<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Intip Pergerakan Saham Sektor Perhotelan dan Pariwisata di Tengah Pandemi</title><description>Saham sektor perhotelan dan pariwisata merosot akibat pandemi Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/278/2450377/intip-pergerakan-saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-di-tengah-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/278/2450377/intip-pergerakan-saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-di-tengah-pandemi"/><item><title>Intip Pergerakan Saham Sektor Perhotelan dan Pariwisata di Tengah Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/278/2450377/intip-pergerakan-saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-di-tengah-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/278/2450377/intip-pergerakan-saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-di-tengah-pandemi</guid><pubDate>Selasa 03 Agustus 2021 19:19 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/03/278/2450377/saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-merosot-selama-pandemi-covid-19-s89WUHMFbj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Saham perhotelan dan pariwisata merosot selama pandemi covid-19 (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/03/278/2450377/saham-sektor-perhotelan-dan-pariwisata-merosot-selama-pandemi-covid-19-s89WUHMFbj.jpg</image><title>Saham perhotelan dan pariwisata merosot selama pandemi covid-19 (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Saham sektor perhotelan dan pariwisata merosot akibat pandemi Covid-19. Penurunan kinerja sektor ini disebabkan adanya sejumlah pembatasan yang memberikan dampak terhadap kinerja sektor tersebut.
Tentu saja hal tersebut turut mempengaruhi pergerakan saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan dan pariwisata setidaknya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Baca Juga: Sandiaga Uno Ajak PHRI Sediakan Kamar untuk Isoman Tenaga Kesehatan
 
Sebut saja, saham PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) yang mengalami pergerakan stagnan di Rp496 per saham pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (3/8/2021). Frekuensi perdagangan PJAA mencapai 33 kali dengan 107.800 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp53,60 juta. Price Earning Ratio (PER) -3,48 dengan market cap sebesar Rp793,60 miliar.
Harga saham emiten yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini dalam tiga bulan terakhir turun 11,43% dan dalam satu tahun terakhir turun 6,42%.
Baca Juga: Mulai Recovery, Perhotelan di Makkah Akan Pulih dari Pandemi 2 Tahun Lagi
 
Unit rekreasi Taman Impian Jaya Ancol yang berada di bawah pengelolaan PJAA juga harus kembali ditutup sementara waktu sejak Kamis (24/6/2021) akibat dari penerapan PPKM Darurat di Ibukota.
Kemudian, saham PT Jakarta International Hotels &amp;amp; Development Tbk (JIHD) mengalami penurunan ke level Rp420 per saham pada penutupan perdagangan hari ini. Frekuensi perdagangan JIHD mencapai 19 kali dengan 56.000 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp24,03 juta. Price Earning Ratio (PER) -36,45 dengan market cap sebesar Rp978,20 miliar.Harga saham emiten pemilik Hotel Borobudur Jakarta ini dalam tiga  bulan terakhir turun 4,98% dan dalam satu tahun terakhir turun 29,41%.
Lalu, saham PT Hotel Sahid Jaya Tbk (SHID) mengalami penurunan ke  level Rp1295 per saham pada penutupan perdagangan hari ini. Frekuensi  perdagangan SHID mencapai 72 kali dengan 18.100 lembar saham  diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp24 juta. Price Earning  Ratio (PER) -41,62 dengan market cap sebesar Rp1,45 triliun.
Harga saham emiten yang bergerak di bidang hotel dan akomodasi atau  fasilitas sewa guna usaha yang berhubungan dengan hotel ini dalam tiga  bulan terakhir turun 43,94% dan dalam satu tahun terakhir turun 64,52%.
Selanjutnya, saham PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) mengalami  pergerakan stagnan di Rp820 per saham pada penutupan perdagangan hari  ini. Price Earning Ratio (PER) saham CLAY tercatat -36,46 dengan market  cap sebesar Rp2,11 triliun.
Harga saham emiten pemilik hotel The Stone di Legian, Bali dan Hotel  Clay ini dalam tiga bulan terakhir turun 10,38% dan dalam satu tahun  terakhir turun 54,70%.
Sementara itu, saham PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) mengalami  kenaikan ke level Rp143 per saham pada penutupan perdagangan hari ini.  Frekuensi perdagangan DFAM mencapai 24 kali dengan 94.200 lembar saham  diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp12,97 juta. Price Earning  Ratio (PER) -12,30 dengan market cap sebesar Rp271,68 miliar.
Harga saham emiten pengelola Hotel Dafam ini dalam tiga bulan terakhir turun 11,73% dan dalam satu tahun terakhir turun 55,86%.</description><content:encoded>JAKARTA - Saham sektor perhotelan dan pariwisata merosot akibat pandemi Covid-19. Penurunan kinerja sektor ini disebabkan adanya sejumlah pembatasan yang memberikan dampak terhadap kinerja sektor tersebut.
Tentu saja hal tersebut turut mempengaruhi pergerakan saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan dan pariwisata setidaknya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Baca Juga: Sandiaga Uno Ajak PHRI Sediakan Kamar untuk Isoman Tenaga Kesehatan
 
Sebut saja, saham PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) yang mengalami pergerakan stagnan di Rp496 per saham pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (3/8/2021). Frekuensi perdagangan PJAA mencapai 33 kali dengan 107.800 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp53,60 juta. Price Earning Ratio (PER) -3,48 dengan market cap sebesar Rp793,60 miliar.
Harga saham emiten yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini dalam tiga bulan terakhir turun 11,43% dan dalam satu tahun terakhir turun 6,42%.
Baca Juga: Mulai Recovery, Perhotelan di Makkah Akan Pulih dari Pandemi 2 Tahun Lagi
 
Unit rekreasi Taman Impian Jaya Ancol yang berada di bawah pengelolaan PJAA juga harus kembali ditutup sementara waktu sejak Kamis (24/6/2021) akibat dari penerapan PPKM Darurat di Ibukota.
Kemudian, saham PT Jakarta International Hotels &amp;amp; Development Tbk (JIHD) mengalami penurunan ke level Rp420 per saham pada penutupan perdagangan hari ini. Frekuensi perdagangan JIHD mencapai 19 kali dengan 56.000 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp24,03 juta. Price Earning Ratio (PER) -36,45 dengan market cap sebesar Rp978,20 miliar.Harga saham emiten pemilik Hotel Borobudur Jakarta ini dalam tiga  bulan terakhir turun 4,98% dan dalam satu tahun terakhir turun 29,41%.
Lalu, saham PT Hotel Sahid Jaya Tbk (SHID) mengalami penurunan ke  level Rp1295 per saham pada penutupan perdagangan hari ini. Frekuensi  perdagangan SHID mencapai 72 kali dengan 18.100 lembar saham  diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp24 juta. Price Earning  Ratio (PER) -41,62 dengan market cap sebesar Rp1,45 triliun.
Harga saham emiten yang bergerak di bidang hotel dan akomodasi atau  fasilitas sewa guna usaha yang berhubungan dengan hotel ini dalam tiga  bulan terakhir turun 43,94% dan dalam satu tahun terakhir turun 64,52%.
Selanjutnya, saham PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) mengalami  pergerakan stagnan di Rp820 per saham pada penutupan perdagangan hari  ini. Price Earning Ratio (PER) saham CLAY tercatat -36,46 dengan market  cap sebesar Rp2,11 triliun.
Harga saham emiten pemilik hotel The Stone di Legian, Bali dan Hotel  Clay ini dalam tiga bulan terakhir turun 10,38% dan dalam satu tahun  terakhir turun 54,70%.
Sementara itu, saham PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) mengalami  kenaikan ke level Rp143 per saham pada penutupan perdagangan hari ini.  Frekuensi perdagangan DFAM mencapai 24 kali dengan 94.200 lembar saham  diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp12,97 juta. Price Earning  Ratio (PER) -12,30 dengan market cap sebesar Rp271,68 miliar.
Harga saham emiten pengelola Hotel Dafam ini dalam tiga bulan terakhir turun 11,73% dan dalam satu tahun terakhir turun 55,86%.</content:encoded></item></channel></rss>
