<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Intip Kekuatan Indonesia di Industri Keuangan Syariah Global   </title><description>Indonesia kini tumbuh menjadi kekuatan baru industri keuangan syariah global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global"/><item><title>Intip Kekuatan Indonesia di Industri Keuangan Syariah Global   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global</guid><pubDate>Sabtu 05 Juni 2021 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global-j5KLTI97kl.png" expression="full" type="image/jpeg">Industri Keuangan Syariah. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/05/320/2420697/intip-kekuatan-indonesia-di-industri-keuangan-syariah-global-j5KLTI97kl.png</image><title>Industri Keuangan Syariah. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA -  Indonesia kini tumbuh menjadi kekuatan baru industri keuangan syariah global seiring meningkatnya kecenderungan masyarakat pada produk dan jasa keuangan syariah.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid mengatakan, industri keuangan syariah Indonesia berkembang pesat dan  saat ini berada di peringkat kedua setelah Malaysia.
&amp;ldquo;Tahun 2019, kita  berada di urutan keempat. Sekarang kita di urutan kedua setelah Malaysia. Saya  yakin keuangan syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak  pertumbuhan ekonomi kita,&amp;rdquo; kata  Arsjad di Jakarta, Sabtu (5/6/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Reksa Dana Syariah, Berinvestasi Sambil Menuai Berkah
Arsjad  yang mencalonkan  diri sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2021-2026 mengatakan, hingga Februari 2021, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.836 triliun.
Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2020, yang sebesar Rp1.803 triliun. Selain itu, berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020 dari Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dan Revinitiv dari 135 negara,   Indonesia termasuk top 5 countries  berdasarkan  nilai aset, tepatnya peringkat ke-5 dengan USD3 miliar, di bawah Arab Saudi (USD17 miliar), Iran (USD14 miliar), Malaysia (USD10 miliar) dan hampir imbang dengan UAE (USD3 miliar).
&amp;ldquo;Kemajuan ini mencerminkan besarnya peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan industri keuangan  syariah dunia. Apalagi,   market share keuangan syariah kita masih di angka 9,96%. Kita terus dorong agar   penetrasi industri jasa keuangan syariah terus meningkat,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;OJK Lengkapi Infrastruktur Keuangan Syariah
Arsjad yang juga menjabat Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengungkapkan, meningkatnya posisi Indonesia di peringkat global tidak terlepas dari  dukungan pemerintah,  yang gencar melakukan riset, sosialisasi, dan edukasi menyangkut   keuangan syariah. Di sisi lain, lanjutnya, kesadaran masyarakat atas pentingnya  industri syariah juga terus meningkat.
&amp;ldquo;Pemerintah sangat serius menggarap ekonomi dan keuangan syariah. Presiden Joko Widodo juga telah membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).  Jadi, pemerintah fokus  untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Dan  ini,  sejalan dengan peta jalan  ekonomi syariah,&amp;rdquo; jelas dia.
Arsjad mengatakan, sektor ekonomi syariah yang berpotensi  untuk dikembangkan di Indonesia, di antaranya  industri perbankan syariah, lembaga keuangan nonbank, pasar modal, rumah sakit Islam, perhotelan, pariwisata, kuliner halal, dan fesyen.Arsjad juga bersyukur, di tengah merebaknya pandemi Covid-19, sektor jasa keuangan syariah tumbuh pesat, di mana pertumbuhan aset perbankan syariah pada tahun 2020 meningkat 10,9%, dibandingkan bank konvensional yang hanya tumbuh 7,7%.
&amp;ldquo;Peluang ekonomi dan keuangan syariah terbuka lebar. Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar karena yang digarap masih berkisar 6,1%. Saya yakin pangsanya akan terus meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.
Disebutkan, per November 2020, dari 180 juta penduduk muslim di Indonesia sekitar 30,27 juta jiwa yang tercatat sebagai nasabah bank syariah. Belum maksimalnya jumlah nasabah bank syariah juga mengindikasikan potensi luasnya pasar perbankan syariah di negeri ini yang belum tergarap. Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia juga memiliki potensi dari sisi industri halal sebesar Rp6.546 triliun dan aset bank syariah di Indonesia hanya sekitar Rp591 triliun.
&amp;ldquo;Masih banyak calon nasabah yang belum digarap. Jumlahnya mencapai 149 juta orang. Demikian halnya potensi bisnis industri halal sebesar yang mencapai Rp5.645 triliun,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA -  Indonesia kini tumbuh menjadi kekuatan baru industri keuangan syariah global seiring meningkatnya kecenderungan masyarakat pada produk dan jasa keuangan syariah.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid mengatakan, industri keuangan syariah Indonesia berkembang pesat dan  saat ini berada di peringkat kedua setelah Malaysia.
&amp;ldquo;Tahun 2019, kita  berada di urutan keempat. Sekarang kita di urutan kedua setelah Malaysia. Saya  yakin keuangan syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak  pertumbuhan ekonomi kita,&amp;rdquo; kata  Arsjad di Jakarta, Sabtu (5/6/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Reksa Dana Syariah, Berinvestasi Sambil Menuai Berkah
Arsjad  yang mencalonkan  diri sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2021-2026 mengatakan, hingga Februari 2021, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.836 triliun.
Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2020, yang sebesar Rp1.803 triliun. Selain itu, berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020 dari Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dan Revinitiv dari 135 negara,   Indonesia termasuk top 5 countries  berdasarkan  nilai aset, tepatnya peringkat ke-5 dengan USD3 miliar, di bawah Arab Saudi (USD17 miliar), Iran (USD14 miliar), Malaysia (USD10 miliar) dan hampir imbang dengan UAE (USD3 miliar).
&amp;ldquo;Kemajuan ini mencerminkan besarnya peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan industri keuangan  syariah dunia. Apalagi,   market share keuangan syariah kita masih di angka 9,96%. Kita terus dorong agar   penetrasi industri jasa keuangan syariah terus meningkat,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;OJK Lengkapi Infrastruktur Keuangan Syariah
Arsjad yang juga menjabat Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengungkapkan, meningkatnya posisi Indonesia di peringkat global tidak terlepas dari  dukungan pemerintah,  yang gencar melakukan riset, sosialisasi, dan edukasi menyangkut   keuangan syariah. Di sisi lain, lanjutnya, kesadaran masyarakat atas pentingnya  industri syariah juga terus meningkat.
&amp;ldquo;Pemerintah sangat serius menggarap ekonomi dan keuangan syariah. Presiden Joko Widodo juga telah membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).  Jadi, pemerintah fokus  untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Dan  ini,  sejalan dengan peta jalan  ekonomi syariah,&amp;rdquo; jelas dia.
Arsjad mengatakan, sektor ekonomi syariah yang berpotensi  untuk dikembangkan di Indonesia, di antaranya  industri perbankan syariah, lembaga keuangan nonbank, pasar modal, rumah sakit Islam, perhotelan, pariwisata, kuliner halal, dan fesyen.Arsjad juga bersyukur, di tengah merebaknya pandemi Covid-19, sektor jasa keuangan syariah tumbuh pesat, di mana pertumbuhan aset perbankan syariah pada tahun 2020 meningkat 10,9%, dibandingkan bank konvensional yang hanya tumbuh 7,7%.
&amp;ldquo;Peluang ekonomi dan keuangan syariah terbuka lebar. Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar karena yang digarap masih berkisar 6,1%. Saya yakin pangsanya akan terus meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.
Disebutkan, per November 2020, dari 180 juta penduduk muslim di Indonesia sekitar 30,27 juta jiwa yang tercatat sebagai nasabah bank syariah. Belum maksimalnya jumlah nasabah bank syariah juga mengindikasikan potensi luasnya pasar perbankan syariah di negeri ini yang belum tergarap. Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia juga memiliki potensi dari sisi industri halal sebesar Rp6.546 triliun dan aset bank syariah di Indonesia hanya sekitar Rp591 triliun.
&amp;ldquo;Masih banyak calon nasabah yang belum digarap. Jumlahnya mencapai 149 juta orang. Demikian halnya potensi bisnis industri halal sebesar yang mencapai Rp5.645 triliun,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
