<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Dagang Juni Diramal Surplus USD2,23 Miliar</title><description>Neraca perdagangan pada bulan Juni 2021 diprediksi surplus USD2,23 miliar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar"/><item><title>Neraca Dagang Juni Diramal Surplus USD2,23 Miliar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar</guid><pubDate>Kamis 15 Juli 2021 07:46 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar-pl1Z311e2m.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Neraca Perdagangan Juni diprediksi surplus (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/15/320/2440858/neraca-dagang-juni-diramal-surplus-usd2-23-miliar-pl1Z311e2m.jpeg</image><title>Neraca Perdagangan Juni diprediksi surplus (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Juni 2021 diprediksi surplus USD2,23 miliar. Posisi tersebut sedikit lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD2,36 miliar.
Baca Juga:&amp;nbsp; 5 Sektor Industri dengan Ekspor Terbesar di Indonesia
 
Ekonom Josua Pardede mengatakan, penurunan surplus perdagangan tersebut cenderung disebabkan oleh laju pertumbuhan bulanan impor yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan bulanan ekspor akibat kenaikan harga minyak dunia secara rata-rata sebesar 8,14% mtm.
&quot;Pertumbuhan impor secara bulanan diperkirakan mencapai 9,6% mtm atau sebesar 44,94% yoy secara tahunan. tahunan sendiri diperkirakan sebesar,&quot; kata Josua di Jakarta, Kamis (15/7/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Neraca Dagang Mei Surplus USD2,36 Miliar, Tertinggi di 2021
 
Secara bulanan, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan, didorong oleh seasonal factor yakni normalisasi aktivitas perdagangan pasca lebaran.Dari sisi ekspor, peningkatan ekspor cenderung tertahan akibat  menurunnya aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama  Indonesia, seperti India dan Tiongkok, yang masing-masing turun ke level  48,1 dan 51,3.
&quot;Tertahannya ekspor juga disebabkan oleh tren penurunan harga CPO  bulan Juni, yang secara rerata turun sebesar 12% mtm. Pertumbuhan ekspor  secara bulanan sebesar 7,4% mtm atau sebesar 48,45% yoy secara  tahunan,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Juni 2021 diprediksi surplus USD2,23 miliar. Posisi tersebut sedikit lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD2,36 miliar.
Baca Juga:&amp;nbsp; 5 Sektor Industri dengan Ekspor Terbesar di Indonesia
 
Ekonom Josua Pardede mengatakan, penurunan surplus perdagangan tersebut cenderung disebabkan oleh laju pertumbuhan bulanan impor yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan bulanan ekspor akibat kenaikan harga minyak dunia secara rata-rata sebesar 8,14% mtm.
&quot;Pertumbuhan impor secara bulanan diperkirakan mencapai 9,6% mtm atau sebesar 44,94% yoy secara tahunan. tahunan sendiri diperkirakan sebesar,&quot; kata Josua di Jakarta, Kamis (15/7/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Neraca Dagang Mei Surplus USD2,36 Miliar, Tertinggi di 2021
 
Secara bulanan, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan, didorong oleh seasonal factor yakni normalisasi aktivitas perdagangan pasca lebaran.Dari sisi ekspor, peningkatan ekspor cenderung tertahan akibat  menurunnya aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama  Indonesia, seperti India dan Tiongkok, yang masing-masing turun ke level  48,1 dan 51,3.
&quot;Tertahannya ekspor juga disebabkan oleh tren penurunan harga CPO  bulan Juni, yang secara rerata turun sebesar 12% mtm. Pertumbuhan ekspor  secara bulanan sebesar 7,4% mtm atau sebesar 48,45% yoy secara  tahunan,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
