<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Negara G20 Bisa Jadi Katalis Pemulihan Lingkungan</title><description>Siti Nurbaya Bakar menyebut Kelompok 20  Negara (G20) dapat menjadi katalis global mempercepat pemulihan  lingkungan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan"/><item><title>Negara G20 Bisa Jadi Katalis Pemulihan Lingkungan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan</guid><pubDate>Jum'at 23 Juli 2021 13:55 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan-DQhZ1wezVd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pada pertemuan G20 Menteri Siti soroti masalah pemulihan lingkungan (Foto: Dokumentasi KLHK)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/23/320/2444882/negara-g20-bisa-jadi-katalis-pemulihan-lingkungan-DQhZ1wezVd.jpg</image><title>Pada pertemuan G20 Menteri Siti soroti masalah pemulihan lingkungan (Foto: Dokumentasi KLHK)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) Siti Nurbaya Bakar menyebut negara yang tergabung ke dalam Kelompok 20 Negara (G20) dapat menjadi katalis global mempercepat pemulihan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
&quot;Sebagai negara anggota G20, kita memiliki tanggung jawab menjadi katalis global untuk mengatasi tantangan lingkungan dan pemulihan berkelanjutan melalui contoh-contoh konkret,&quot; ujar Siti dilansir dari Antara, Jumat (23/7/2021).
Baca Juga: Hasil Pertemuan G20: Banyak Negara Setuju Kejar Pajak Digital
 
Dia mengatakan Indonesia tidak hanya ingin mengajak, tetapi juga mengimplementasikan ambisi yang sangat kuat dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui aksi-aksi konkret yang sudah memperlihatkan hasil dalam perlindungan sumber daya alam nasional.
&quot;Data menunjukkan laju deforestasi Indonesia pernah mencapai 3,5 juta hektar per tahun, antara tahun 1996 dan tahun 2000. Lalu turun menjadi 0,44 juta pada tahun 2019 dan semakin berkurang menjadi 0,115 juta hektar pada tahun 2020,&quot; kata Siti dalam paparannya pada G20 Enviroment Ministers' Meeting yang dilangsungkan secara virtual dari Naples, Italia, Kamis malam (22/7).
Baca Juga: Food Estate Jadi Senjata Atasi Ancaman Krisis Pangan Akibat Covid-19
 
Ia mengatakan Indonesia telah melakukan beberapa aksi konkret seperti melaksanakan program memperbaiki lahan terdegradasi dengan mempercepat upaya rehabilitasi, dengan tujuan Indonesia dapat mencapai Net Zero Land Degradation pada tahun 2030.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan untuk memanfaatkan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Saat ini, ujar dia, Indonesia tengah mengatur ekosistem karbon biru melalui peningkatan pengelolaan Indonesian Seas Large Marine Ecosystem (ISLME).Siti menjelaskan sebagai upaya dalam mewujudkan kota yang  berkelanjutan, Indonesia secara efektif telah melaksanakan Peta Jalan  Nasional Ekonomi Sirkular pada tahun 2020 hingga 2024. Selain itu, sudah  ada kebijakan dan strategi nasional untuk pengelolaan sampah di seluruh  Indonesia periode 2017 hingga 2025.
&quot;Semoga 100% sampah kita, bisa dikelola dengan baik pada tahun 2025,  yaitu 30% dikurangi dan 70% dikelola secara sistematis,&quot; kata Siti.
Sedangkan dari sisi pembiayaan, ia mengatakan Indonesia telah  mengembangkan peta jalan Keuangan Berkelanjutan 2025 dengan  memperkenalkan instrumen keuangan inovatif untuk alam, ekonomi dan  masyarakat, seperti Sukuk Hijau, SDG Bond dan Sukuk SDG dalam tiga tahun  terakhir.
Selain itu, menurut Siti, ada pula keuangan campuran SDG Indonesia  One yang digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang  berorientasi SDG dan pemulihan bencana di Indonesia.
&quot;Ini adalah beberapa contoh tindakan yang telah Indonesia lakukan.  Sekarang saatnya bagi semua untuk 'walk the talk'. Lebih banyak yang  bisa dilakukan oleh dunia berkembang, jika dunia internasional juga  memenuhi komitmennya, termasuk dalam hal membuka sumber keuangan dan  transfer teknologi,&quot; katanya menegaskan.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) Siti Nurbaya Bakar menyebut negara yang tergabung ke dalam Kelompok 20 Negara (G20) dapat menjadi katalis global mempercepat pemulihan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
&quot;Sebagai negara anggota G20, kita memiliki tanggung jawab menjadi katalis global untuk mengatasi tantangan lingkungan dan pemulihan berkelanjutan melalui contoh-contoh konkret,&quot; ujar Siti dilansir dari Antara, Jumat (23/7/2021).
Baca Juga: Hasil Pertemuan G20: Banyak Negara Setuju Kejar Pajak Digital
 
Dia mengatakan Indonesia tidak hanya ingin mengajak, tetapi juga mengimplementasikan ambisi yang sangat kuat dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui aksi-aksi konkret yang sudah memperlihatkan hasil dalam perlindungan sumber daya alam nasional.
&quot;Data menunjukkan laju deforestasi Indonesia pernah mencapai 3,5 juta hektar per tahun, antara tahun 1996 dan tahun 2000. Lalu turun menjadi 0,44 juta pada tahun 2019 dan semakin berkurang menjadi 0,115 juta hektar pada tahun 2020,&quot; kata Siti dalam paparannya pada G20 Enviroment Ministers' Meeting yang dilangsungkan secara virtual dari Naples, Italia, Kamis malam (22/7).
Baca Juga: Food Estate Jadi Senjata Atasi Ancaman Krisis Pangan Akibat Covid-19
 
Ia mengatakan Indonesia telah melakukan beberapa aksi konkret seperti melaksanakan program memperbaiki lahan terdegradasi dengan mempercepat upaya rehabilitasi, dengan tujuan Indonesia dapat mencapai Net Zero Land Degradation pada tahun 2030.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan untuk memanfaatkan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Saat ini, ujar dia, Indonesia tengah mengatur ekosistem karbon biru melalui peningkatan pengelolaan Indonesian Seas Large Marine Ecosystem (ISLME).Siti menjelaskan sebagai upaya dalam mewujudkan kota yang  berkelanjutan, Indonesia secara efektif telah melaksanakan Peta Jalan  Nasional Ekonomi Sirkular pada tahun 2020 hingga 2024. Selain itu, sudah  ada kebijakan dan strategi nasional untuk pengelolaan sampah di seluruh  Indonesia periode 2017 hingga 2025.
&quot;Semoga 100% sampah kita, bisa dikelola dengan baik pada tahun 2025,  yaitu 30% dikurangi dan 70% dikelola secara sistematis,&quot; kata Siti.
Sedangkan dari sisi pembiayaan, ia mengatakan Indonesia telah  mengembangkan peta jalan Keuangan Berkelanjutan 2025 dengan  memperkenalkan instrumen keuangan inovatif untuk alam, ekonomi dan  masyarakat, seperti Sukuk Hijau, SDG Bond dan Sukuk SDG dalam tiga tahun  terakhir.
Selain itu, menurut Siti, ada pula keuangan campuran SDG Indonesia  One yang digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang  berorientasi SDG dan pemulihan bencana di Indonesia.
&quot;Ini adalah beberapa contoh tindakan yang telah Indonesia lakukan.  Sekarang saatnya bagi semua untuk 'walk the talk'. Lebih banyak yang  bisa dilakukan oleh dunia berkembang, jika dunia internasional juga  memenuhi komitmennya, termasuk dalam hal membuka sumber keuangan dan  transfer teknologi,&quot; katanya menegaskan.</content:encoded></item></channel></rss>
