<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perbaiki Kualitas Produk Ekspor, Kapasitas Petani Harus Ditingkatkan</title><description>Peningkatan kapasitas petani melalui program pendampingan dan pelatihan  yang berkelanjutan, bisa menaikkan kualitas produk ekspor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan"/><item><title>Perbaiki Kualitas Produk Ekspor, Kapasitas Petani Harus Ditingkatkan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan</guid><pubDate>Selasa 03 Agustus 2021 14:00 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan-8xP9hpYaud.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peningkatan kualitas produk ekspor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/03/320/2450156/perbaiki-kualitas-produk-ekspor-kapasitas-petani-harus-ditingkatkan-8xP9hpYaud.jpg</image><title>Peningkatan kualitas produk ekspor (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Peningkatan kapasitas petani melalui program pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan, bisa menaikkan kualitas produk ekspor yang dihasilkan oleh petani tersebut.
Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank D James Rompas baru saja meluncurkan Desa Devisa Kopi di Subang bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) yang menjadi desa devisa ketiga yang telah diluncurkan sejak 2019.
Baca Juga: Diplomasi Bantu Buka Pasar Ekspor Produk Indonesia
 
James mengatakan, Program Desa Devisa merupakan upaya pengembangan masyarakat dengan mengedepankan keunikan komoditas. Untuk itu, LPEI memberikan jasa konsultasi guna dalam bentuk pendampingan kepada 208 petani di enam desa yaitu Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan.
&quot;Kami optimis dan yakin dengan potensi Subang akan komoditas kopinya. Kami berharap melalui program pelatihan selama enam bulan ke depan dapat meningkatkan kapasitas petani, sehingga kualitas biji kopinya juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor,&quot; ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (3/8/2021).
Baca Juga: Perluas Pasar Ekspor, RI Jajaki Skema Imbal Dagang dengan 35 Negara
 
Adapun pendampingan dan pelatihan yang diberikan LPEI mulai dari aspek produksi hingga mekanisme ekspor yang diharapkan dapat membantu menciptakan komoditas yang berkualitas dengan daya saing yang tinggi.
Produk Kopi Subang dengan varietas arabika (Java Preanger) dan robusta dengan cita rasa tersendiri yang berasal dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, memang menjadi keunikan dari Desa Devisa Kopi Subang.&quot;Kami juga berharap, kolaborasi yang terjalin antara Koperasi Gunung  Luhur Berkah dan Pemerintah Daerah (Pemda) Subang dapat menjadi salah  satu solusi awal di tengah kondisi pandemi,&quot; kata James.
Sementara itu Erni Fitriani, Ketua Poktan Penangkar Benih GLB, mengungkapkan keinginan agar usahanya dapat semakin berkembang.
&quot;Alhamdulillah program ini dapat semakin menyerap tenaga kerja  masyarakat sekitar. Harapan ke depannya dengan program Desa Devisa, kami  akan diberikan bantuan akses permodalan untuk pembenihan kami supaya  lebih besar dan hasil panennya nanti dapat dimanfaatkan untuk memenuhi  pasar lokal dan pasar internasional,&quot; ujar Erni.
Harapan lain pun disampaikan oleh anggota kelompok tani penangkar  benih GLB Ceu Bedah. Dengan adanya program Desa Devisa, ia mengatakan  para ibu-ibu bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan  sekolah anak.
&quot;Saya berharap ke depannya juga bisa nabung untuk umroh,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Peningkatan kapasitas petani melalui program pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan, bisa menaikkan kualitas produk ekspor yang dihasilkan oleh petani tersebut.
Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank D James Rompas baru saja meluncurkan Desa Devisa Kopi di Subang bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) yang menjadi desa devisa ketiga yang telah diluncurkan sejak 2019.
Baca Juga: Diplomasi Bantu Buka Pasar Ekspor Produk Indonesia
 
James mengatakan, Program Desa Devisa merupakan upaya pengembangan masyarakat dengan mengedepankan keunikan komoditas. Untuk itu, LPEI memberikan jasa konsultasi guna dalam bentuk pendampingan kepada 208 petani di enam desa yaitu Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan.
&quot;Kami optimis dan yakin dengan potensi Subang akan komoditas kopinya. Kami berharap melalui program pelatihan selama enam bulan ke depan dapat meningkatkan kapasitas petani, sehingga kualitas biji kopinya juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor,&quot; ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (3/8/2021).
Baca Juga: Perluas Pasar Ekspor, RI Jajaki Skema Imbal Dagang dengan 35 Negara
 
Adapun pendampingan dan pelatihan yang diberikan LPEI mulai dari aspek produksi hingga mekanisme ekspor yang diharapkan dapat membantu menciptakan komoditas yang berkualitas dengan daya saing yang tinggi.
Produk Kopi Subang dengan varietas arabika (Java Preanger) dan robusta dengan cita rasa tersendiri yang berasal dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, memang menjadi keunikan dari Desa Devisa Kopi Subang.&quot;Kami juga berharap, kolaborasi yang terjalin antara Koperasi Gunung  Luhur Berkah dan Pemerintah Daerah (Pemda) Subang dapat menjadi salah  satu solusi awal di tengah kondisi pandemi,&quot; kata James.
Sementara itu Erni Fitriani, Ketua Poktan Penangkar Benih GLB, mengungkapkan keinginan agar usahanya dapat semakin berkembang.
&quot;Alhamdulillah program ini dapat semakin menyerap tenaga kerja  masyarakat sekitar. Harapan ke depannya dengan program Desa Devisa, kami  akan diberikan bantuan akses permodalan untuk pembenihan kami supaya  lebih besar dan hasil panennya nanti dapat dimanfaatkan untuk memenuhi  pasar lokal dan pasar internasional,&quot; ujar Erni.
Harapan lain pun disampaikan oleh anggota kelompok tani penangkar  benih GLB Ceu Bedah. Dengan adanya program Desa Devisa, ia mengatakan  para ibu-ibu bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan  sekolah anak.
&quot;Saya berharap ke depannya juga bisa nabung untuk umroh,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
