<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengembang 'Malas' Bangun Properti Selama Pandemi Covid-19</title><description>Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan pengembang properti baik perkantoran maupun apartemen tidak lagi agresif membangun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19"/><item><title>Pengembang 'Malas' Bangun Properti Selama Pandemi Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Rabu 07 Juli 2021 20:23 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19-iDj9QSJRD7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/07/470/2437117/pengembang-malas-bangun-properti-selama-pandemi-covid-19-iDj9QSJRD7.jpeg</image><title>Rumah (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan pengembang properti baik perkantoran maupun apartemen tidak lagi agresif membangun seiring dengan terganggunya aktivitas perekonomian.
&quot;Developer menahan diri agar tidak terlalu agresif dalam membangun,&quot; kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dilansir dari Antara, Rabu (7/7/2021).
Baca Juga: Polda Metro Klaim Kepadatan di Titik Penyekatan PPKM Darurat Menurun
 
Menurut dia, pada saat ini, kondisinya cenderung pasokan unit properti menurun, begitu pula dengan kecenderungan permintaan yang menurun terhadap berbagai jenis properti.
Padahal, lanjutnya, idealnya kalau pasokan diredam sehingga tidak terlalu agresif dalam penambahannya, maka dari sisi permintaannya seharusnya ada peningkatan.
Baca Juga: Zulhas: Persoalan Covid-19 Bukan Masalah Pemerintah Saja, tapi Juga Dunia 
 
Ia mengungkapkan beberapa aktivitas pembangunan gedung perkantoran akan mundur waktu penyelesaian konstruksinya, sedangkan gedung yang mulai beroperasi pada kuartal II 2021 ini adalah Trinity Tower (di kawasan CBD atau sentrabisnis Jakarta) dan Wisma Barito Pacific 2 (di luar CBD).
&quot;Pertumbuhan pasok relatif terbatas dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke depan. Saat ini, cukup sulit untuk memprediksi kapan pengembang akan memulai pembangunan gedung-gedung baru,&quot; katanya.
Ferry juga mengungkapkan hal ini untuk pertama kalinya tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD berada di bawah 80%, yang terjadi antara lain karena pengurangan luas kantor.Berdasarkan data Colliers, rata-rata tingkat hunian gedung  perkantoran di kawasan CBD Jakarta adalah sekitar 80% di daerah Thamrin,  79% baik di Sudirman maupun di Satrio, 81% baik di Rasuna Said maupun  di Gatot Subroto, dan 71% di Mega Kuningan.
Sebelumnya, Head of Capital Markets &amp;amp; Investment Services  Colliers Indonesia Steve Atherton mengatakan pemberlakuan pembatasan  kegiatan masyarakat (PPKM) darurat bakal membuat investor sektor  properti lebih berhati-hati.
&quot;Dengan aturan baru PPKM darurat pada 3-20 Juli, investor lokal akan sangat hati-hati,&quot; katanya.
Menurut dia, dengan aturan baru tersebut maka pergerakan bisnis sektor properti akan lebih terlokalisasi.
Selain itu, ujar dia, pada saat ini optimisme pasar properti masih tertahan sehingga akan lebih memilih langkah teraman.</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan pengembang properti baik perkantoran maupun apartemen tidak lagi agresif membangun seiring dengan terganggunya aktivitas perekonomian.
&quot;Developer menahan diri agar tidak terlalu agresif dalam membangun,&quot; kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dilansir dari Antara, Rabu (7/7/2021).
Baca Juga: Polda Metro Klaim Kepadatan di Titik Penyekatan PPKM Darurat Menurun
 
Menurut dia, pada saat ini, kondisinya cenderung pasokan unit properti menurun, begitu pula dengan kecenderungan permintaan yang menurun terhadap berbagai jenis properti.
Padahal, lanjutnya, idealnya kalau pasokan diredam sehingga tidak terlalu agresif dalam penambahannya, maka dari sisi permintaannya seharusnya ada peningkatan.
Baca Juga: Zulhas: Persoalan Covid-19 Bukan Masalah Pemerintah Saja, tapi Juga Dunia 
 
Ia mengungkapkan beberapa aktivitas pembangunan gedung perkantoran akan mundur waktu penyelesaian konstruksinya, sedangkan gedung yang mulai beroperasi pada kuartal II 2021 ini adalah Trinity Tower (di kawasan CBD atau sentrabisnis Jakarta) dan Wisma Barito Pacific 2 (di luar CBD).
&quot;Pertumbuhan pasok relatif terbatas dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke depan. Saat ini, cukup sulit untuk memprediksi kapan pengembang akan memulai pembangunan gedung-gedung baru,&quot; katanya.
Ferry juga mengungkapkan hal ini untuk pertama kalinya tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD berada di bawah 80%, yang terjadi antara lain karena pengurangan luas kantor.Berdasarkan data Colliers, rata-rata tingkat hunian gedung  perkantoran di kawasan CBD Jakarta adalah sekitar 80% di daerah Thamrin,  79% baik di Sudirman maupun di Satrio, 81% baik di Rasuna Said maupun  di Gatot Subroto, dan 71% di Mega Kuningan.
Sebelumnya, Head of Capital Markets &amp;amp; Investment Services  Colliers Indonesia Steve Atherton mengatakan pemberlakuan pembatasan  kegiatan masyarakat (PPKM) darurat bakal membuat investor sektor  properti lebih berhati-hati.
&quot;Dengan aturan baru PPKM darurat pada 3-20 Juli, investor lokal akan sangat hati-hati,&quot; katanya.
Menurut dia, dengan aturan baru tersebut maka pergerakan bisnis sektor properti akan lebih terlokalisasi.
Selain itu, ujar dia, pada saat ini optimisme pasar properti masih tertahan sehingga akan lebih memilih langkah teraman.</content:encoded></item></channel></rss>
