<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ledakan Kasus Covid-19, Ketua Banggar Khawatir APBN Tertekan</title><description>Said Abdullah mengkhawatirkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika pandemi COVID-19 berlanjut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan"/><item><title>Ledakan Kasus Covid-19, Ketua Banggar Khawatir APBN Tertekan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan</guid><pubDate>Senin 12 Juli 2021 11:07 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan-HT5A7jWn63.jpg" expression="full" type="image/jpeg">DPR Khawatir APBN Tertekan karena Covid-19 (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/12/320/2439257/ledakan-kasus-covid-19-ketua-banggar-khawatir-apbn-tertekan-HT5A7jWn63.jpg</image><title>DPR Khawatir APBN Tertekan karena Covid-19 (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengkhawatirkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika pandemi COVID-19 yang masih menunjukkan kenaikan penambahan kasus baru terus berlanjut.
&quot;Mencermati keadaan dunia dan dalam negeri kita akibat COVID-19 dengan tingkat uncertainty tinggi dan bila tidak terkelola dengan cukup baik, maka akan berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan kesehatan rakyat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan berkonsekuensi mendalam terhadap APBN kita,&quot; ujar Said dilansir dari Antara, Senin (12/7/2021).
Baca juga: Sorry PNS, Sri Mulyani Alihkan Anggaran Perjalanan Dinas dan Rapat untuk Covid-19
 
Said pun meminta pemerintah menyusun skenario terburuk bila kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak cukup efektif menekan tingkat positif COVID-19 harian.
Meski demikian dia mengakui skenario terburuk tersebut akan membutuhkan dukungan anggaran sangat besar sehingga berkonsekuensi pada perubahan arah kebijakan dan sasaran dari postur APBN 2021 dan Rencana APBN 2022.
Baca Juga: Di Depan Jokowi, Sri Mulyani Sebut APBN Motor Penggerak Ekonomi
 
Sejauh ini, lanjut Said, skenario APBN pada 2021 dan 2022 adalah skenario pemulihan baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Namun demikian, APBN belum memitigasi skenario gelombang demi gelombang dari pandemi yang berlangsung lebih lama.
&quot;Minggu lalu saya telah menyarankan pemerintah untuk mulai melakukan refocusing anggaran. Akan tetapi melihat situasi dan potensi risiko yang ada, selain refocusing, pemerintah perlu melakukan kebijakan kebijakan lebih jauh yang komprehensif,&quot; kata Said.
Menurut Said, jika harus membuat kebijakan-kebijakan lanjutan yang  berdampak luas baik ekonomi, sosial, dan kesehatan, termasuk dalam  pelaksanaan skenario terburuk, maka pemerintah harus menjalin komunikasi  dengan banyak pihak, termasuk dengan para pelaku bisnis dan keuangan  dengan persiapan waktu komunikasi yang cukup.
Langkah tersebut dinilai penting guna mengantisipasi guncangan pada  bisnis dan pasar keuangan yang sejauh ini masih berjalan dengan sehat.
&quot;Saya mendukung penuh langkah pemerintah, khususnya terkait  persetujuan anggaran, terkait pelaksanaan segala daya upaya dalam  penanggulangan COVID-19, termasuk bila dalam pelaksanaan worst case  scenario tersebut harus membutuhkan dukungan pembiayaan. Misalnya  seperti penerbitan surat utang negara karena dampak turunnya penerimaan  perpajakan,&quot; ujar Said.
Ia menilai upaya total terhadap COVID-19 ini harus terus dilakukan.  Apalagi, pandemi telah lebih dari setahun mendera negara di seluruh  dunia.
Tercatat sebanyak 170 negara mengalami kontraksi ekonomi, 44 negara  di antaranya berlanjut dengan resesi panjang. Sementara beberapa negara  di antaranya kontraksi ekonominya begitu dalam.
&quot;Kita tidak menyangka kawasan Eropa yang selama ini penuh kemakmuran,  layanan kesehatan yang sangat memadai, namun beberapa negara seperti  Italia, Spanyol, dan Inggris dibuat limbung akibat pandemi,&quot; kata Said.
Saat ini dunia tengah menghadapi bayang-bayang penyebaran Virus  Corona varian baru di Peru yaitu varian Lambda. Varian tersebut sekarang  menyerang sebagian besar di kawasan Amerika Latin.
Sejauh ini para peneliti mengidentifikasi varian Lambda memiliki  tingkat infeksi yang sangat tinggi, termasuk kemampuannya mengelabui  serangan imun tubuh.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengkhawatirkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika pandemi COVID-19 yang masih menunjukkan kenaikan penambahan kasus baru terus berlanjut.
&quot;Mencermati keadaan dunia dan dalam negeri kita akibat COVID-19 dengan tingkat uncertainty tinggi dan bila tidak terkelola dengan cukup baik, maka akan berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan kesehatan rakyat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan berkonsekuensi mendalam terhadap APBN kita,&quot; ujar Said dilansir dari Antara, Senin (12/7/2021).
Baca juga: Sorry PNS, Sri Mulyani Alihkan Anggaran Perjalanan Dinas dan Rapat untuk Covid-19
 
Said pun meminta pemerintah menyusun skenario terburuk bila kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak cukup efektif menekan tingkat positif COVID-19 harian.
Meski demikian dia mengakui skenario terburuk tersebut akan membutuhkan dukungan anggaran sangat besar sehingga berkonsekuensi pada perubahan arah kebijakan dan sasaran dari postur APBN 2021 dan Rencana APBN 2022.
Baca Juga: Di Depan Jokowi, Sri Mulyani Sebut APBN Motor Penggerak Ekonomi
 
Sejauh ini, lanjut Said, skenario APBN pada 2021 dan 2022 adalah skenario pemulihan baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Namun demikian, APBN belum memitigasi skenario gelombang demi gelombang dari pandemi yang berlangsung lebih lama.
&quot;Minggu lalu saya telah menyarankan pemerintah untuk mulai melakukan refocusing anggaran. Akan tetapi melihat situasi dan potensi risiko yang ada, selain refocusing, pemerintah perlu melakukan kebijakan kebijakan lebih jauh yang komprehensif,&quot; kata Said.
Menurut Said, jika harus membuat kebijakan-kebijakan lanjutan yang  berdampak luas baik ekonomi, sosial, dan kesehatan, termasuk dalam  pelaksanaan skenario terburuk, maka pemerintah harus menjalin komunikasi  dengan banyak pihak, termasuk dengan para pelaku bisnis dan keuangan  dengan persiapan waktu komunikasi yang cukup.
Langkah tersebut dinilai penting guna mengantisipasi guncangan pada  bisnis dan pasar keuangan yang sejauh ini masih berjalan dengan sehat.
&quot;Saya mendukung penuh langkah pemerintah, khususnya terkait  persetujuan anggaran, terkait pelaksanaan segala daya upaya dalam  penanggulangan COVID-19, termasuk bila dalam pelaksanaan worst case  scenario tersebut harus membutuhkan dukungan pembiayaan. Misalnya  seperti penerbitan surat utang negara karena dampak turunnya penerimaan  perpajakan,&quot; ujar Said.
Ia menilai upaya total terhadap COVID-19 ini harus terus dilakukan.  Apalagi, pandemi telah lebih dari setahun mendera negara di seluruh  dunia.
Tercatat sebanyak 170 negara mengalami kontraksi ekonomi, 44 negara  di antaranya berlanjut dengan resesi panjang. Sementara beberapa negara  di antaranya kontraksi ekonominya begitu dalam.
&quot;Kita tidak menyangka kawasan Eropa yang selama ini penuh kemakmuran,  layanan kesehatan yang sangat memadai, namun beberapa negara seperti  Italia, Spanyol, dan Inggris dibuat limbung akibat pandemi,&quot; kata Said.
Saat ini dunia tengah menghadapi bayang-bayang penyebaran Virus  Corona varian baru di Peru yaitu varian Lambda. Varian tersebut sekarang  menyerang sebagian besar di kawasan Amerika Latin.
Sejauh ini para peneliti mengidentifikasi varian Lambda memiliki  tingkat infeksi yang sangat tinggi, termasuk kemampuannya mengelabui  serangan imun tubuh.</content:encoded></item></channel></rss>
