<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ternyata, PLTU Biomassa Bisa Jadi Peluang Bisnis</title><description>Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis co-firing biomassa dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis baru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis"/><item><title>Ternyata, PLTU Biomassa Bisa Jadi Peluang Bisnis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis</guid><pubDate>Selasa 22 Juni 2021 18:48 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis-ltCkLUQ9Wc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Listrik (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/22/455/2429239/ternyata-pltu-biomassa-bisa-jadi-peluang-bisnis-ltCkLUQ9Wc.jpg</image><title>Listrik (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis co-firing biomassa dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis baru. Dengan teknologi ini, sampah dapat menjadi bahan bakar untuk menghasilkan energi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Sahid Junaidi mengatakan biomassa untuk co-firing bisa diambil dari limbah pertanian, industri pengolahan kayu, rumah tangga serta tanaman energi yang dibudidayakan sehingga bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Baca Juga: Pembangkit Indonesia Power Semarang Kebakaran, Pasokan Listrik Aman?
 
&quot;Co-firing berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan karena dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,&quot; kata Sahid dilansir dari Antara, Selasa (22/6/2021).
Dia menjelaskan bahwa menjaga pasokan bahan baku biomassa dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian menjadi tantangan terbesar dalam implementasi co-firing.
Baca Juga: Sukses Jadi Orang Kaya Berharta Rp15,7 Triliun dari Pembangkit Listrik
 
Suplai sampah yang stabil penting agar harga listrik tetap terjangkau dan tidak melebihi biaya pokok penyediaan.
&quot;Kami mendukung upaya PLN untuk terus mencari peluang-peluang pemanfaatan biomassa melakukan komitmen dengan pemasok,&quot; kata Sahid.Sebelumnya diberitakan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah  melakukan implementasi co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu  bara pada 17 pembangkit listrik tenaga uap hingga Juni 2021.
Dari total 17 PLTU yang menggunakan biomassa secara komersial  tersebut, sekitar 12 PLTU tersebar di Jawa dan lima lokasi di luar Jawa.
Pembangkit-pembangkit itu dikelola dua anak usaha PLN, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).
Indonesia Power menghasilkan listrik melalui co-firing di PLTU  Suralaya I sampai IV, PLTU Suralaya VI sampai VII, PLTU Sanggau, PLTU  Jeranjang, PLTU Labuan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Barru dan  PLTU Adipala.
Sedangkan PJB menghasilkan energi melalui co-firing PLTU Paiton Unit I  dan II, PLTU Pacitan, PLTU Ketapang, PLTU Anggrek, PLTU Rembang, PLTU  Paiton IX, PLTU Tanjung Awar-Awar, dan PLTU Indramayu.
Dalam pelaksanaan co-firing di 17 PLTU, kedua anak usaha PLN itu  memanfaatkan limbah serbuk kayu atau sawdust, woodchip, dan solid  recovered fuel dari sampah.
Sepanjang 2021, kebutuhan biomassa untuk bahan bakar pembangkit  diproyeksikan mencapai 570.000 ton yang akan dipasok dari sejumlah  perusahaan.</description><content:encoded>JAKARTA - Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis co-firing biomassa dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis baru. Dengan teknologi ini, sampah dapat menjadi bahan bakar untuk menghasilkan energi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Sahid Junaidi mengatakan biomassa untuk co-firing bisa diambil dari limbah pertanian, industri pengolahan kayu, rumah tangga serta tanaman energi yang dibudidayakan sehingga bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Baca Juga: Pembangkit Indonesia Power Semarang Kebakaran, Pasokan Listrik Aman?
 
&quot;Co-firing berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan karena dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,&quot; kata Sahid dilansir dari Antara, Selasa (22/6/2021).
Dia menjelaskan bahwa menjaga pasokan bahan baku biomassa dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian menjadi tantangan terbesar dalam implementasi co-firing.
Baca Juga: Sukses Jadi Orang Kaya Berharta Rp15,7 Triliun dari Pembangkit Listrik
 
Suplai sampah yang stabil penting agar harga listrik tetap terjangkau dan tidak melebihi biaya pokok penyediaan.
&quot;Kami mendukung upaya PLN untuk terus mencari peluang-peluang pemanfaatan biomassa melakukan komitmen dengan pemasok,&quot; kata Sahid.Sebelumnya diberitakan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah  melakukan implementasi co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu  bara pada 17 pembangkit listrik tenaga uap hingga Juni 2021.
Dari total 17 PLTU yang menggunakan biomassa secara komersial  tersebut, sekitar 12 PLTU tersebar di Jawa dan lima lokasi di luar Jawa.
Pembangkit-pembangkit itu dikelola dua anak usaha PLN, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).
Indonesia Power menghasilkan listrik melalui co-firing di PLTU  Suralaya I sampai IV, PLTU Suralaya VI sampai VII, PLTU Sanggau, PLTU  Jeranjang, PLTU Labuan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Barru dan  PLTU Adipala.
Sedangkan PJB menghasilkan energi melalui co-firing PLTU Paiton Unit I  dan II, PLTU Pacitan, PLTU Ketapang, PLTU Anggrek, PLTU Rembang, PLTU  Paiton IX, PLTU Tanjung Awar-Awar, dan PLTU Indramayu.
Dalam pelaksanaan co-firing di 17 PLTU, kedua anak usaha PLN itu  memanfaatkan limbah serbuk kayu atau sawdust, woodchip, dan solid  recovered fuel dari sampah.
Sepanjang 2021, kebutuhan biomassa untuk bahan bakar pembangkit  diproyeksikan mencapai 570.000 ton yang akan dipasok dari sejumlah  perusahaan.</content:encoded></item></channel></rss>
