<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Diminati Dunia, Bisnis Minyak Atsiri Raup Cuan selama Pandemi</title><description>Pelaku usaha minyak atsiri meraup untung selama pandemi covid-19. Sebab,  permintaan produk aromaterapi selama pandemi meningkat tajam.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi"/><item><title>Diminati Dunia, Bisnis Minyak Atsiri Raup Cuan selama Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi</guid><pubDate>Sabtu 07 Agustus 2021 08:51 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi-lv5IJvtkVJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyak atsiri diminati pasar ekspor (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/07/455/2452244/diminati-dunia-bisnis-minyak-atsiri-raup-cuan-selama-pandemi-lv5IJvtkVJ.jpg</image><title>Minyak atsiri diminati pasar ekspor (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Pelaku usaha minyak atsiri meraup untung selama pandemi covid-19. Sebab, permintaan produk aromaterapi selama pandemi meningkat tajam.
Adapun nilai ekspor minyak atsiri Indonesia hingga April 2021 mencapai USD83,9 juta dengan pertumbuhan sebesar 15,5% (yoy). Meskipun tidak dapat langsung mengatasi COVID-19, namun aromaterapi dipercaya bermanfaat sebagai antiviral, antibakterial dan membantu meningkatkan imunitas tubuh.
Baca Juga: Curhat Pedagang Bendera Jelang Hari Kemerdekaan RI: Mudah-mudahan Bisa Untung
 
Melihat kebermanfaatannya dan antusiasme masyarakat global untuk menjaga kesehatan, diharapkan menjadi momentum bagi eksportir untuk meningkatkan ekspornya ke negara tujuan ekspor baik yang eksisting maupun negara tujuan baru yang potensial sehingga minyak atsiri Indonesia semakin mendunia. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendorong pelaku usaha minyak atsiri untuk memperluas pasar ekspor seiring meningkatnya permintaan produk aromaterapi.
&quot;Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya harga minyak atsiri yang meroket pada masa pandemi,&quot; ujar Direktur Pelaksana LPEI Agus Windiarto dilansir dari Antara, Sabtu (7/8/2021).
Baca Juga: 8 Tips Sukses Bisnis Tahu Bakso
 
Selama 2020, nilai dan volume ekspor minyak atsiri Indonesia naik masing-masing 16,45% (yoy) dan 14,69% (yoy) mencapai USD215,81 juta dengan volume 7,54 juta ton. Dalam lima tahun terakhir (2016-2020), nilai ekspor minyak atsiri Indonesia cenderung mengalami peningkatan.
&quot;Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate atau CAGR ekspor minyak atsiri Indonesia ke lima negara tujuan utama berada pada tren positif, kecuali ke Singapura,&quot; kata Agus.Berdasarkan kajian yang dihasilkan oleh Indonesia Eximbank Institute,  CAGR nilai ekspor Indonesia selama periode 2016-2020 ke lima negara  tujuan utama antara lain ke India naik 10,73% per tahun, ke Amerika  Serikat naik 4,79% per tahun, ke Perancis naik 2,38% per tahun, dan ke  China naik 5,72% per tahun. Sementara ekspor ke Singapura menunjukkan  tren penurunan tipis selama lima tahun terakhir di level minus 0,35% per  tahun.
Pada 2020 lalu, Indonesia memiliki 189 eksportir minyak atsiri yang  tersebar di seluruh provinsi. Jawa Barat merupakan provinsi penyumbang  ekspor minyak atsiri terbesar dengan nilai USD68,92 juta (setara 31,9%  total ekspor minyak atsiri Indonesia), diikuti oleh Jawa Tengah sebesar  USD36,61 juta (17%) dan Sumatera Utara sebesar USD33,24 juta (15,4%).
Dari sisi sebaran eksportir, DKI Jakarta memiliki eksportir produk  minyak atsiri paling banyak di Indonesia dengan 48 eksportir di 2020,  diikuti oleh Jawa Barat (29 eksportir) dan Jawa Timur (24 eksportir).
Di tahun 2020 minat masyarakat terhadap produk minyak atsiri secara  global menunjukkan peningkatan cukup tinggi, khususnya di Eropa seperti  Prancis, Polandia, Irlandia, Belgia, Spanyol dan Belanda. Menurut Agus,  fakta tersebut tentu menjadi angin segar bagi ekspor Indonesia. Momentum  baik komoditas minyak atsiri sebagai bahan penyusun aromaterapi pun  seharusnya dapat dipertahankan.
&quot;Selain bahan mentah, para eksportir juga perlu meningkatkan nilai  tambah minyak atsiri sehingga nilai ekspornya juga turut terdongkrak,&quot;  ujar Agus.</description><content:encoded>JAKARTA - Pelaku usaha minyak atsiri meraup untung selama pandemi covid-19. Sebab, permintaan produk aromaterapi selama pandemi meningkat tajam.
Adapun nilai ekspor minyak atsiri Indonesia hingga April 2021 mencapai USD83,9 juta dengan pertumbuhan sebesar 15,5% (yoy). Meskipun tidak dapat langsung mengatasi COVID-19, namun aromaterapi dipercaya bermanfaat sebagai antiviral, antibakterial dan membantu meningkatkan imunitas tubuh.
Baca Juga: Curhat Pedagang Bendera Jelang Hari Kemerdekaan RI: Mudah-mudahan Bisa Untung
 
Melihat kebermanfaatannya dan antusiasme masyarakat global untuk menjaga kesehatan, diharapkan menjadi momentum bagi eksportir untuk meningkatkan ekspornya ke negara tujuan ekspor baik yang eksisting maupun negara tujuan baru yang potensial sehingga minyak atsiri Indonesia semakin mendunia. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendorong pelaku usaha minyak atsiri untuk memperluas pasar ekspor seiring meningkatnya permintaan produk aromaterapi.
&quot;Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya harga minyak atsiri yang meroket pada masa pandemi,&quot; ujar Direktur Pelaksana LPEI Agus Windiarto dilansir dari Antara, Sabtu (7/8/2021).
Baca Juga: 8 Tips Sukses Bisnis Tahu Bakso
 
Selama 2020, nilai dan volume ekspor minyak atsiri Indonesia naik masing-masing 16,45% (yoy) dan 14,69% (yoy) mencapai USD215,81 juta dengan volume 7,54 juta ton. Dalam lima tahun terakhir (2016-2020), nilai ekspor minyak atsiri Indonesia cenderung mengalami peningkatan.
&quot;Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate atau CAGR ekspor minyak atsiri Indonesia ke lima negara tujuan utama berada pada tren positif, kecuali ke Singapura,&quot; kata Agus.Berdasarkan kajian yang dihasilkan oleh Indonesia Eximbank Institute,  CAGR nilai ekspor Indonesia selama periode 2016-2020 ke lima negara  tujuan utama antara lain ke India naik 10,73% per tahun, ke Amerika  Serikat naik 4,79% per tahun, ke Perancis naik 2,38% per tahun, dan ke  China naik 5,72% per tahun. Sementara ekspor ke Singapura menunjukkan  tren penurunan tipis selama lima tahun terakhir di level minus 0,35% per  tahun.
Pada 2020 lalu, Indonesia memiliki 189 eksportir minyak atsiri yang  tersebar di seluruh provinsi. Jawa Barat merupakan provinsi penyumbang  ekspor minyak atsiri terbesar dengan nilai USD68,92 juta (setara 31,9%  total ekspor minyak atsiri Indonesia), diikuti oleh Jawa Tengah sebesar  USD36,61 juta (17%) dan Sumatera Utara sebesar USD33,24 juta (15,4%).
Dari sisi sebaran eksportir, DKI Jakarta memiliki eksportir produk  minyak atsiri paling banyak di Indonesia dengan 48 eksportir di 2020,  diikuti oleh Jawa Barat (29 eksportir) dan Jawa Timur (24 eksportir).
Di tahun 2020 minat masyarakat terhadap produk minyak atsiri secara  global menunjukkan peningkatan cukup tinggi, khususnya di Eropa seperti  Prancis, Polandia, Irlandia, Belgia, Spanyol dan Belanda. Menurut Agus,  fakta tersebut tentu menjadi angin segar bagi ekspor Indonesia. Momentum  baik komoditas minyak atsiri sebagai bahan penyusun aromaterapi pun  seharusnya dapat dipertahankan.
&quot;Selain bahan mentah, para eksportir juga perlu meningkatkan nilai  tambah minyak atsiri sehingga nilai ekspornya juga turut terdongkrak,&quot;  ujar Agus.</content:encoded></item></channel></rss>
