<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lebih Banyak Simpan Uang, Orang RI Enggan Ajukan Kredit di Bank</title><description>Kinerja perbankan selama pandemi covid-19 tak begitu cemerlang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank"/><item><title>Lebih Banyak Simpan Uang, Orang RI Enggan Ajukan Kredit di Bank</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank</guid><pubDate>Kamis 08 Juli 2021 10:42 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank-6oxkKTjt8E.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/08/622/2437373/lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank-6oxkKTjt8E.jpg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kinerja perbankan selama pandemi covid-19 tak begitu cemerlang. Sebab, masyarakat masih enggan mengajukan kredit sehingga penyaluran kredit perbankan masih rendah.
Baca Juga: Realisasi KUR Tembus Rp128,4 Triliun di Awal Juli
 
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai penyaluran  kredit masih tertahan, sementara jumlah Dana Pihak Ketiga meningkat.
&quot;Hal ini terjadi karena konsumsi masyarakat berkurang akibat motif berjaga-jaga karena tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi,&quot; kata Aviliani di Jakarta, Kamis (8/7/2021).
Baca Juga: Bunga Turun, OJK Sebut Permintaan Kredit Masih Lesu
Lalu, peningkatan dana pihak ketiga terus berlanjut hingga Juni 2021 sejak 2020. Meskipun secara bulanan relatif berfluktuasi. Sedangkan, suku bunga acuan turun, tapi suku bunga kredit perbankan masih tinggi.
&quot;Selama pandemi covid-19, Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan  suku bunga acuan,&quot; katanya.Namun demikian, suku bunga kredit perbankan ternyata  cenderung lebih  rigid. Pada April 2021, selisih suku bunga acuan BI dengan suku bunga  kredit konsumsi sebesar 7,37% , perbedaan dengan suku  bunga kredit  investasi sebesar 5,18% , dan perbedaan dengan suku bunga modal kerja  adalah sebesar 5,53%. Selain itu, perubahan pergerakan suku bunga kredit  perbankan sangat lambat.
Saat ini, ruang fiskal terbatas akibat dari tax ratio yang rendah dan  aktivitas ekonomi menurun. Implikasinya dana untuk PEN ruangnya lebih  terbatas. Stimulus fiskal untuk pandemi hanya berkisar 7,88% dari PDB,  jauh di bawah peer countries.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kinerja perbankan selama pandemi covid-19 tak begitu cemerlang. Sebab, masyarakat masih enggan mengajukan kredit sehingga penyaluran kredit perbankan masih rendah.
Baca Juga: Realisasi KUR Tembus Rp128,4 Triliun di Awal Juli
 
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai penyaluran  kredit masih tertahan, sementara jumlah Dana Pihak Ketiga meningkat.
&quot;Hal ini terjadi karena konsumsi masyarakat berkurang akibat motif berjaga-jaga karena tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi,&quot; kata Aviliani di Jakarta, Kamis (8/7/2021).
Baca Juga: Bunga Turun, OJK Sebut Permintaan Kredit Masih Lesu
Lalu, peningkatan dana pihak ketiga terus berlanjut hingga Juni 2021 sejak 2020. Meskipun secara bulanan relatif berfluktuasi. Sedangkan, suku bunga acuan turun, tapi suku bunga kredit perbankan masih tinggi.
&quot;Selama pandemi covid-19, Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan  suku bunga acuan,&quot; katanya.Namun demikian, suku bunga kredit perbankan ternyata  cenderung lebih  rigid. Pada April 2021, selisih suku bunga acuan BI dengan suku bunga  kredit konsumsi sebesar 7,37% , perbedaan dengan suku  bunga kredit  investasi sebesar 5,18% , dan perbedaan dengan suku bunga modal kerja  adalah sebesar 5,53%. Selain itu, perubahan pergerakan suku bunga kredit  perbankan sangat lambat.
Saat ini, ruang fiskal terbatas akibat dari tax ratio yang rendah dan  aktivitas ekonomi menurun. Implikasinya dana untuk PEN ruangnya lebih  terbatas. Stimulus fiskal untuk pandemi hanya berkisar 7,88% dari PDB,  jauh di bawah peer countries.</content:encoded></item></channel></rss>
