<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Strategi Industri Kriya Bertahan di Tengah Pandemi, Inovasi Produk dan Pemasaran</title><description>Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sektor perekonomian, salah satunya adalah industri ekonomi kreatif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran"/><item><title>Strategi Industri Kriya Bertahan di Tengah Pandemi, Inovasi Produk dan Pemasaran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran</guid><pubDate>Senin 07 Juni 2021 15:50 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran-xGmnDtvwhQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">UMKM (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/07/320/2421393/strategi-industri-kriya-bertahan-di-tengah-pandemi-inovasi-produk-dan-pemasaran-xGmnDtvwhQ.jpg</image><title>UMKM (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sektor perekonomian, salah satunya adalah industri ekonomi kreatif yang sebagian besar berupa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para pelaku usaha dituntut memiliki kreativitas dan inovasi untuk memasarkan usahanya.
Kreativitas dan inovasi tersebut dibutuhkan pedagang ekonomi kreatif untuk membantu berkontribusi kepada pemulihan ekonomi nasional, mengingat tiga dari 17 subsektor ekonomi kreatif menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dan ekspor Indonesia.
Baca Juga: Sandiaga Uno Ingin Karya Parekraf Dilindungi Hukum
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi dari ketiga subsektor tersebut yaitu 41% untuk industri kuliner, fashion sebesar 17%, dan industri kriya menyumbang sebesar 14,9%.
Dilansir dari Koran Sindo, Senin (7/6/2021), khusus untuk industri kriya, perubahan kebiasaan masyarakat selama pandemi Covid-19 sangat memengaruhi belanja kerajinan kriya, salah satunya masyarakat mulai tertarik untuk mendekorasi rumah untuk membuat hunian nyaman di tengah isolasi mandiri dan work from home.
Baca Juga: Sandiaga Sebut Ekonomi Kreatif Jadi Kekuatan Masa Depan Indonesia
Melihat peluang tersebut, benda-benda interior rumah jadi perhatian baru bagi masyarakat.  Tidak sedikit masyarakat yang melirik produk kerajinan karya Indonesia sebagai pilihan. Industri kriya dalam negeri termasuk salah satu sektor yang tangguh dalam menghadapi dampak ekonomi karena pandemi Covid-19.
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai ada pemulihan pada akhir 2020, meski pandemi masih terjadi di Indonesia. Kondisi ini berbanding terbalik dari masa awal pandemi, di mana nyaris tidak ada pesanan yang masuk ke industri mebel dan kerajinan nasional.Membaiknya sektor industri mebel di akhir 2020 memberikan sinyal  positif bagi produk kriya Indonesia. Inovasi yang dilakukan salah  satunya dari segi produk, seperti beradaptasi dengan permintaan pasar  dengan menciptakan produk home decor.
Jika sebelumnya pesanan lebih banyak berupa ukiran logo dan nama  perusahaan dari bahan kuningan dan tembaga, saat ini sudah tidak ada  lagi. Surutnya pesanan tersebut membuat para pelaku usaha kriya memutar  otak untuk berinovasi dalam produknya.
Mereka mulai mencoba menghasilkan produk berupa hiasan dinding untuk  wayang, ukiran-ukiran, dan hiasan lainnya. Terbukti, melalui inovasi  ini. permintaan pasar mulai kembali naik.
Inovasi pelaku usaha produk kriya dalam menjaga kelangsungan  bisnisnya juga sangat beragam. Salah satu inovasi besar yang dilakukan  adalah memasarkan produk kriya Indonesia secara digital. Hal ini  mempertimbangkan kelebihan pemasaran digital yang mampu menjangkau pasar  yang lebih luas.
Selain itu, pola pembelian masyarakat sejak pandemi berlangsung mulai  beralih ke arah digital. Hasil nyata dari inovasi yang dilakukan para  pelaku ekonomi kreatif subsektor kriya ini mulai tampak menjelang akhir  2020.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sektor perekonomian, salah satunya adalah industri ekonomi kreatif yang sebagian besar berupa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para pelaku usaha dituntut memiliki kreativitas dan inovasi untuk memasarkan usahanya.
Kreativitas dan inovasi tersebut dibutuhkan pedagang ekonomi kreatif untuk membantu berkontribusi kepada pemulihan ekonomi nasional, mengingat tiga dari 17 subsektor ekonomi kreatif menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dan ekspor Indonesia.
Baca Juga: Sandiaga Uno Ingin Karya Parekraf Dilindungi Hukum
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi dari ketiga subsektor tersebut yaitu 41% untuk industri kuliner, fashion sebesar 17%, dan industri kriya menyumbang sebesar 14,9%.
Dilansir dari Koran Sindo, Senin (7/6/2021), khusus untuk industri kriya, perubahan kebiasaan masyarakat selama pandemi Covid-19 sangat memengaruhi belanja kerajinan kriya, salah satunya masyarakat mulai tertarik untuk mendekorasi rumah untuk membuat hunian nyaman di tengah isolasi mandiri dan work from home.
Baca Juga: Sandiaga Sebut Ekonomi Kreatif Jadi Kekuatan Masa Depan Indonesia
Melihat peluang tersebut, benda-benda interior rumah jadi perhatian baru bagi masyarakat.  Tidak sedikit masyarakat yang melirik produk kerajinan karya Indonesia sebagai pilihan. Industri kriya dalam negeri termasuk salah satu sektor yang tangguh dalam menghadapi dampak ekonomi karena pandemi Covid-19.
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai ada pemulihan pada akhir 2020, meski pandemi masih terjadi di Indonesia. Kondisi ini berbanding terbalik dari masa awal pandemi, di mana nyaris tidak ada pesanan yang masuk ke industri mebel dan kerajinan nasional.Membaiknya sektor industri mebel di akhir 2020 memberikan sinyal  positif bagi produk kriya Indonesia. Inovasi yang dilakukan salah  satunya dari segi produk, seperti beradaptasi dengan permintaan pasar  dengan menciptakan produk home decor.
Jika sebelumnya pesanan lebih banyak berupa ukiran logo dan nama  perusahaan dari bahan kuningan dan tembaga, saat ini sudah tidak ada  lagi. Surutnya pesanan tersebut membuat para pelaku usaha kriya memutar  otak untuk berinovasi dalam produknya.
Mereka mulai mencoba menghasilkan produk berupa hiasan dinding untuk  wayang, ukiran-ukiran, dan hiasan lainnya. Terbukti, melalui inovasi  ini. permintaan pasar mulai kembali naik.
Inovasi pelaku usaha produk kriya dalam menjaga kelangsungan  bisnisnya juga sangat beragam. Salah satu inovasi besar yang dilakukan  adalah memasarkan produk kriya Indonesia secara digital. Hal ini  mempertimbangkan kelebihan pemasaran digital yang mampu menjangkau pasar  yang lebih luas.
Selain itu, pola pembelian masyarakat sejak pandemi berlangsung mulai  beralih ke arah digital. Hasil nyata dari inovasi yang dilakukan para  pelaku ekonomi kreatif subsektor kriya ini mulai tampak menjelang akhir  2020.
</content:encoded></item></channel></rss>
