, pengambilan visual menarik untuk dimasukkan ke media sosial,&quot; tambah Teten.
Baca Juga:&amp;nbsp;Wapres Ingatkan Lembaga Keuangan Ramah UMKMSaat ini, Kemenkop UKM sedang membangun infrastruktur database UMKM, terlebih dengan hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja yang memberi mandat. Terdapat 22 kementerian yang turut mengurus perihal UMKM ini.
&quot;Tahun depan, mungkin kita sudah punya data yang terkonsolidasi, karena data UMKM cukup besar ada 64 juta. Kami akan sensus, kerjasama dengan BPS, lalu nanti saya kira kami akan pilah betul datanya sehingga kita bisa punya pendekatan yang lebih tepat untuk empowering UMKM kita,&quot; tandas Teten.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan persoalan UMKM yang banyak tutup meski sudah jualan online. Menurut Teten, persoalannya bukan bagaimana UMKM menampilkan produk di online dengan strategi yang berbeda di offline, tetapi juga harus menyiapkan produk yang unggul.
&quot;Problem dari UMKM yang onboarding digital itu banyak yang gugur juga, karena salah satu faktornya, kapasitas produksinya belum cukup. Marketnya besar, yang berarti dia harus memenuhi permintaan dengan cepat, rata-rata UMKM tidak punya stok kan, modalnya terbatas,&quot; kata Teten dalam Forum Fristian TVRI di Jakarta, Kamis (20/5/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;UMKM Diberi Opsi Vaksin Gratis atau Berbayar
Faktor kedua, sambung dia, adalah kualitas produksinya. Dua isu besar ini menjadi tantangan bagi UMKM untuk bertahan di online, bukan sekadar onboarding saja. Maka dari itu, pihak KemenkopUKM langsung menghubungkan UMKM dengan ekosistem digitalnya.
&quot;Jadi kan setiap platform pendekatannya berbeda. Kami sediakan konsultan, para pendamping, termasuk rumah-rumah kreatif yang kita sediakan di berbagai daerah, dimana mereka bisa belajar mulai dari packaging, penampilan, pengambilan visual menarik untuk dimasukkan ke media sosial,&quot; tambah Teten.
Baca Juga:&amp;nbsp;Wapres Ingatkan Lembaga Keuangan Ramah UMKMSaat ini, Kemenkop UKM sedang membangun infrastruktur database UMKM, terlebih dengan hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja yang memberi mandat. Terdapat 22 kementerian yang turut mengurus perihal UMKM ini.
&quot;Tahun depan, mungkin kita sudah punya data yang terkonsolidasi, karena data UMKM cukup besar ada 64 juta. Kami akan sensus, kerjasama dengan BPS, lalu nanti saya kira kami akan pilah betul datanya sehingga kita bisa punya pendekatan yang lebih tepat untuk empowering UMKM kita,&quot; tandas Teten.</content:encoded></item></channel></rss>
