<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Plus Minus Keputusan PPKM Darurat bagi Ekonomi Indonesia</title><description>Masyarakat harus bersiap melakukan PPKM Darurat di Jawa dan Bali.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia"/><item><title>Plus Minus Keputusan PPKM Darurat bagi Ekonomi Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia</guid><pubDate>Kamis 01 Juli 2021 14:18 WIB</pubDate><dc:creator>Hafid Fuad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia-KV4ABtJDt0.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/01/320/2433844/plus-minus-keputusan-ppkm-darurat-bagi-ekonomi-indonesia-KV4ABtJDt0.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Masyarakat harus bersiap melakukan PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Namun Pengamat ekonomi Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai opsi lockdown lebih baik ketimbang PPKM Darurat.
Indonesia disebutnya lebih memilih relaksasi pembatasan sosial di atas lockdown, karantina wilayah atau PSBB sekalipun. Seperti kebijakan dibolehkan mudik atau pulang kampung yang mengundang kritik dari masyarakat termasuk tenaga kerja kesehatan.
Baca Juga: PPKM Darurat, Transportasi Umum Hanya Boleh Angkut Penumpang Maksimal 70%
 
Kebijakan PSBB Jakarta sebelumnya cukup berhasil menekan jumlah terinfeksi. Ketika PSBB diperlonggar, jumlah terinfeksi meningkat tajam. &quot;Lockdown mini akan membuat masyarakat tambah bingung dan membatasi aktivitas sosialnya lebih ketat. Sehingga kebijakan ini akan membuat pertumbuhan ekonomi lebih buruk,&quot; kata Anthony saat dihubungi Okezone di Jakarta (1/7/2021).
Baca Juga: Selama PPKM Darurat, Bioskop dan Tempat Wisata Tutup
 
Studi dari universitas John Hopkins, AS, memperlihatkan relaksasi kebijakan lockdown terlalu dini mempunyai dampak buruk terhadap ekonomi. Bukan meningkatkan ekonomi seperti yang dikira.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNy8wMS8xLzEzNTc2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Karena relaksasi membuat jumlah terinfeksi meningkat lagi. Sedangkan  jumlah terinfeksi mempunyai korelasi negatif dengan pertumbuhan belanja  konsumen. Yaitu, semakin tinggi jumlah terinfeksi, semakin rendah  pertumbuhan belanja konsumen. Artinya, relaksasi pembatasan sosial  memberi dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena konsumen  dengan sendirinya akan membatasi aktivitas ekonominya karena mereka  khawatir tertular.
&quot;Tingkat terinfeksi tinggi juga akan menghambat investasi. Investor  akan bereaksi negatif kalau tingkat infeksi dibiarkan tinggi,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Masyarakat harus bersiap melakukan PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Namun Pengamat ekonomi Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai opsi lockdown lebih baik ketimbang PPKM Darurat.
Indonesia disebutnya lebih memilih relaksasi pembatasan sosial di atas lockdown, karantina wilayah atau PSBB sekalipun. Seperti kebijakan dibolehkan mudik atau pulang kampung yang mengundang kritik dari masyarakat termasuk tenaga kerja kesehatan.
Baca Juga: PPKM Darurat, Transportasi Umum Hanya Boleh Angkut Penumpang Maksimal 70%
 
Kebijakan PSBB Jakarta sebelumnya cukup berhasil menekan jumlah terinfeksi. Ketika PSBB diperlonggar, jumlah terinfeksi meningkat tajam. &quot;Lockdown mini akan membuat masyarakat tambah bingung dan membatasi aktivitas sosialnya lebih ketat. Sehingga kebijakan ini akan membuat pertumbuhan ekonomi lebih buruk,&quot; kata Anthony saat dihubungi Okezone di Jakarta (1/7/2021).
Baca Juga: Selama PPKM Darurat, Bioskop dan Tempat Wisata Tutup
 
Studi dari universitas John Hopkins, AS, memperlihatkan relaksasi kebijakan lockdown terlalu dini mempunyai dampak buruk terhadap ekonomi. Bukan meningkatkan ekonomi seperti yang dikira.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNy8wMS8xLzEzNTc2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Karena relaksasi membuat jumlah terinfeksi meningkat lagi. Sedangkan  jumlah terinfeksi mempunyai korelasi negatif dengan pertumbuhan belanja  konsumen. Yaitu, semakin tinggi jumlah terinfeksi, semakin rendah  pertumbuhan belanja konsumen. Artinya, relaksasi pembatasan sosial  memberi dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena konsumen  dengan sendirinya akan membatasi aktivitas ekonominya karena mereka  khawatir tertular.
&quot;Tingkat terinfeksi tinggi juga akan menghambat investasi. Investor  akan bereaksi negatif kalau tingkat infeksi dibiarkan tinggi,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
