<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Kunci Kendalikan Utang Pemerintah, Apa Saja?</title><description>Bank Indonesia (BI) merilis data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2021 tumbuh melambat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja"/><item><title>5 Kunci Kendalikan Utang Pemerintah, Apa Saja?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja</guid><pubDate>Sabtu 26 Juni 2021 18:34 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja-howp0h4rCg.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Utang Indonesia (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/26/320/2431366/5-kunci-kendalikan-utang-pemerintah-apa-saja-howp0h4rCg.jpeg</image><title>Utang Indonesia (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA -  Bank Indonesia (BI) merilis data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2021 tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada akhir April 2021 sebesar USD418,0 miliar atau tumbuh 4,8% (yoy). Utang USD418 miliar setara Rp5.977,4 triliun (kurs Rp14.300 per USD).
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan setidaknya ada lima kunci dalam rangka memitigasi dan mengendalikan utang pemerintah, yang sedang naik signifikan dan menimbulkan kekhawatiran.
Baca Juga: Rincian Utang Luar Negeri Indonesia yang Dekati Rp6.000 Triliun
&quot;Mitigasi utang biar tidak bertambah adalah pertama, melakukan negosiasi utang dengan segera,&quot; katanya dilansir dari Antara, Sabtu (26/6/2021).
Bhima menyatakan negosiasi bisa diberikan kepada negara untuk melakukan penangguhan pembayaran utang terlebih lagi dalam konteks bencana pandemi COVID-19.
Ia menuturkan jika Indonesia memiliki beban utang yang berat dengan bunga Rp373 triliun per tahun, maka dapat meminta keringanan kepada kreditur agar pembayaran bunga utangnya ditunda hingga 2022 atau 2023.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Lagi, Kini Tembus Rp5.977 Triliun
Kedua, mengenai penerimaan pajak, yang berarti rasio pajaknya harus dinaikkan salah satunya berupa peningkatan kepatuhan pajak.
Ketiga adalah mengenai insentif pajak, menurut Bhima, sebaiknya dihentikan khususnya pada sektor-sektor yang telah diberi stimulus, namun belum efektif.
Keempat yaitu mempersempit ruang perilaku koruptif dalam penegakan  aturan perpajakan karena hal ini dapat merugikan penerimaan pajak.
&quot;Itu juga merugikan penerimaan pajak yang ujungnya beban antara  penambahan utang dengan kewajiban pembayaran utangnya menjadi semakin  berat,&quot; tegasnya.
Terakhir yakni pemerintah dapat melakukan penghematan secara lebih  ketat terhadap belanja-belanja yang bersifat birokratis seperti belanja  pegawai dan belanja barang.
&quot;Belanja yang tidak urgent seperti perjalanan dinas bisa dipangkas  karena ruang fiskal itu juga harus dijaga agar masih tetap bisa  melakukan belanja-belanja lain yang lebih urgent,&quot; ujarnya.
Bhima menjelaskan permasalahan dalam pengelolaan utang selama ini  bukan mengenai penambahan jumlahnya melainkan terkait produktivitas dari  utang itu untuk menghasilkan valuta asing (valas) yang lebih besar.
&quot;Apalagi, utangnya diterbitkan dalam bentuk utang luar negeri maka  utang luar negeri harus dibayar dengan dolar dengan valas,&quot; katanya.
Oleh sebab itu, ia mengatakan seharusnya pemerintah lebih bisa  mendorong sektor-sektor penghasil valas seperti ekspor dan devisa dari  tenaga kerja.
&quot;Itu yang seharusnya didorong sekarang. Jadi, selama ini, itu yang menjadi masalah,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA -  Bank Indonesia (BI) merilis data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2021 tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada akhir April 2021 sebesar USD418,0 miliar atau tumbuh 4,8% (yoy). Utang USD418 miliar setara Rp5.977,4 triliun (kurs Rp14.300 per USD).
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan setidaknya ada lima kunci dalam rangka memitigasi dan mengendalikan utang pemerintah, yang sedang naik signifikan dan menimbulkan kekhawatiran.
Baca Juga: Rincian Utang Luar Negeri Indonesia yang Dekati Rp6.000 Triliun
&quot;Mitigasi utang biar tidak bertambah adalah pertama, melakukan negosiasi utang dengan segera,&quot; katanya dilansir dari Antara, Sabtu (26/6/2021).
Bhima menyatakan negosiasi bisa diberikan kepada negara untuk melakukan penangguhan pembayaran utang terlebih lagi dalam konteks bencana pandemi COVID-19.
Ia menuturkan jika Indonesia memiliki beban utang yang berat dengan bunga Rp373 triliun per tahun, maka dapat meminta keringanan kepada kreditur agar pembayaran bunga utangnya ditunda hingga 2022 atau 2023.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Lagi, Kini Tembus Rp5.977 Triliun
Kedua, mengenai penerimaan pajak, yang berarti rasio pajaknya harus dinaikkan salah satunya berupa peningkatan kepatuhan pajak.
Ketiga adalah mengenai insentif pajak, menurut Bhima, sebaiknya dihentikan khususnya pada sektor-sektor yang telah diberi stimulus, namun belum efektif.
Keempat yaitu mempersempit ruang perilaku koruptif dalam penegakan  aturan perpajakan karena hal ini dapat merugikan penerimaan pajak.
&quot;Itu juga merugikan penerimaan pajak yang ujungnya beban antara  penambahan utang dengan kewajiban pembayaran utangnya menjadi semakin  berat,&quot; tegasnya.
Terakhir yakni pemerintah dapat melakukan penghematan secara lebih  ketat terhadap belanja-belanja yang bersifat birokratis seperti belanja  pegawai dan belanja barang.
&quot;Belanja yang tidak urgent seperti perjalanan dinas bisa dipangkas  karena ruang fiskal itu juga harus dijaga agar masih tetap bisa  melakukan belanja-belanja lain yang lebih urgent,&quot; ujarnya.
Bhima menjelaskan permasalahan dalam pengelolaan utang selama ini  bukan mengenai penambahan jumlahnya melainkan terkait produktivitas dari  utang itu untuk menghasilkan valuta asing (valas) yang lebih besar.
&quot;Apalagi, utangnya diterbitkan dalam bentuk utang luar negeri maka  utang luar negeri harus dibayar dengan dolar dengan valas,&quot; katanya.
Oleh sebab itu, ia mengatakan seharusnya pemerintah lebih bisa  mendorong sektor-sektor penghasil valas seperti ekspor dan devisa dari  tenaga kerja.
&quot;Itu yang seharusnya didorong sekarang. Jadi, selama ini, itu yang menjadi masalah,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
