<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakuwon Jati, Emiten Miliarder Alexander Tedja Tak Bagikan Dividen</title><description>Emiten Alexander Tedja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tak membagikan dividen untuk laba tahun buku 2020</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen"/><item><title>Pakuwon Jati, Emiten Miliarder Alexander Tedja Tak Bagikan Dividen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen</guid><pubDate>Selasa 13 Juli 2021 12:28 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen-SBLUOGnC2a.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Pakuwon Jati Tak Bagikan Dividen (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/13/278/2439864/pakuwon-jati-emiten-miliarder-alexander-tedja-tak-bagikan-dividen-SBLUOGnC2a.jpeg</image><title>Pakuwon Jati Tak Bagikan Dividen (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Emiten Alexander Tedja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tak membagikan dividen untuk laba tahun buku 2020 karena kinerja keuangan masih terkoreksi. Perseroan akhir tahun lalu membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,11 triliun.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Pakuwon Jati, Minarto Basuki dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, laba bersih untuk tahun buku 2020 akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan agar dapat mendukung kegiatan perseroan yang berkelanjutan, sehingga tidak ada dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Baca Juga: Pakuwon, Emiten Miliarder Properti Alexander Tedja Bidik Penjualan Rp1,4 Triliun
 
&amp;rdquo;Perseroan juga menyisihkan dana sebesar Rp1 miliar sebagai dana cadangan. Adapun sisa laba bersih tersebut akan dimasukan sebagai laba yang ditahan,&amp;rdquo; ujarnya dilansir dari Harian Neraca, Selasa (13/7/2021).
Keputusan tersebut sehubungan dengan kondisi pandemi yang masih belum stabil dan berdampak pada keuangan perseroan, sehingga pihaknya perlu untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan tersebut. Minarto menyampaikan, perseroan masih perlu melakukan pembiayaan untuk konstruksi dan proyek-proyek yang masih berjalan. Selain itu, perseroan juga mempunyai rencana untuk pengembangan dan belanja tanah, pengembangan klaster baru untuk landed property dan pengembangan untuk proyek mixed use development.
Baca Juga: Pakuwon Jati Sebar Dividen Rp7 per Saham
 
Sementara dari sisi kinerja, perseroan mengharapkan target laba pada tahun 2021 mengalami pertumbuhan 30%-40% dari tahun 2020. Perseroan pun juga mengharapkan pandemi Covid-19 dapat ditangani dengan baik sehingga semua dapat kembali berjalan normal dan pertumbuhan dapat berjalan sesuai target. &quot;Di tengah pandemi ini, perseroan tetap fokus pada keseimbangan antara recuiring profit dan development profit,&amp;rdquo; ujar Minarto.Sebelumnya, Pakuwon Jati membukukan marketing sales sebanyak Rp427  miliar selama kuartal I-2021, realisasi ini meningkat 17% dibandingkan  periode yang sama pada tahun lalu. Minarto menjelaskan, pertumbuhan ini  merupakan kontribusi oleh penerapan tingkat suku bunga yang rendah dan  fasilitas insentif PPN oleh pemerintah, hal ini terbukti mampu mendorong  kenaikan marketing sales perseroan. &amp;ldquo;Nilai marketing sales tersebut  ekuivalen dengan 30,5% dari target perseroan untuk tahun 2021 sebesar  Rp1,4 triliun,&amp;rdquo; jelasnya.
Sedangkan untuk pencapaian selama tahun 2020, perseroan mengalami  penurunan pendapatan bersih sebanyak 44,86% menjadi Rp3,97 triliun, dari  tahun sebelumnya Rp7,20 triliun. Sebagian besar penurunan ini  dikontribusi oleh berkurangnya pendapatan dari segmen development  revenue. Secara rinci, pendapatan ini berasal dari recurring income  yakni sebesar Rp2,30 triliun atau setara 58% recurring revenue.
Jumlah itu menurun 37,7% dari sebelumnya mampun berkontribusi hingga  Rp3,69 triliun. Sedangkan sisanya yakni 42% disumbang oleh development  revenue yang berjumlah Rp1,67 triliun, juga turun 52,2% dari Rp3,50  triliun.&quot;Menurunnya segmen development revenue disebabkan oleh penerapan  pengakuan penjualan sesuai PSAK 72 yang mulai diberlakukan sejak 2020,  dimana pengakuan penjualan berdasarkan handover (penyerahan unit) tidak  lagi berdasarkan percentage of completion,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Emiten Alexander Tedja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tak membagikan dividen untuk laba tahun buku 2020 karena kinerja keuangan masih terkoreksi. Perseroan akhir tahun lalu membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,11 triliun.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Pakuwon Jati, Minarto Basuki dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, laba bersih untuk tahun buku 2020 akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan agar dapat mendukung kegiatan perseroan yang berkelanjutan, sehingga tidak ada dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Baca Juga: Pakuwon, Emiten Miliarder Properti Alexander Tedja Bidik Penjualan Rp1,4 Triliun
 
&amp;rdquo;Perseroan juga menyisihkan dana sebesar Rp1 miliar sebagai dana cadangan. Adapun sisa laba bersih tersebut akan dimasukan sebagai laba yang ditahan,&amp;rdquo; ujarnya dilansir dari Harian Neraca, Selasa (13/7/2021).
Keputusan tersebut sehubungan dengan kondisi pandemi yang masih belum stabil dan berdampak pada keuangan perseroan, sehingga pihaknya perlu untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan tersebut. Minarto menyampaikan, perseroan masih perlu melakukan pembiayaan untuk konstruksi dan proyek-proyek yang masih berjalan. Selain itu, perseroan juga mempunyai rencana untuk pengembangan dan belanja tanah, pengembangan klaster baru untuk landed property dan pengembangan untuk proyek mixed use development.
Baca Juga: Pakuwon Jati Sebar Dividen Rp7 per Saham
 
Sementara dari sisi kinerja, perseroan mengharapkan target laba pada tahun 2021 mengalami pertumbuhan 30%-40% dari tahun 2020. Perseroan pun juga mengharapkan pandemi Covid-19 dapat ditangani dengan baik sehingga semua dapat kembali berjalan normal dan pertumbuhan dapat berjalan sesuai target. &quot;Di tengah pandemi ini, perseroan tetap fokus pada keseimbangan antara recuiring profit dan development profit,&amp;rdquo; ujar Minarto.Sebelumnya, Pakuwon Jati membukukan marketing sales sebanyak Rp427  miliar selama kuartal I-2021, realisasi ini meningkat 17% dibandingkan  periode yang sama pada tahun lalu. Minarto menjelaskan, pertumbuhan ini  merupakan kontribusi oleh penerapan tingkat suku bunga yang rendah dan  fasilitas insentif PPN oleh pemerintah, hal ini terbukti mampu mendorong  kenaikan marketing sales perseroan. &amp;ldquo;Nilai marketing sales tersebut  ekuivalen dengan 30,5% dari target perseroan untuk tahun 2021 sebesar  Rp1,4 triliun,&amp;rdquo; jelasnya.
Sedangkan untuk pencapaian selama tahun 2020, perseroan mengalami  penurunan pendapatan bersih sebanyak 44,86% menjadi Rp3,97 triliun, dari  tahun sebelumnya Rp7,20 triliun. Sebagian besar penurunan ini  dikontribusi oleh berkurangnya pendapatan dari segmen development  revenue. Secara rinci, pendapatan ini berasal dari recurring income  yakni sebesar Rp2,30 triliun atau setara 58% recurring revenue.
Jumlah itu menurun 37,7% dari sebelumnya mampun berkontribusi hingga  Rp3,69 triliun. Sedangkan sisanya yakni 42% disumbang oleh development  revenue yang berjumlah Rp1,67 triliun, juga turun 52,2% dari Rp3,50  triliun.&quot;Menurunnya segmen development revenue disebabkan oleh penerapan  pengakuan penjualan sesuai PSAK 72 yang mulai diberlakukan sejak 2020,  dimana pengakuan penjualan berdasarkan handover (penyerahan unit) tidak  lagi berdasarkan percentage of completion,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
