<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Harus Tumbuh 6% agar Keluar dari Middle Income Trap</title><description>Ekonomi Indonesia perlu tumbuh rata-rata 6% per tahun untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap"/><item><title>Ekonomi RI Harus Tumbuh 6% agar Keluar dari Middle Income Trap</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap</guid><pubDate>Rabu 04 Agustus 2021 14:06 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap-jTtoHlVfzQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi RI harus tumbuh 6% agar keluar dari middle income trap (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/04/320/2450751/ekonomi-ri-harus-tumbuh-6-agar-keluar-dari-middle-income-trap-jTtoHlVfzQ.jpg</image><title>Ekonomi RI harus tumbuh 6% agar keluar dari middle income trap (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ekonomi Indonesia perlu tumbuh rata-rata 6% per tahun untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap) sebelum tahun 2045. Untuk mencapai ini, menurut dia, Indonesia harus melakukan redesain transformasi ekonomi agar pertumbuhan ekonomi kembali terangkat ke level yang sesuai dengan perencanaan sebelum terdampak COVID-19.
&amp;ldquo;Satu-satunya cara kita harus meredesain transformasi ekonomi kita. Tapi transformasi ekonomi ke depan perlu inklusif, masuk ke green economy, green recovery, tentunya harus berkelanjutan,&amp;rdquo; kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Amalia Adininggar dilansir dari Antara, Rabu (4/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Ketua OJK Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021
 
Transformasi ekonomi bisa dilakukan mengubah struktur perekonomian dari sektor berproduktivitas rendah menjadi produktivitas tinggi. Selain itu, Indonesia juga bisa meningkatkan produktivitas pada tiap sektor.
&amp;ldquo;Jadi kunci peningkatan produktivitas itu ada dua, mengubah strukturnya atau pindah sektor dari produktivitas rendah ke tinggi, atau meningkatkan produktivitas di dalam sektor itu sendiri,&amp;rdquo; ucapnya.
Baca Juga: BI: Sumber Pembiayaan bagi Perekonomian Diperluas
 
Ia mengatakan pemerintah dan segenap bangsa Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi karena pertumbuhan ekonomi yang hanya lima% per tahun tidak akan bisa membawa Indonesia keluar dari status negara berpendapatan menengah.
Untuk itu, Indonesia harus bisa mendorong pertumbuhan sektor manufaktur yang ekspornya masih lebih rendah dibanding negara-negara peers. Indonesia pun harus bisa berhenti mengandalkan komoditas sumber daya alam (SDA) mentah untuk diekspor.Indonesia juga harus bisa meningkatkan nilai ekspor per kapita dan  mendiversifikasi ekspor. Selanjutnya, kinerja sektor manufaktur perlu  terus dijaga.
&amp;ldquo;Saat ini kinerja sektor manufaktur turun terlalu cepat dibandingkan  negara-negara pembanding dalam level PDB (Produk Domestik Bruto) per  kapita yang sama,&amp;rdquo; imbuhnya.
Ia mengatakan Indonesia harus meniru Rumania dan Korea Selatan yang  berhasil keluar dari status negara berpendapatan menengah. Belajar dari  kedua negara tersebut, Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi  secara konsisten.
&amp;ldquo;Korea melakukan pengembangan sektor industri yang masif diLengkapi  dengan peningkatan sumber daya manusia, dan riset dan teknologi. Rumania  juga bisa tumbuh sukses karena melakukan diversifikasi ekspor dari  labour-intensive low-tech sektor ke sektor yang lebih produktif seperti  otomotif, machinery, dan elektronik,&amp;rdquo; kata Amalia.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonomi Indonesia perlu tumbuh rata-rata 6% per tahun untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap) sebelum tahun 2045. Untuk mencapai ini, menurut dia, Indonesia harus melakukan redesain transformasi ekonomi agar pertumbuhan ekonomi kembali terangkat ke level yang sesuai dengan perencanaan sebelum terdampak COVID-19.
&amp;ldquo;Satu-satunya cara kita harus meredesain transformasi ekonomi kita. Tapi transformasi ekonomi ke depan perlu inklusif, masuk ke green economy, green recovery, tentunya harus berkelanjutan,&amp;rdquo; kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Amalia Adininggar dilansir dari Antara, Rabu (4/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Ketua OJK Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021
 
Transformasi ekonomi bisa dilakukan mengubah struktur perekonomian dari sektor berproduktivitas rendah menjadi produktivitas tinggi. Selain itu, Indonesia juga bisa meningkatkan produktivitas pada tiap sektor.
&amp;ldquo;Jadi kunci peningkatan produktivitas itu ada dua, mengubah strukturnya atau pindah sektor dari produktivitas rendah ke tinggi, atau meningkatkan produktivitas di dalam sektor itu sendiri,&amp;rdquo; ucapnya.
Baca Juga: BI: Sumber Pembiayaan bagi Perekonomian Diperluas
 
Ia mengatakan pemerintah dan segenap bangsa Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi karena pertumbuhan ekonomi yang hanya lima% per tahun tidak akan bisa membawa Indonesia keluar dari status negara berpendapatan menengah.
Untuk itu, Indonesia harus bisa mendorong pertumbuhan sektor manufaktur yang ekspornya masih lebih rendah dibanding negara-negara peers. Indonesia pun harus bisa berhenti mengandalkan komoditas sumber daya alam (SDA) mentah untuk diekspor.Indonesia juga harus bisa meningkatkan nilai ekspor per kapita dan  mendiversifikasi ekspor. Selanjutnya, kinerja sektor manufaktur perlu  terus dijaga.
&amp;ldquo;Saat ini kinerja sektor manufaktur turun terlalu cepat dibandingkan  negara-negara pembanding dalam level PDB (Produk Domestik Bruto) per  kapita yang sama,&amp;rdquo; imbuhnya.
Ia mengatakan Indonesia harus meniru Rumania dan Korea Selatan yang  berhasil keluar dari status negara berpendapatan menengah. Belajar dari  kedua negara tersebut, Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi  secara konsisten.
&amp;ldquo;Korea melakukan pengembangan sektor industri yang masif diLengkapi  dengan peningkatan sumber daya manusia, dan riset dan teknologi. Rumania  juga bisa tumbuh sukses karena melakukan diversifikasi ekspor dari  labour-intensive low-tech sektor ke sektor yang lebih produktif seperti  otomotif, machinery, dan elektronik,&amp;rdquo; kata Amalia.</content:encoded></item></channel></rss>
