<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siapkan Tabungan, Antisipasi Ekonomi Memburuk Imbas Lonjakan Covid-19</title><description>Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet mengatakan jika melihat pandangan dari epidemiolog yang menyatakan bahwa PPKM mikro tidak begitu optimal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19"/><item><title>Siapkan Tabungan, Antisipasi Ekonomi Memburuk Imbas Lonjakan Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19</guid><pubDate>Minggu 27 Juni 2021 22:25 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19-qcKJZzVwtM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lonjakan Kasus Covid-19 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/27/320/2431686/siapkan-tabungan-antisipasi-ekonomi-memburuk-imbas-lonjakan-covid-19-qcKJZzVwtM.jpg</image><title>Lonjakan Kasus Covid-19 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa jika melihat pandangan dari epidemiolog yang menyatakan bahwa PPKM mikro tidak begitu optimal dalam menekan angka kenaikan, hal ini sebenarnya sudah terbukti karena dalam beberapa hari terakhir slope kenaikan kasus positif Covid-19 semakin curam ke atas.
Di sisi lain, semakin tinggi kenaikan kasus Covid-19 membutuhkan waktu untuk kembali menurunkannya, dalam periode tersebut tentu aktivitas masyarakat akan terganggu.
&quot;Ketika aktivitas masyarakat terganggu maka sudah tentu aktivitas perekonomian juga akan ikut terganggu, ketika aktivitas perekonomian terganggu maka sudah pasti akan berdampak pada beragam indikator perekonomian,&quot; ujar Yusuf kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (27/6/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Cek Perubahan Jam Operasional Bank Mandiri Imbas Lonjakan Covid-19
Ketika berbicara soal asumsi makro, pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya sudah terlihat membaik di kuartal II, ini berpotensi terganggu proses pemulihannya, terutama jika penanganan Covid-19 nya terjadi secara berlarut-larut. Bisa jadi pertumbuhan ekonomi di kuartal III, berpotensi lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Baca Juga:&amp;nbsp;Lonjakan Kasus Covid-19, Satgas: Ini Dampak Mudik Lebaran
&quot;Sementara untuk nilai tukar, dengan naik kasus Covid-19, tentu persepsi risiko investor untuk Indonesia mengalami peningkatan, ketika meningkat potensi untuk terjadi capital outflow menjadi semakin besar, ketika capital outflow terjadi dan jika lebih buruk terjadi secara tiba-tiba, maka sudah pasti akan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah yang akan terdepresiasi,&quot; jelas Yusuf.
Atas beragam dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan baik itu dari sisi kesehatan maupun ekonomi, maka langkah lebih serius diperlukan pemerintah karena PPKM mikro tidak cukup dalam menahan kenaikan laju kasus Covid-19.
&quot;Saya kira pos tabungan perlu ditambah dalam situasi seperti sekarang. Untuk mengantisipasi jika kondisi ekonomi memburuk. Selain itu sebisa mungkin menyisihkan dana untuk kesehatan, baik itu untuk membeli vitamin ataupun obat penambah daya tahan tubuh. Serta kalau seandainya membutuhkan perawatan lebih lanjut,&quot; pungkas Yusuf.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa jika melihat pandangan dari epidemiolog yang menyatakan bahwa PPKM mikro tidak begitu optimal dalam menekan angka kenaikan, hal ini sebenarnya sudah terbukti karena dalam beberapa hari terakhir slope kenaikan kasus positif Covid-19 semakin curam ke atas.
Di sisi lain, semakin tinggi kenaikan kasus Covid-19 membutuhkan waktu untuk kembali menurunkannya, dalam periode tersebut tentu aktivitas masyarakat akan terganggu.
&quot;Ketika aktivitas masyarakat terganggu maka sudah tentu aktivitas perekonomian juga akan ikut terganggu, ketika aktivitas perekonomian terganggu maka sudah pasti akan berdampak pada beragam indikator perekonomian,&quot; ujar Yusuf kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (27/6/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Cek Perubahan Jam Operasional Bank Mandiri Imbas Lonjakan Covid-19
Ketika berbicara soal asumsi makro, pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya sudah terlihat membaik di kuartal II, ini berpotensi terganggu proses pemulihannya, terutama jika penanganan Covid-19 nya terjadi secara berlarut-larut. Bisa jadi pertumbuhan ekonomi di kuartal III, berpotensi lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Baca Juga:&amp;nbsp;Lonjakan Kasus Covid-19, Satgas: Ini Dampak Mudik Lebaran
&quot;Sementara untuk nilai tukar, dengan naik kasus Covid-19, tentu persepsi risiko investor untuk Indonesia mengalami peningkatan, ketika meningkat potensi untuk terjadi capital outflow menjadi semakin besar, ketika capital outflow terjadi dan jika lebih buruk terjadi secara tiba-tiba, maka sudah pasti akan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah yang akan terdepresiasi,&quot; jelas Yusuf.
Atas beragam dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan baik itu dari sisi kesehatan maupun ekonomi, maka langkah lebih serius diperlukan pemerintah karena PPKM mikro tidak cukup dalam menahan kenaikan laju kasus Covid-19.
&quot;Saya kira pos tabungan perlu ditambah dalam situasi seperti sekarang. Untuk mengantisipasi jika kondisi ekonomi memburuk. Selain itu sebisa mungkin menyisihkan dana untuk kesehatan, baik itu untuk membeli vitamin ataupun obat penambah daya tahan tubuh. Serta kalau seandainya membutuhkan perawatan lebih lanjut,&quot; pungkas Yusuf.</content:encoded></item></channel></rss>
