<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>1.000 Pesawat Dikembalikan ke Lessor Tahun Ini, Termasuk Garuda dan Lion Air</title><description>Pasar leasing pesawat komersial memang mengalami gejolak yang cukup besar sepanjang tahun ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air"/><item><title>1.000 Pesawat Dikembalikan ke Lessor Tahun Ini, Termasuk Garuda dan Lion Air</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air</guid><pubDate>Sabtu 07 Agustus 2021 14:30 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air-dCvHP33o9L.JPG" expression="full" type="image/jpeg">1.000 pesawat dikembalikan kepada lessor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/07/320/2452351/1-000-pesawat-dikembalikan-ke-lessor-tahun-ini-termasuk-garuda-dan-lion-air-dCvHP33o9L.JPG</image><title>1.000 pesawat dikembalikan kepada lessor (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Enam pesawat Lion Air Group terbang beriringan menuju Australia pada Jumat (6/8). Sebelumnya tercatat pula pada Rabu (4/8), Garuda Indonesia mengembalikan 9 unit pesawat milik perusahaan persewaan (lessor), Aercap Ireland Limited (Aercap), ke Australia. Pergerakan pesawat tersebut terpantau aplikasi penerbangan flightradar 24.
Pasar leasing pesawat komersial memang mengalami gejolak yang cukup besar sepanjang tahun ini. The International Bureau of Aviation (IBA) melaporkan, sepanjang tahun ini lebih dari seribu pesawat akan dikembalikan ke lessor tanpa kejelasan status.
Baca Juga: Pesawat Presiden Dicat Merah-Putih, Sudah Beroperasi Sejak 17 Juli 2021
 
Dikutip dari Aviator Aero, IBA merinci sebanyak 1.300 pesawat, termasuk 200 widebody, telah dijadwalkan untuk dikembalikan ke lessor pada tahun ini. Bahkan penjadwalan pengembalian ini telah dilakukan sejak sebelum pandemi COVID-19. Presiden IBA Phil Seymour mengatakan awalnya sewa sebagian besar pesawat akan diperpanjang.
&quot;Sayangnya opsi itu tersebut nampaknya sangat tidak mungkin dilakukan dengan adanya pandemi COVID-19 saat ini.
IBA mengatakan pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah penumpang pesawat turun drastis. Ini mengakibatkan maskapai tidak mampu melanjutkan sewa pesawat dan memilih mengembalikannya ke pihak lessor,&quot; ujar Phil.
Baca Juga: Jadwal Penerbangan di Bandara Ini Kacau Balau Akibat Serangan Roket
 
Adapun jumlah maskapai yang berencana mengakhiri masa sewa tidak sedikit. Awalnya kebanyakan maskapai tidak melanjutkan sewa karena sedang restrukturisasi. Namun kemudian kondisi memburuk hingga menyebabkan banyak maskapai mengalami kerugian bahkan bangkrut. Hal ini membuat nasib armada-armada pesawat yang dikembalikan ke lessor semakin tak jelas masa depannya
&quot;Ketidakpastian ini mematahkan pola yang selama ini sudah terbentuk. Biasanya ketika keuangan maskapai membaik, maka lessor akan mengirimkan ulang pesawat yang sempat dikembalikan,&quot; tambahnya.
IBA juga memperkirakan bahwa penurunan aktivitas penyewaan pesawat  ini akan berdampak negatif pada industri Maintenance, Repair, Overhaul  (MRO), atau bengkel pesawat. Jumlah kunjungan ke bengkel pesawat  dipastikan bakal menurun. Sebelum COVID-19, jumlah kunjungan pesawat ke  bengkel sempat diperkirakan akan meningkat dari 3.200 pada 2019 menjadi  4.500 kunjungan pada 2023.
&quot;Namun dengan kondisi sekarang, jumlah kunjungan pesawat yang masuk  ke bengkel perawatan diperkiaran hanya akan mencapai 1.000 kunjungan  tahun ini. Bahkan kondisi ini akan memakan waktu hingga 2026 untuk  mencapai tingkat perkiraan awal 2019,&quot; ungkap Phil.
Dia mengatakan, kondisi ini akan berdampak pada pada lessor dan MRO.  Kedua industri ini diprediksi akan melakukan pengurangan karyawan dengan  cara menawarkan pensiun dini pada staf berpengalaman.
&amp;ldquo;Ketidakpastian di pasar sewa pesawat komersial beberapa tahun  terakhir tiba-tiba diperparah oleh COVID-19, dan kami memperkirakan  dampak yang signifikan tidak hanya pada lessor tetapi juga di seluruh  ekosistem pasokan&amp;ndash; khususnya di sektor MRO,&amp;rdquo; terangnya.
IBA juga sempat membahas soal kondisi extraordinary yang dialami  Boeing 737 MAX. Pesawat jenis ini telah digrounded sejak terjadinya  kecelakaan pada Lion Air dan Ethiopia Airlines. Jenis MAX 8 diduga  memiliki serangkaian masalah teknis yang perlu ditangani. Saat  diputuskan untuk digrounded, pesawat jenis MAX 8 ini masih tetap  diproduksi. Kini pesawat-pesawat tersebut juga harus dikembalikan pada  lessor. Secara total, lebih dari 750 pesawat akan dikembalikan ke pihak  lessor.
&amp;ldquo;Sangat penting bagi Boeing untuk mempersiapkan kembali beroperasinya  MAX 8 dan memastikan tanpa insiden. Mengingat banyaknya jumlah pesawat  yang dikembalikan, kami memperkirakan proses ini akan memakan waktu  hingga dua tahun,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Enam pesawat Lion Air Group terbang beriringan menuju Australia pada Jumat (6/8). Sebelumnya tercatat pula pada Rabu (4/8), Garuda Indonesia mengembalikan 9 unit pesawat milik perusahaan persewaan (lessor), Aercap Ireland Limited (Aercap), ke Australia. Pergerakan pesawat tersebut terpantau aplikasi penerbangan flightradar 24.
Pasar leasing pesawat komersial memang mengalami gejolak yang cukup besar sepanjang tahun ini. The International Bureau of Aviation (IBA) melaporkan, sepanjang tahun ini lebih dari seribu pesawat akan dikembalikan ke lessor tanpa kejelasan status.
Baca Juga: Pesawat Presiden Dicat Merah-Putih, Sudah Beroperasi Sejak 17 Juli 2021
 
Dikutip dari Aviator Aero, IBA merinci sebanyak 1.300 pesawat, termasuk 200 widebody, telah dijadwalkan untuk dikembalikan ke lessor pada tahun ini. Bahkan penjadwalan pengembalian ini telah dilakukan sejak sebelum pandemi COVID-19. Presiden IBA Phil Seymour mengatakan awalnya sewa sebagian besar pesawat akan diperpanjang.
&quot;Sayangnya opsi itu tersebut nampaknya sangat tidak mungkin dilakukan dengan adanya pandemi COVID-19 saat ini.
IBA mengatakan pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah penumpang pesawat turun drastis. Ini mengakibatkan maskapai tidak mampu melanjutkan sewa pesawat dan memilih mengembalikannya ke pihak lessor,&quot; ujar Phil.
Baca Juga: Jadwal Penerbangan di Bandara Ini Kacau Balau Akibat Serangan Roket
 
Adapun jumlah maskapai yang berencana mengakhiri masa sewa tidak sedikit. Awalnya kebanyakan maskapai tidak melanjutkan sewa karena sedang restrukturisasi. Namun kemudian kondisi memburuk hingga menyebabkan banyak maskapai mengalami kerugian bahkan bangkrut. Hal ini membuat nasib armada-armada pesawat yang dikembalikan ke lessor semakin tak jelas masa depannya
&quot;Ketidakpastian ini mematahkan pola yang selama ini sudah terbentuk. Biasanya ketika keuangan maskapai membaik, maka lessor akan mengirimkan ulang pesawat yang sempat dikembalikan,&quot; tambahnya.
IBA juga memperkirakan bahwa penurunan aktivitas penyewaan pesawat  ini akan berdampak negatif pada industri Maintenance, Repair, Overhaul  (MRO), atau bengkel pesawat. Jumlah kunjungan ke bengkel pesawat  dipastikan bakal menurun. Sebelum COVID-19, jumlah kunjungan pesawat ke  bengkel sempat diperkirakan akan meningkat dari 3.200 pada 2019 menjadi  4.500 kunjungan pada 2023.
&quot;Namun dengan kondisi sekarang, jumlah kunjungan pesawat yang masuk  ke bengkel perawatan diperkiaran hanya akan mencapai 1.000 kunjungan  tahun ini. Bahkan kondisi ini akan memakan waktu hingga 2026 untuk  mencapai tingkat perkiraan awal 2019,&quot; ungkap Phil.
Dia mengatakan, kondisi ini akan berdampak pada pada lessor dan MRO.  Kedua industri ini diprediksi akan melakukan pengurangan karyawan dengan  cara menawarkan pensiun dini pada staf berpengalaman.
&amp;ldquo;Ketidakpastian di pasar sewa pesawat komersial beberapa tahun  terakhir tiba-tiba diperparah oleh COVID-19, dan kami memperkirakan  dampak yang signifikan tidak hanya pada lessor tetapi juga di seluruh  ekosistem pasokan&amp;ndash; khususnya di sektor MRO,&amp;rdquo; terangnya.
IBA juga sempat membahas soal kondisi extraordinary yang dialami  Boeing 737 MAX. Pesawat jenis ini telah digrounded sejak terjadinya  kecelakaan pada Lion Air dan Ethiopia Airlines. Jenis MAX 8 diduga  memiliki serangkaian masalah teknis yang perlu ditangani. Saat  diputuskan untuk digrounded, pesawat jenis MAX 8 ini masih tetap  diproduksi. Kini pesawat-pesawat tersebut juga harus dikembalikan pada  lessor. Secara total, lebih dari 750 pesawat akan dikembalikan ke pihak  lessor.
&amp;ldquo;Sangat penting bagi Boeing untuk mempersiapkan kembali beroperasinya  MAX 8 dan memastikan tanpa insiden. Mengingat banyaknya jumlah pesawat  yang dikembalikan, kami memperkirakan proses ini akan memakan waktu  hingga dua tahun,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
