<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Eks Menkeu Ungkap Peluang RI Manfaatkan Pulihnya Ekonomi China-AS</title><description>Kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2021 mengalami peningkatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as"/><item><title>Eks Menkeu Ungkap Peluang RI Manfaatkan Pulihnya Ekonomi China-AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as</guid><pubDate>Kamis 05 Agustus 2021 16:56 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as-vPTln6AzB7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Indoensia manfaatkan pemulihan ekonomi China dan AS untuk ekspor (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/05/320/2451468/eks-menkeu-ungkap-peluang-ri-manfaatkan-pulihnya-ekonomi-china-as-vPTln6AzB7.jpeg</image><title>Indoensia manfaatkan pemulihan ekonomi China dan AS untuk ekspor (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2021 mengalami peningkatan. Namun peningkatan ekspor tersebut harus disertai dengan diversifikasi produk dan negara tujuan untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul pada waktu mendatang.
&quot;Ekspor ini baik sekali, karena prestasi ini luar biasa artinya Indonesia bisa memanfaatkan recovery yang terjadi di AS dan China yang kelihatan di angka-angka perdagangannya. Ini adalah momentum yang perlu dipertahankan,&quot; ujar Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dilansir dari Antara, Kamis (5/8/2021).
Baca Juga: Ekspor Mebel dan Kerajinan Naik 35,41% di Tengah Pandemi
 
Ia memaparkan jika ekspor RI terkonsentrasi hanya pada produk dan negara tujuan tertentu maka jika terjadi penurunan, efek yang dirasakan akan besar terhadap perekonomian dalam negeri. Chatib mengatakan adanya diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor akan bisa mengatasi risiko yang muncul dari konsekuensi Indonesia yang mengadopsi ekonomi terbuka.
&quot;Jadi, kalau kami bisa memberikan contoh, banyak negara secara ekspor itu aman karena produknya yang cukup terdiversifikasi dan negara tujuan ekspornya juga. Itu yang menjelaskan misalnya beberapa kinerja daripada ekspornya relatif baik, termasuk Vietnam,&quot; ungkap mantan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) itu.
Baca Juga: Perbaiki Kualitas Produk Ekspor, Kapasitas Petani Harus Ditingkatkan
Menurut Chatib, meskipun kontribusi perdagangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia relatif kecil dibandingkan negara lain seperti Jepang atau China, namun pertumbuhan ekspor yang dicapai tercatat tinggi.
&quot;Artinya, walaupun dengan kontribusi yang relatif kecil, pertumbuhan ekspornya tinggi sekali,&quot; tukas Chatib.Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memaparkan bahwa RI  berhasil meningkatkan perdagangan dengan China, hingga mampu memperkecil  defisit nilai perdagangan menjadi 3,19 miliar dolar AS pada  Januari-Juni 2021. Mendag menyebutkan bahwa defisit perdagangan tersebut  yang terendah sejak 2005.
Menurut Lutfi, prestasi itu merupakan wujud dari komitmen Indonesia  dalam melakukan hilirisasi sektor pertambangan yang tidak lagi  mengekspor dalam bentuk mentah.
&quot;Ini adalah bagian dari komitmen kita untuk hilirisasi dari  pertambangan kita. Dengan komitmen yang jelas, kita itu memotong separuh  daripada defisit neraca perdagangan kita hanya dari satu komoditas,  yaitu HS72 produk besi dan produk baja,&quot; pungkas Mendag.</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2021 mengalami peningkatan. Namun peningkatan ekspor tersebut harus disertai dengan diversifikasi produk dan negara tujuan untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul pada waktu mendatang.
&quot;Ekspor ini baik sekali, karena prestasi ini luar biasa artinya Indonesia bisa memanfaatkan recovery yang terjadi di AS dan China yang kelihatan di angka-angka perdagangannya. Ini adalah momentum yang perlu dipertahankan,&quot; ujar Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dilansir dari Antara, Kamis (5/8/2021).
Baca Juga: Ekspor Mebel dan Kerajinan Naik 35,41% di Tengah Pandemi
 
Ia memaparkan jika ekspor RI terkonsentrasi hanya pada produk dan negara tujuan tertentu maka jika terjadi penurunan, efek yang dirasakan akan besar terhadap perekonomian dalam negeri. Chatib mengatakan adanya diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor akan bisa mengatasi risiko yang muncul dari konsekuensi Indonesia yang mengadopsi ekonomi terbuka.
&quot;Jadi, kalau kami bisa memberikan contoh, banyak negara secara ekspor itu aman karena produknya yang cukup terdiversifikasi dan negara tujuan ekspornya juga. Itu yang menjelaskan misalnya beberapa kinerja daripada ekspornya relatif baik, termasuk Vietnam,&quot; ungkap mantan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) itu.
Baca Juga: Perbaiki Kualitas Produk Ekspor, Kapasitas Petani Harus Ditingkatkan
Menurut Chatib, meskipun kontribusi perdagangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia relatif kecil dibandingkan negara lain seperti Jepang atau China, namun pertumbuhan ekspor yang dicapai tercatat tinggi.
&quot;Artinya, walaupun dengan kontribusi yang relatif kecil, pertumbuhan ekspornya tinggi sekali,&quot; tukas Chatib.Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memaparkan bahwa RI  berhasil meningkatkan perdagangan dengan China, hingga mampu memperkecil  defisit nilai perdagangan menjadi 3,19 miliar dolar AS pada  Januari-Juni 2021. Mendag menyebutkan bahwa defisit perdagangan tersebut  yang terendah sejak 2005.
Menurut Lutfi, prestasi itu merupakan wujud dari komitmen Indonesia  dalam melakukan hilirisasi sektor pertambangan yang tidak lagi  mengekspor dalam bentuk mentah.
&quot;Ini adalah bagian dari komitmen kita untuk hilirisasi dari  pertambangan kita. Dengan komitmen yang jelas, kita itu memotong separuh  daripada defisit neraca perdagangan kita hanya dari satu komoditas,  yaitu HS72 produk besi dan produk baja,&quot; pungkas Mendag.</content:encoded></item></channel></rss>
