<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Kantongi Utang Rp24,6 Triliun dari Bank Dunia, Bisa untuk Apa?</title><description>Indonesia memperoleh utang baru dari Bank Dunia. Diketahui, jumlah  utang tersebut yakni sekitar USD1,7 miliar atau setara Rp24,6 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa"/><item><title>RI Kantongi Utang Rp24,6 Triliun dari Bank Dunia, Bisa untuk Apa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa</guid><pubDate>Selasa 22 Juni 2021 14:02 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa-DCrKFCoURk.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/22/320/2429049/ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa-DCrKFCoURk.jpeg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memperoleh utang baru dari Bank Dunia. Diketahui, jumlah utang tersebut yakni sekitar USD1,7 miliar atau setara Rp24,6 triliun.
Adapun utang tersebut digelontorkan dalam tiga tahap untuk mendukung tiga program pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Utang Luar Negeri Indonesia Dekati Rp6.000 Triliun
 
Peneliti Makroekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, jika dilihat dari aspek pembiayaan utang terutama sumbernya, keputusan Indonesia untuk mengantongi utang baru dari Bank Dunia merupakan alternatif ideal.
Menurut dia, kondisi Indonesia belakangan ini memang membutuhkan pembiayaan yang relatif cukup besar. Sebagai contohnya, yakni dari segi kesehatan dan ekonomi.
Baca Juga:&amp;nbsp; Rincian Utang Luar Negeri Indonesia yang Dekati Rp6.000 Triliun
 
&amp;ldquo;Kita lihat bahwa sejauh ini kondisi kesehatan kita belakangan mulai memburuk. Jadi, ini memang salah satu pertanda bahwa kita harus memperbaiki lagi kondisi dalam negeri. Ini memang juga belum kita bisa lihat stabil, dalam arti bahwa kita belum tahu sejauh mana kebutuhan pendanaan kita di kesehatan,&amp;rdquo; ujar Riefky dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (22/6/2021).
Lanjutnya, dari aspek ekonomi, hal ini membuat Indonesia memerlukan  pendanaan yang siaga. Di mana, sejauh ini Indonesia memang memiliki  margin utang yang sudah dilebarkan, yakni bisa melewati tiga persen  hingga tahun 2023.
&amp;ldquo;Sejauh ini kita memiliki margin utang yang sudah dilebarkan, bisa  lewat tiga persen hingga tahun 2023. Tapi kalau kita lihat beban  pembiayaan utang kita ini di APBN sudah cukup tinggi. Jadi ketimbang  menerbitkan utang melalui instrument normal yang relatif mahal yieldnya,  saya rasa memang dari bank dunia ini adalah altenatif yang ideal di  saat kondisi krisis seperti ini,&amp;rdquo; ucap Riefky.

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memperoleh utang baru dari Bank Dunia. Diketahui, jumlah utang tersebut yakni sekitar USD1,7 miliar atau setara Rp24,6 triliun.
Adapun utang tersebut digelontorkan dalam tiga tahap untuk mendukung tiga program pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Utang Luar Negeri Indonesia Dekati Rp6.000 Triliun
 
Peneliti Makroekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, jika dilihat dari aspek pembiayaan utang terutama sumbernya, keputusan Indonesia untuk mengantongi utang baru dari Bank Dunia merupakan alternatif ideal.
Menurut dia, kondisi Indonesia belakangan ini memang membutuhkan pembiayaan yang relatif cukup besar. Sebagai contohnya, yakni dari segi kesehatan dan ekonomi.
Baca Juga:&amp;nbsp; Rincian Utang Luar Negeri Indonesia yang Dekati Rp6.000 Triliun
 
&amp;ldquo;Kita lihat bahwa sejauh ini kondisi kesehatan kita belakangan mulai memburuk. Jadi, ini memang salah satu pertanda bahwa kita harus memperbaiki lagi kondisi dalam negeri. Ini memang juga belum kita bisa lihat stabil, dalam arti bahwa kita belum tahu sejauh mana kebutuhan pendanaan kita di kesehatan,&amp;rdquo; ujar Riefky dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (22/6/2021).
Lanjutnya, dari aspek ekonomi, hal ini membuat Indonesia memerlukan  pendanaan yang siaga. Di mana, sejauh ini Indonesia memang memiliki  margin utang yang sudah dilebarkan, yakni bisa melewati tiga persen  hingga tahun 2023.
&amp;ldquo;Sejauh ini kita memiliki margin utang yang sudah dilebarkan, bisa  lewat tiga persen hingga tahun 2023. Tapi kalau kita lihat beban  pembiayaan utang kita ini di APBN sudah cukup tinggi. Jadi ketimbang  menerbitkan utang melalui instrument normal yang relatif mahal yieldnya,  saya rasa memang dari bank dunia ini adalah altenatif yang ideal di  saat kondisi krisis seperti ini,&amp;rdquo; ucap Riefky.

</content:encoded></item></channel></rss>
