<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>World Bank: Indonesia Butuh Pekerja Kelas Menengah agar Negara Lebih Sejahtera</title><description>World Bank mengatakan Indonesia perlu menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera"/><item><title>World Bank: Indonesia Butuh Pekerja Kelas Menengah agar Negara Lebih Sejahtera</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera</guid><pubDate>Rabu 30 Juni 2021 14:34 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera-izba1oXiXn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Dunia (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/30/320/2433225/world-bank-indonesia-butuh-pekerja-kelas-menengah-agar-negara-lebih-sejahtera-izba1oXiXn.jpg</image><title>Bank Dunia (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - World Bank mengatakan Indonesia perlu menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Hal ini diungkapkan dalam laporan Bank Dunia bertajuk Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia .
&quot;Pekerjaan kelas menengah dapat diartikan sebagai pekerjaan yang membayar upah, gaji atau keuntungan yang memungkinkan keluarga pekerja rata-rata untuk mengkonsumsi cara hidup kelas menengah yang setara dengan Rp3,752 juta per bulannya,&quot; kata Ekonom Bank Dunia Indonesia, Maria Monica Wihardja saat peluncuran daring laporan Bank Dunia, Rabu.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bikin Kartu Kuning Calon Pekerja Gratis, Menaker: Ada Pungli Laporkan!
Monica menyampaikan pekerjaan kelas menengah bisa dalam bentuk formal sektor dan informal sektor. Bank Dunia mencatat dari total 124 juta pekerja di Indonesia pada 2018, sebanyak 85 juta pekerja merupakan pekerja lepas, karyawan atau wiraswasta yang mendapatkan upah, gaji atau keuntungan pribadi. Sedangkan 39 juta lainnya merupakan pekerja keluarga yang tidak dibayar pekerja yang mengandalkan keuntungan bisnis.
&quot;Dari 85 juta pekerja, hanya 15,4% yang mendapatkan penghasilan kelas menengah dan hanya empat% yang mendapat penghasilan kelas menengah dengan status pegawai tetap dan menerima manfaat sosial penuh,&quot; jelas Monica.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pekerja RI Workaholic Dibanding AS dan Inggris, Simak Dampak Bahayanya
Tiga faktor yang menghambat transisi Indonesia ke pekerjaan kelas menengah, lanjut Monica, adalah transformasi struktural belum mampu membawa peningkatan
produktivitas yang cukup. Faktor kedua, struktur ekonomi yang tidak kondusif untuk mendukung pekerjaan kelas menegah, serta sebagian besar tenaga kerja Indonesia tidak siap untuk menjalankan pekerjaan kelas menengah.
&quot;Per 2018, 59% pekerja hanya mengenyam pendidikan selama 9 tahun atau bahkan kurang. Hanya 50% wanita usia kerja yang bekerja dan saat bekerja wanita penghasilan wanita 25% lebih rendah dibandingkan pria,&quot; ungkapnya.Karenanya, Bank Dunia merekomendasikan tiga reformasi kebijakan agar  Indonesia dapat menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah.  Rekomendasi pertama adalah mempercepat pertumbuhan produktivitas secara  menyeluruh melalui penerapan berbagai kebijakan secara efektif yang  dapat membuka kunci bagi masuk dan berkembangnya perusahaan-perusahaan  baru, sehingga tercipta kompetisi dan inovasi.
Rekomendasi kedua, strategi promosi untuk penanaman modal baru di  sektor-sektor yang kemungkinannya akan menciptakan pekerjaan kelas  menengah, seperti misalnya sektor manufaktur. Kemudian dukungan  komplementer, seperti sistem informasi pasar kerja dan asuransi terkait  kehilangan pekerjaan untuk mendanai pencarian dan relokasi yang dapat  membantu dalam proses transisi para pekerja menuju pekerjaan kelas  menengah.
Sedangkan rekomendasi ketiga adalah memfasilitasi pembelajaran dan  pelatihan yang mencakup seluruh angkatan kerja dan memberikan dukungan  yang disesuaikan bagi kelompok-kelompok khusus, terutama perempuan dan  generasi muda. Perubahan perundang-undangan juga diperlukan untuk  mewujudkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life  balance) serta mendukung peningkatan partisipasi dan keberhasilan  perempuan di pasar kerja.
</description><content:encoded>JAKARTA - World Bank mengatakan Indonesia perlu menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Hal ini diungkapkan dalam laporan Bank Dunia bertajuk Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia .
&quot;Pekerjaan kelas menengah dapat diartikan sebagai pekerjaan yang membayar upah, gaji atau keuntungan yang memungkinkan keluarga pekerja rata-rata untuk mengkonsumsi cara hidup kelas menengah yang setara dengan Rp3,752 juta per bulannya,&quot; kata Ekonom Bank Dunia Indonesia, Maria Monica Wihardja saat peluncuran daring laporan Bank Dunia, Rabu.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bikin Kartu Kuning Calon Pekerja Gratis, Menaker: Ada Pungli Laporkan!
Monica menyampaikan pekerjaan kelas menengah bisa dalam bentuk formal sektor dan informal sektor. Bank Dunia mencatat dari total 124 juta pekerja di Indonesia pada 2018, sebanyak 85 juta pekerja merupakan pekerja lepas, karyawan atau wiraswasta yang mendapatkan upah, gaji atau keuntungan pribadi. Sedangkan 39 juta lainnya merupakan pekerja keluarga yang tidak dibayar pekerja yang mengandalkan keuntungan bisnis.
&quot;Dari 85 juta pekerja, hanya 15,4% yang mendapatkan penghasilan kelas menengah dan hanya empat% yang mendapat penghasilan kelas menengah dengan status pegawai tetap dan menerima manfaat sosial penuh,&quot; jelas Monica.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pekerja RI Workaholic Dibanding AS dan Inggris, Simak Dampak Bahayanya
Tiga faktor yang menghambat transisi Indonesia ke pekerjaan kelas menengah, lanjut Monica, adalah transformasi struktural belum mampu membawa peningkatan
produktivitas yang cukup. Faktor kedua, struktur ekonomi yang tidak kondusif untuk mendukung pekerjaan kelas menegah, serta sebagian besar tenaga kerja Indonesia tidak siap untuk menjalankan pekerjaan kelas menengah.
&quot;Per 2018, 59% pekerja hanya mengenyam pendidikan selama 9 tahun atau bahkan kurang. Hanya 50% wanita usia kerja yang bekerja dan saat bekerja wanita penghasilan wanita 25% lebih rendah dibandingkan pria,&quot; ungkapnya.Karenanya, Bank Dunia merekomendasikan tiga reformasi kebijakan agar  Indonesia dapat menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah.  Rekomendasi pertama adalah mempercepat pertumbuhan produktivitas secara  menyeluruh melalui penerapan berbagai kebijakan secara efektif yang  dapat membuka kunci bagi masuk dan berkembangnya perusahaan-perusahaan  baru, sehingga tercipta kompetisi dan inovasi.
Rekomendasi kedua, strategi promosi untuk penanaman modal baru di  sektor-sektor yang kemungkinannya akan menciptakan pekerjaan kelas  menengah, seperti misalnya sektor manufaktur. Kemudian dukungan  komplementer, seperti sistem informasi pasar kerja dan asuransi terkait  kehilangan pekerjaan untuk mendanai pencarian dan relokasi yang dapat  membantu dalam proses transisi para pekerja menuju pekerjaan kelas  menengah.
Sedangkan rekomendasi ketiga adalah memfasilitasi pembelajaran dan  pelatihan yang mencakup seluruh angkatan kerja dan memberikan dukungan  yang disesuaikan bagi kelompok-kelompok khusus, terutama perempuan dan  generasi muda. Perubahan perundang-undangan juga diperlukan untuk  mewujudkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life  balance) serta mendukung peningkatan partisipasi dan keberhasilan  perempuan di pasar kerja.
</content:encoded></item></channel></rss>
