<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Effendi, Diajak Pengusaha Tegal Kini Ekspor Sarung Tenun ke Arab</title><description>Effendi bertekad untuk terjun sebagai pengrajin tenun sejak tahun 1983.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab"/><item><title>Kisah Effendi, Diajak Pengusaha Tegal Kini Ekspor Sarung Tenun ke Arab</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab</guid><pubDate>Kamis 20 Mei 2021 10:37 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab-w1H1e8xfjm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/20/455/2412745/kisah-effendi-diajak-pengusaha-tegal-kini-ekspor-sarung-tenun-ke-arab-w1H1e8xfjm.jpg</image><title>Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA - Effendi bertekad untuk terjun sebagai pengrajin tenun sejak tahun 1983. Saat itu dia baru saja menikah sehingga mau tidak mau harus menghidupi istrinya.
Sebagai seorang pengrajin tenun, ternyata dalam merintis usahanya  jalannya tidak semulus yang dia bayangkan. Pasang-surut usahanya terus ia alami hingga tahun 1990-an . Dalam rentang waktu itu masih dirasa usahanya belum terlihat titik terangnya.
Di tempat usahanya di daerah Pemalang, Jawa Tengah, kerajinan tenun lokal dirasa kurang laku karena dihimpit oleh perkembangan ekonomi global. Karena biaya produksinya mahal, maka Effendi juga meninggikan harga kerajinan tenun lokalnya. Ternyata pasar kurang menerima, dan akhir tidak laku.
Baca Juga: Cara Menjadi Reseller Tanpa Modal
 
Untunglah ternyata ada seorang pengusaha dari daerah Tegal, mau menanamkan investasi kepada pengrajin tenun di wilayahnya.
Effendi pun akhirnya tertarik dan ikut bergabung dengan seorang pengusaha tadi menjadi pengrajin binaannya.  Kebetulan sekali pengusaha tadi sering menjual kerajinan kain tenun ke luar negeri.
&amp;ldquo;Sistem kerjasamanya, pengusaha tadi yang menyediakan benang, saya yang mengerjakan tenunannya. Hasilnya harus disetorkan ke pengusaha tadi dengan hitungan ongkos mengerjakan tenunan,&amp;rdquo; papar Effendi  di rumahnya di kota Pemalang, Jateng.
Baca Juga: Cara Menjadi Reseller Baju 
 
Sistem kerja sama tadi berjalan sampai tahun 2000. Dari hasil kerja sama tadi Effendi lebih pandai dalam hal mengelola penghasilannya hingga mampu mengumpulkan modal sendiri.
Itulah langkah awal Effendi sebagai pengrajin tenun, yang akhirnya bisa menemukan jalan terang.  Setelah mampu memproduksi tenun sendiri, akhirnya ada pengembang dari Tegal mendatangi usaha Effendi dengan mengajak kerjasama hingga tahun 2001.
Dengan dibantu oleh pengembang dengan memberikan bantuan dana tadi , usaha tenun Effendi mulai berkembang. Kini perkembangan pasar sarung tenun Effendi sudah sampai ke Jakarta. Bahkan setelah pengembangan pasar di Jakarta juga menemukan jalan.Effendi terus meningkatkan produksi tenunnya hingga berani membuka  pasar baru, bahkan bidikannya ekspor. Dia digandeng pengusaha dari Arab  Saudi untuk memasarkan kain tenun ke Arab Saudi dan Afrika.
&quot;Sekali pesan, bisa mencapai 40 sarung dalam sebulan dengan berbagi  jenis dan motif.  Sarung tenun yang dipesan dikirim memakai paket ke  kantor cabangnya di Jakarta,&quot;ucapnya.
Effendi pertama kali membuka usaha dengan modal 10 mesin tenun, yang  berasal dari warisan orang tuanya. Kemudian dia memesan mesin tenun .  Untuk harga mesin tenunnya, per-unit harganya Rp 1 juta. Dengan bahan  dasar pembuat mesin tenun dari kayu jati.
Sekarang dia telah mempunyai 40 mesin tenun. &amp;ldquo;Dulu tahun 1980-an  harga mesin tenun cuma Rp.100 ribu. Modal awal saya cuma ratusan  ribu,&amp;rdquo;ungkapnya.
Effendi juga menjelaskan proses awal produksi kain tenunnya dimulai  dari membeli benang putih dari bahan benang rayon murni. Bahan ini  menghadirkan rasa hangat dan sekaligus terasa lembut.
Bahan baku benang rayon dipasok dari importir di Pekalongan. Benang  ini diimpor dari China dan India dengan harga Rp 200.000-Rp 300.000 per-  pak.
Lanjut Effendi lagi, dari dua pak benang tadi, setidaknya bisa dihasilkan 22 lembar sarung.
Sarung ini terdiri dari dua bagian yang membutuhkan proses pengerjaan  terpisah, yakni kain dasar dan motif di atasnya. Proses pengerjaan  sarung termasuk rumit, apalagi, sarung ini diproduksi secara tradisional  memakai alat tenun bukan mesin.Pertama-tama langkah yang dilakukan Effendi adalah proses menenun, ia   memulai dengan memintal benang. Setelah itu, ia melakukan pewarnaan   untuk kain dasar dan motifnya. Berikutnya adalah proses pengikalan atau   pembuatan gulungan kecil dan kemudian proses penenunan.
Satu lembar sarung memerlukan 10-12 gulungan benang. Usai ditenun,   Efenddi menjahit, mencuci, dan menjemur sarung itu untuk kemudian   mengemasnya.
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan selembar sarung sekitar   satu minggu. &quot;Jika penenun masih belajar bisa dua minggu baru selesai,&quot;   terangnya.
Karena harus melewati proses yang rumit, tak heran jika harga sarung   tenun ini cukup mahal, yaitu antara Rp 100.000 sampai Rp 400.000 per   -lembar.
Kini, Effendi sudah memiliki beragam motif sarung. Selain motif   warisan, ada juga beberapa motif hasil modifikasi dan pesanan pembeli.
Dibantu dengan beberapa karyawannya, Effendi sekarang sudah mampu memproduksi kurang labih 40  sarung tenun per-bulan.
&amp;ldquo;Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk biaya kuliah anak . Saya merasa   produksi sarung tenun saja terus meningkat, dan pesanan dari Arab juga   semakin banyak,&amp;rdquo;katanya sambil tersenyum.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA - Effendi bertekad untuk terjun sebagai pengrajin tenun sejak tahun 1983. Saat itu dia baru saja menikah sehingga mau tidak mau harus menghidupi istrinya.
Sebagai seorang pengrajin tenun, ternyata dalam merintis usahanya  jalannya tidak semulus yang dia bayangkan. Pasang-surut usahanya terus ia alami hingga tahun 1990-an . Dalam rentang waktu itu masih dirasa usahanya belum terlihat titik terangnya.
Di tempat usahanya di daerah Pemalang, Jawa Tengah, kerajinan tenun lokal dirasa kurang laku karena dihimpit oleh perkembangan ekonomi global. Karena biaya produksinya mahal, maka Effendi juga meninggikan harga kerajinan tenun lokalnya. Ternyata pasar kurang menerima, dan akhir tidak laku.
Baca Juga: Cara Menjadi Reseller Tanpa Modal
 
Untunglah ternyata ada seorang pengusaha dari daerah Tegal, mau menanamkan investasi kepada pengrajin tenun di wilayahnya.
Effendi pun akhirnya tertarik dan ikut bergabung dengan seorang pengusaha tadi menjadi pengrajin binaannya.  Kebetulan sekali pengusaha tadi sering menjual kerajinan kain tenun ke luar negeri.
&amp;ldquo;Sistem kerjasamanya, pengusaha tadi yang menyediakan benang, saya yang mengerjakan tenunannya. Hasilnya harus disetorkan ke pengusaha tadi dengan hitungan ongkos mengerjakan tenunan,&amp;rdquo; papar Effendi  di rumahnya di kota Pemalang, Jateng.
Baca Juga: Cara Menjadi Reseller Baju 
 
Sistem kerja sama tadi berjalan sampai tahun 2000. Dari hasil kerja sama tadi Effendi lebih pandai dalam hal mengelola penghasilannya hingga mampu mengumpulkan modal sendiri.
Itulah langkah awal Effendi sebagai pengrajin tenun, yang akhirnya bisa menemukan jalan terang.  Setelah mampu memproduksi tenun sendiri, akhirnya ada pengembang dari Tegal mendatangi usaha Effendi dengan mengajak kerjasama hingga tahun 2001.
Dengan dibantu oleh pengembang dengan memberikan bantuan dana tadi , usaha tenun Effendi mulai berkembang. Kini perkembangan pasar sarung tenun Effendi sudah sampai ke Jakarta. Bahkan setelah pengembangan pasar di Jakarta juga menemukan jalan.Effendi terus meningkatkan produksi tenunnya hingga berani membuka  pasar baru, bahkan bidikannya ekspor. Dia digandeng pengusaha dari Arab  Saudi untuk memasarkan kain tenun ke Arab Saudi dan Afrika.
&quot;Sekali pesan, bisa mencapai 40 sarung dalam sebulan dengan berbagi  jenis dan motif.  Sarung tenun yang dipesan dikirim memakai paket ke  kantor cabangnya di Jakarta,&quot;ucapnya.
Effendi pertama kali membuka usaha dengan modal 10 mesin tenun, yang  berasal dari warisan orang tuanya. Kemudian dia memesan mesin tenun .  Untuk harga mesin tenunnya, per-unit harganya Rp 1 juta. Dengan bahan  dasar pembuat mesin tenun dari kayu jati.
Sekarang dia telah mempunyai 40 mesin tenun. &amp;ldquo;Dulu tahun 1980-an  harga mesin tenun cuma Rp.100 ribu. Modal awal saya cuma ratusan  ribu,&amp;rdquo;ungkapnya.
Effendi juga menjelaskan proses awal produksi kain tenunnya dimulai  dari membeli benang putih dari bahan benang rayon murni. Bahan ini  menghadirkan rasa hangat dan sekaligus terasa lembut.
Bahan baku benang rayon dipasok dari importir di Pekalongan. Benang  ini diimpor dari China dan India dengan harga Rp 200.000-Rp 300.000 per-  pak.
Lanjut Effendi lagi, dari dua pak benang tadi, setidaknya bisa dihasilkan 22 lembar sarung.
Sarung ini terdiri dari dua bagian yang membutuhkan proses pengerjaan  terpisah, yakni kain dasar dan motif di atasnya. Proses pengerjaan  sarung termasuk rumit, apalagi, sarung ini diproduksi secara tradisional  memakai alat tenun bukan mesin.Pertama-tama langkah yang dilakukan Effendi adalah proses menenun, ia   memulai dengan memintal benang. Setelah itu, ia melakukan pewarnaan   untuk kain dasar dan motifnya. Berikutnya adalah proses pengikalan atau   pembuatan gulungan kecil dan kemudian proses penenunan.
Satu lembar sarung memerlukan 10-12 gulungan benang. Usai ditenun,   Efenddi menjahit, mencuci, dan menjemur sarung itu untuk kemudian   mengemasnya.
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan selembar sarung sekitar   satu minggu. &quot;Jika penenun masih belajar bisa dua minggu baru selesai,&quot;   terangnya.
Karena harus melewati proses yang rumit, tak heran jika harga sarung   tenun ini cukup mahal, yaitu antara Rp 100.000 sampai Rp 400.000 per   -lembar.
Kini, Effendi sudah memiliki beragam motif sarung. Selain motif   warisan, ada juga beberapa motif hasil modifikasi dan pesanan pembeli.
Dibantu dengan beberapa karyawannya, Effendi sekarang sudah mampu memproduksi kurang labih 40  sarung tenun per-bulan.
&amp;ldquo;Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk biaya kuliah anak . Saya merasa   produksi sarung tenun saja terus meningkat, dan pesanan dari Arab juga   semakin banyak,&amp;rdquo;katanya sambil tersenyum.</content:encoded></item></channel></rss>
