<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos Asabri Ngadu ke DPR, Butuh Rp15,16 Triliun Nih</title><description>Asabri membutuhkan Risk Based Capital (RBC) atau modal minimum minimum sebesar Rp15,16 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih"/><item><title>Bos Asabri Ngadu ke DPR, Butuh Rp15,16 Triliun Nih</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih</guid><pubDate>Rabu 09 Juni 2021 17:30 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih-qWLmwiGjUR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/09/320/2422614/bos-asabri-ngadu-ke-dpr-butuh-rp15-16-triliun-nih-qWLmwiGjUR.jpg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyon memaparkan perseroan membutuhkan Risk Based Capital (RBC) atau modal minimum minimum sebesar Rp15,16 triliun. Dia menjelaskan, kebutuhan dana tersebut sesuai dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perseroan memang mencatatkan kerugian senilai Rp11,76 triliun sejak 2018-2020.
Baca Juga: Rugi Rp4,8 Triliun, Dirut Sebut Kinerja Asabri Sangat Memalukan
 
&quot;Tiga tahun terakhir kalau kami akumulasikan, Asabri mengalami kerugian secara komprehensif sebesar Rp11,76 triliun. Artinya akumulasi dari 2018 hingga 2020. Sehingga kami sampaikan kepada pimpinan (DPR) masih membutuhkan Risk Based Capital Rp15,16 triliun sesuai kebutuhan OJK,&quot; ujar Wahyu saat RDP bersama Komisi VI DPR, Rabu (9/6/2021).
Manajemen juga mencatat per 31 April 2021, ekuitas perusahaan mulai membaik. Kondisi itu disebabkan adanya perbaikan suku bunga aktuaria. Wahyu Suparyono menyebut, suku bunga pencadangan peserta  mengalami perbaikan laba secara komprehensif. Sehingga, per Juni tahun ini, suku bunga cadangan mencapai Rp1,4 triliun.
Baca Juga:&amp;nbsp; Kejagung Sita Apartemen Milik Terduga Pelaku Korupsi Asabri 
 
&quot;Desember 2020 ekuitas negatif Rp13,1 triliun, alhamdulillah per 30 April itu minus Rp12 triliun, kenapa ini terjadi karena disebabkan ada dampak dari perbaikan suku bunga aktuaria, jadi suku bunga pencadangan peserta ini ada perbaikan laba komprehensif di bulan ini adalah Rp1,4 triliun, karena ada pergerakan dari suku bunga aktuaria,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMy8xNi8xLzEzMDQzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dari paparannya, penyesuaian suku bunga aktuaria yang efektif per  April 2021 tersebut naik menjadi 7,48% dari posisi sebelumnya yakni  6,9%. Kenaikan pun berdampak signifikan pada penurunan cadangan.
&quot;Jadi Bapak Ibu sekalian, semakin suku bunga tinggi berarti pressure  value-nya, dengan demikian biaya semakin rendah. Ini hitung-hitungan  pencadangan dari yang kami cadangkan, jadi agak membaik diposisi April,&quot;  katanya.
Meski demikian, Asabri masih membukukan ekuitas negatif, dimana, pada  periode yang sama atau 31 April 2021 terjadinya penurunan cadangan  premi yang cukup besar.</description><content:encoded>JAKARTA - Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyon memaparkan perseroan membutuhkan Risk Based Capital (RBC) atau modal minimum minimum sebesar Rp15,16 triliun. Dia menjelaskan, kebutuhan dana tersebut sesuai dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perseroan memang mencatatkan kerugian senilai Rp11,76 triliun sejak 2018-2020.
Baca Juga: Rugi Rp4,8 Triliun, Dirut Sebut Kinerja Asabri Sangat Memalukan
 
&quot;Tiga tahun terakhir kalau kami akumulasikan, Asabri mengalami kerugian secara komprehensif sebesar Rp11,76 triliun. Artinya akumulasi dari 2018 hingga 2020. Sehingga kami sampaikan kepada pimpinan (DPR) masih membutuhkan Risk Based Capital Rp15,16 triliun sesuai kebutuhan OJK,&quot; ujar Wahyu saat RDP bersama Komisi VI DPR, Rabu (9/6/2021).
Manajemen juga mencatat per 31 April 2021, ekuitas perusahaan mulai membaik. Kondisi itu disebabkan adanya perbaikan suku bunga aktuaria. Wahyu Suparyono menyebut, suku bunga pencadangan peserta  mengalami perbaikan laba secara komprehensif. Sehingga, per Juni tahun ini, suku bunga cadangan mencapai Rp1,4 triliun.
Baca Juga:&amp;nbsp; Kejagung Sita Apartemen Milik Terduga Pelaku Korupsi Asabri 
 
&quot;Desember 2020 ekuitas negatif Rp13,1 triliun, alhamdulillah per 30 April itu minus Rp12 triliun, kenapa ini terjadi karena disebabkan ada dampak dari perbaikan suku bunga aktuaria, jadi suku bunga pencadangan peserta ini ada perbaikan laba komprehensif di bulan ini adalah Rp1,4 triliun, karena ada pergerakan dari suku bunga aktuaria,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMy8xNi8xLzEzMDQzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dari paparannya, penyesuaian suku bunga aktuaria yang efektif per  April 2021 tersebut naik menjadi 7,48% dari posisi sebelumnya yakni  6,9%. Kenaikan pun berdampak signifikan pada penurunan cadangan.
&quot;Jadi Bapak Ibu sekalian, semakin suku bunga tinggi berarti pressure  value-nya, dengan demikian biaya semakin rendah. Ini hitung-hitungan  pencadangan dari yang kami cadangkan, jadi agak membaik diposisi April,&quot;  katanya.
Meski demikian, Asabri masih membukukan ekuitas negatif, dimana, pada  periode yang sama atau 31 April 2021 terjadinya penurunan cadangan  premi yang cukup besar.</content:encoded></item></channel></rss>
