<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kerajinan Anyaman Tas Plastik dan Pandan Diekspor ke Australia hingga UEA</title><description>erajinan tas anyaman plastik dan pandan bisa menjadi peluang bisnis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea"/><item><title>Kerajinan Anyaman Tas Plastik dan Pandan Diekspor ke Australia hingga UEA</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea</guid><pubDate>Selasa 25 Mei 2021 20:15 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea-XUt6RCNNw2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tas Anyaman (Foto: Avirista/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/25/455/2415264/kerajinan-anyaman-tas-plastik-dan-pandan-diekspor-ke-australia-hingga-uea-XUt6RCNNw2.jpg</image><title>Tas Anyaman (Foto: Avirista/Okezone)</title></images><description>MALANG - Kerajinan tas anyaman plastik dan pandan bisa menjadi peluang bisnis. Meski memiliki kesan jadul dan kerap dianggap tak modern, kerajinan ini kini disulap dengan cantik dan elegan.
Di tangan perempuan kreatif yang beralamatkan di Jalan Joyo Agung, Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tas - tas yang kesannya jadul disulap menjadi kerajinan yang menarik dan estetik, dengan brand Fianoel.
Baca Juga:&amp;nbsp; Pengrajin Sanggul Brebes, Langganan Pejabat hingga Masuk Pasar Ekspor
 
Karyawan Fianoel, Endang Susiowati menerangkan, proses pembuatan decoupage tidaklah sulit. Langkah pertama bahan tas anyaman yang masih polos. Lalu siapkan motif decoupage, yang ingin ditempelkan ke tas anyaman.
Selanjutnya motif decoupage tersebut dicetak ke dalam kertas tisu. Setelah itu motif tersebut ditempelkan ke tas anyaman dengan menggunakan lem. Berikutnya, proses dilanjutkan dengan merapikan motif yang sudah ditempelkan, berlanjut ke proses pengeringan sebelum masuk proses akhir yakni pernis agar hasil motif bisa lebih cerah dan bagus.
Baca Juga: Kisah Effendi, Diajak Pengusaha Tegal Kini Ekspor Sarung Tenun ke Arab
 
&quot;Kami di sini membuat decoupage untuk beberapa kerajinan mulau dari tas anyaman plastik, pandan, clutch, pouch, kotak tisu hingga masker,&quot; ungkap Endang ditemui MNC Portal Indonesia, pada Selasa (25/5/2021).
Endang menambahkan produksi decoupage sendiri tidak memerlukan waktu lama. Pasalnya rumah produksi Fianoel tidak mengolah produk mentah. Tetapi bekerjasama dengan beberapa pengrajin untuk memenuhi suplai kebutuhan mereka. Produk yang sudah jadi namun masih polosan tersebut kemudian dihias dengan cara decoupage. Untuk satu hari, Endang menyebut dirinya dan beberapa karyawan lain bisa menghasilkan hingga 100 piece hiasan decoupage.
&quot;Kalau menghias tas anyaman plastik, clutch, mini pouch itu cukup cepat. Proses yang memerlukan waktu itu untuk anyaman pandan dan kaca karena harus presisi dan dari satu sisi dulu,&quot; imbuhnya.
Produk kerajinan ini sendiri dikatakan Endang dijual dengan harga  bervariasi, mulai Rp20 ribu untuk produk decoupage yang sederhana dan  mudah dikerjakan seperti mini pouch dan kipas. Sementara produk paling  mahal dibanderol hingga harga Rp250 ribu, seperti clutch dan beberapa  model lain. Namun untuk model yang paling diminati dan laris diburu saat  ini adalah produk tas anyaman dari plastik.
&quot;Kami menyediakan stok, tetapi kustomer juga bisa memesan secara  kustom. Namun, prosesnya akan berbeda dan butuh waktu ekstra,&quot; ucapnya.
Karena keunikannya inilah menjadikan kerajinan tas decoupage ini  diminati masyarakat, bahkan sampai diekspor ke beberapa negara. Beberapa  negara seperti Malaysia, Singapura, Australia, hingga United Emirat  Arab, turut memesan produk Fianoel.
Meski demikian, diakuinya adanya pandemi Covid-19 membuat pengiriman  ke luar negeri sedikit berkurang. &quot;Tidak hanya ke negara-negara itu  saja, produk kami juga sudah pernah di kirim ke beberapa negara Eropa,&quot;  ucapnya.
Saat ini, proses decoupage sendiri sudah lebih landai. Pasalnya  pesanan yang masuk juga tidak terlalu banyak. Berbeda dengan beberapa  waktu lalu sebelum lebaran.
Endang mengakui saat itu dirinya dan karyawan lain sampai kewalahan  melayani pesanan. Dalam satu hari, transaksi paling banyak bisa mencapai  25 kali untuk penjualan online. Sementara untuk penjualan offline bisa  hampir sama.
&quot;Dibanding tahun lalu peningkatannya lebih dari 100%. Tahun lalu itu  dapat satu orderan saja sulit, malah banyak liburnya. Tahun ini, kami  baru bisa sedikit istirahat setelah lebaran,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>MALANG - Kerajinan tas anyaman plastik dan pandan bisa menjadi peluang bisnis. Meski memiliki kesan jadul dan kerap dianggap tak modern, kerajinan ini kini disulap dengan cantik dan elegan.
Di tangan perempuan kreatif yang beralamatkan di Jalan Joyo Agung, Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tas - tas yang kesannya jadul disulap menjadi kerajinan yang menarik dan estetik, dengan brand Fianoel.
Baca Juga:&amp;nbsp; Pengrajin Sanggul Brebes, Langganan Pejabat hingga Masuk Pasar Ekspor
 
Karyawan Fianoel, Endang Susiowati menerangkan, proses pembuatan decoupage tidaklah sulit. Langkah pertama bahan tas anyaman yang masih polos. Lalu siapkan motif decoupage, yang ingin ditempelkan ke tas anyaman.
Selanjutnya motif decoupage tersebut dicetak ke dalam kertas tisu. Setelah itu motif tersebut ditempelkan ke tas anyaman dengan menggunakan lem. Berikutnya, proses dilanjutkan dengan merapikan motif yang sudah ditempelkan, berlanjut ke proses pengeringan sebelum masuk proses akhir yakni pernis agar hasil motif bisa lebih cerah dan bagus.
Baca Juga: Kisah Effendi, Diajak Pengusaha Tegal Kini Ekspor Sarung Tenun ke Arab
 
&quot;Kami di sini membuat decoupage untuk beberapa kerajinan mulau dari tas anyaman plastik, pandan, clutch, pouch, kotak tisu hingga masker,&quot; ungkap Endang ditemui MNC Portal Indonesia, pada Selasa (25/5/2021).
Endang menambahkan produksi decoupage sendiri tidak memerlukan waktu lama. Pasalnya rumah produksi Fianoel tidak mengolah produk mentah. Tetapi bekerjasama dengan beberapa pengrajin untuk memenuhi suplai kebutuhan mereka. Produk yang sudah jadi namun masih polosan tersebut kemudian dihias dengan cara decoupage. Untuk satu hari, Endang menyebut dirinya dan beberapa karyawan lain bisa menghasilkan hingga 100 piece hiasan decoupage.
&quot;Kalau menghias tas anyaman plastik, clutch, mini pouch itu cukup cepat. Proses yang memerlukan waktu itu untuk anyaman pandan dan kaca karena harus presisi dan dari satu sisi dulu,&quot; imbuhnya.
Produk kerajinan ini sendiri dikatakan Endang dijual dengan harga  bervariasi, mulai Rp20 ribu untuk produk decoupage yang sederhana dan  mudah dikerjakan seperti mini pouch dan kipas. Sementara produk paling  mahal dibanderol hingga harga Rp250 ribu, seperti clutch dan beberapa  model lain. Namun untuk model yang paling diminati dan laris diburu saat  ini adalah produk tas anyaman dari plastik.
&quot;Kami menyediakan stok, tetapi kustomer juga bisa memesan secara  kustom. Namun, prosesnya akan berbeda dan butuh waktu ekstra,&quot; ucapnya.
Karena keunikannya inilah menjadikan kerajinan tas decoupage ini  diminati masyarakat, bahkan sampai diekspor ke beberapa negara. Beberapa  negara seperti Malaysia, Singapura, Australia, hingga United Emirat  Arab, turut memesan produk Fianoel.
Meski demikian, diakuinya adanya pandemi Covid-19 membuat pengiriman  ke luar negeri sedikit berkurang. &quot;Tidak hanya ke negara-negara itu  saja, produk kami juga sudah pernah di kirim ke beberapa negara Eropa,&quot;  ucapnya.
Saat ini, proses decoupage sendiri sudah lebih landai. Pasalnya  pesanan yang masuk juga tidak terlalu banyak. Berbeda dengan beberapa  waktu lalu sebelum lebaran.
Endang mengakui saat itu dirinya dan karyawan lain sampai kewalahan  melayani pesanan. Dalam satu hari, transaksi paling banyak bisa mencapai  25 kali untuk penjualan online. Sementara untuk penjualan offline bisa  hampir sama.
&quot;Dibanding tahun lalu peningkatannya lebih dari 100%. Tahun lalu itu  dapat satu orderan saja sulit, malah banyak liburnya. Tahun ini, kami  baru bisa sedikit istirahat setelah lebaran,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
