<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bambang Brodjonegoro: SDA Dimiliki RI Menggoda Investor Lokal dan Asing</title><description>Indonesia mesti mengubah dasar perekonomiannya dari sumber daya alam (SDA) menjadi berdasar pada inovasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing"/><item><title>Bambang Brodjonegoro: SDA Dimiliki RI Menggoda Investor Lokal dan Asing</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing</guid><pubDate>Rabu 04 Agustus 2021 15:42 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing-krYmZnuhCK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sumber Daya Alam Indonesia menarik bagi investor (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/04/320/2450826/bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing-krYmZnuhCK.jpg</image><title>Sumber Daya Alam Indonesia menarik bagi investor (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia mesti mengubah dasar perekonomiannya dari sumber daya alam (SDA) menjadi berdasar pada inovasi. Mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan selamaini SDA yang dimiliki Indonesia mampu menarik investor asing maupun lokal.
Baca Juga:&amp;nbsp; Ekonomi RI Harus Tumbuh 6% agar Keluar dari Middle Income Trap
 
&quot;Saya melihat keberadaan natural resources (SDA) kita ini yang menggoda banyak pihak, baik investor dalam negeri maupun luar, dan juga pemerintah untuk memanfaatkan dalam jangka pendek. Itu membuat rasio manufaktur terhadap GDP (pertumbuhan ekonomi) itu turun terus dari mendekati 30% sampai 19%,&quot; kata Bambang dilansir dari Antara, Rabu (4/8/2021).
Dia mengatakan masyarakat tidak bisa fokus mengembangkan sektor manufaktur karena tergoda oleh sumber daya alam yang melimpah. Karena itu, keberadaan SDA bisa jadi kutukan dan alih-alih berkah bagi Indonesia.
Baca Juga: Ketua OJK Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021
 
&quot;Saya juga amaze melihat daftar bahwa kita termasuk 10 atau 5 produsen terbesar di berbagai komoditas tambang maupun komoditas pertanian, jadi Indonesia tanahnya subur memang bukan hanya cerita. Masalahnya, kita terlalu terbuai dengan kekayaan alam, lupa melakukan sesuatu yaitu inovasi,&quot; imbuhnya.
Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari Jepang, China, dan Korea  Selatan di Asia dan Chili di Amerika Selatan yang berhasil keluar dari  perangkap pendapatan menengah (middle income trap).
Ia mengatakan, kemungkinan akan berat bagi Indonesia bersaing di  sektor otomotif dan elektronik dengan negara-negara lain. Namun  demikian, menurut Bambang, Indonesia memiliki kualitas manufaktur yang  mampu menampung relokasi pabrik di kedua sektor tersebut dari China dan  Korea Selatan.
Untuk itu, Indonesia perlu mendorong inovasi dan riset agar tidak  sekadar menjual SDA bernilai tambah rendah. Setiap komoditas, baik  pertanian maupun pertambangan, menurut Bambang, perlu ditingkatkan nilai  tambahnya sebelum dijual.
&quot;Misal Indonesia terkenal sebagai eksportir nikel terbesar, kita  jangan bangga dengan itu terus menerus. Apa seharusnya kebanggaan itu?  Kalau, (kita) jadi salah satu leading produser baterai kendaraan  listrik,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia mesti mengubah dasar perekonomiannya dari sumber daya alam (SDA) menjadi berdasar pada inovasi. Mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan selamaini SDA yang dimiliki Indonesia mampu menarik investor asing maupun lokal.
Baca Juga:&amp;nbsp; Ekonomi RI Harus Tumbuh 6% agar Keluar dari Middle Income Trap
 
&quot;Saya melihat keberadaan natural resources (SDA) kita ini yang menggoda banyak pihak, baik investor dalam negeri maupun luar, dan juga pemerintah untuk memanfaatkan dalam jangka pendek. Itu membuat rasio manufaktur terhadap GDP (pertumbuhan ekonomi) itu turun terus dari mendekati 30% sampai 19%,&quot; kata Bambang dilansir dari Antara, Rabu (4/8/2021).
Dia mengatakan masyarakat tidak bisa fokus mengembangkan sektor manufaktur karena tergoda oleh sumber daya alam yang melimpah. Karena itu, keberadaan SDA bisa jadi kutukan dan alih-alih berkah bagi Indonesia.
Baca Juga: Ketua OJK Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021
 
&quot;Saya juga amaze melihat daftar bahwa kita termasuk 10 atau 5 produsen terbesar di berbagai komoditas tambang maupun komoditas pertanian, jadi Indonesia tanahnya subur memang bukan hanya cerita. Masalahnya, kita terlalu terbuai dengan kekayaan alam, lupa melakukan sesuatu yaitu inovasi,&quot; imbuhnya.
Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari Jepang, China, dan Korea  Selatan di Asia dan Chili di Amerika Selatan yang berhasil keluar dari  perangkap pendapatan menengah (middle income trap).
Ia mengatakan, kemungkinan akan berat bagi Indonesia bersaing di  sektor otomotif dan elektronik dengan negara-negara lain. Namun  demikian, menurut Bambang, Indonesia memiliki kualitas manufaktur yang  mampu menampung relokasi pabrik di kedua sektor tersebut dari China dan  Korea Selatan.
Untuk itu, Indonesia perlu mendorong inovasi dan riset agar tidak  sekadar menjual SDA bernilai tambah rendah. Setiap komoditas, baik  pertanian maupun pertambangan, menurut Bambang, perlu ditingkatkan nilai  tambahnya sebelum dijual.
&quot;Misal Indonesia terkenal sebagai eksportir nikel terbesar, kita  jangan bangga dengan itu terus menerus. Apa seharusnya kebanggaan itu?  Kalau, (kita) jadi salah satu leading produser baterai kendaraan  listrik,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
