<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Bunuh Diri! Ini Tips agar Bisnis Kafe dan Restoran Bertahan di Tengah Pandemi   </title><description>Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia membuat hampir seluruh bisnis terdampak.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi"/><item><title>Jangan Bunuh Diri! Ini Tips agar Bisnis Kafe dan Restoran Bertahan di Tengah Pandemi   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi</guid><pubDate>Minggu 08 Agustus 2021 19:12 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi-vhoulc6XnB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Tips agar Bisnis Kafe dan Restoran Bertahan di Tengah Pandemi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/08/455/2452617/jangan-bunuh-diri-ini-tips-agar-bisnis-kafe-dan-restoran-bertahan-di-tengah-pandemi-vhoulc6XnB.jpg</image><title>Ilustrasi: Tips agar Bisnis Kafe dan Restoran Bertahan di Tengah Pandemi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia membuat hampir seluruh bisnis terdampak. Salah satu sektor usaha yang gigit jari adalah pelaku usaha di sektor kafe dan restoran. Sebab, akibat pandemi Covid-19, aktivitas masyarakat dibatasi yang membuat bisnis ini kian tergerus.

Sejumlah pemilik usaha ini terpukul ketika pelarangan pertemuan fisik telah menjerat aktivitas, ditambah dengan buka-tutup penerapan pembatasan, seperti PSBB maupun PPKM berlevel saat ini.

Berbagai pemilik usaha kafe dan restoran sempat melayangkan protes kepada pemerintah, seperti rencana pengibaran bendera putih, mediasi dengan aparat, hingga yang paling ekstrem ke arah percobaan bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di Bandung, Jawa Barat.

Pemerintah sampai saat ini masih menerapkan buka-tutup kebijakan pembatasan sosial, mengingat naik-turunnya angka harian pasien virus corona.

Baca Juga: Mau Mencoba Usaha di Tengah Pandemi? Perhatikan Hal Berikut

Fenomena yang terjadi dalam kurun waktu satu setengah tahun ini menjadi tantangan bagi bisnis kuliner untuk terus bertahan hidup selama pandemi.

Pengamat Bisnis dan Pemasaran Yuswohady menyebut bahwa kebijakan buka-tutup pembatasan dari pemerintah mestinya menjadi dasar bagi pemain kafe restoran menyesuaikan marketing bisnis mereka.

&quot;Nah itu kalau planning untuk resto itu kan setengah mati karena begitu ditutup langsung drop, begitu dibuka merangkak naik, ketika sudah mulai naik (pengunjungnya) ditutup lagi, drop lagi, begitu terus, itu yang terjadi selama satu tahun terakhir,&quot; kata Yuswo saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jakarta, Minggu (8/8/2021).

Untuk merespons fenomena ini, menurut Yuswo, pelaku bisnis perlu mengubah strategi pemasaran kafe-restoran tidak hanya berlandaskan konsep 'dine-in atau makan di tempat' melainkan adaptasi digital melalui instant-delivery maupun pemanfaatan sosial media.

Kedua hal ini bisa dicapai dengan cara 'Goes Kitchen' atau dapur tanpa kursi pengunjung yang dinilai dapat mengurangi beban pendapatan seperti karyawan, listrik, biaya sewa, dan sebagainya.

&quot;Ini untuk mengantisipasi kondisi buka tutup. Jadi nanti begitu dine in ditutup maka harus segera shifting ke delivery/digital channel. Ini yang bisa dilakukan oleh pemain resto. Mesti harus ke delivery, ini yang saya sebut creative channel, misalnya jual via whatsapp group, jual lewat instagram, selain delivery kurir, dan bahkan bisa melalui web/mobile aplikasi usaha itu,&quot; ujarnya.

Yuswo memandang diversifikasi bisnis kafe-resto ke arah digital adalah suatu hal yang niscaya. Artinya konsep take-away atau membawa pulang pesanan ini harus dapat menjadi peluang pengembangan bisnis mereka, di tengah kebijakan buka-tutup pembatasan.

&quot;Jadi begitu ditutup, dia akan ke digital, kalau dibuka akan dine-in, nah pemain resto harus punya kesiapan untuk punya dua channel itu dan punya sumber pendapatan yang dua itu, enggak bisa mengandalkan dine-in saja, perlu diversifikasi ke digital,&quot; katanya.

Meskipun perubahan ke arah digital tidak semudah membalikkan telapak tangan, di tengah maraknya digitalisasi, proses transformasi ini dinilai Yuswo akan mendidik para pelaku usaha.

&quot;Saya yakin mereka akan survive. Pasar itu akan mendidik mereka untuk bertahan, mendorong, mengarahkan, dan memaksa mereka untuk terus hidup, dan pilihannya ada disitu, pilihannya mereka akan mulai mengabil channel baru untuk mendapatkan omset melalui delivery, take away atau sosmed digital channel,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia membuat hampir seluruh bisnis terdampak. Salah satu sektor usaha yang gigit jari adalah pelaku usaha di sektor kafe dan restoran. Sebab, akibat pandemi Covid-19, aktivitas masyarakat dibatasi yang membuat bisnis ini kian tergerus.

Sejumlah pemilik usaha ini terpukul ketika pelarangan pertemuan fisik telah menjerat aktivitas, ditambah dengan buka-tutup penerapan pembatasan, seperti PSBB maupun PPKM berlevel saat ini.

Berbagai pemilik usaha kafe dan restoran sempat melayangkan protes kepada pemerintah, seperti rencana pengibaran bendera putih, mediasi dengan aparat, hingga yang paling ekstrem ke arah percobaan bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di Bandung, Jawa Barat.

Pemerintah sampai saat ini masih menerapkan buka-tutup kebijakan pembatasan sosial, mengingat naik-turunnya angka harian pasien virus corona.

Baca Juga: Mau Mencoba Usaha di Tengah Pandemi? Perhatikan Hal Berikut

Fenomena yang terjadi dalam kurun waktu satu setengah tahun ini menjadi tantangan bagi bisnis kuliner untuk terus bertahan hidup selama pandemi.

Pengamat Bisnis dan Pemasaran Yuswohady menyebut bahwa kebijakan buka-tutup pembatasan dari pemerintah mestinya menjadi dasar bagi pemain kafe restoran menyesuaikan marketing bisnis mereka.

&quot;Nah itu kalau planning untuk resto itu kan setengah mati karena begitu ditutup langsung drop, begitu dibuka merangkak naik, ketika sudah mulai naik (pengunjungnya) ditutup lagi, drop lagi, begitu terus, itu yang terjadi selama satu tahun terakhir,&quot; kata Yuswo saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jakarta, Minggu (8/8/2021).

Untuk merespons fenomena ini, menurut Yuswo, pelaku bisnis perlu mengubah strategi pemasaran kafe-restoran tidak hanya berlandaskan konsep 'dine-in atau makan di tempat' melainkan adaptasi digital melalui instant-delivery maupun pemanfaatan sosial media.

Kedua hal ini bisa dicapai dengan cara 'Goes Kitchen' atau dapur tanpa kursi pengunjung yang dinilai dapat mengurangi beban pendapatan seperti karyawan, listrik, biaya sewa, dan sebagainya.

&quot;Ini untuk mengantisipasi kondisi buka tutup. Jadi nanti begitu dine in ditutup maka harus segera shifting ke delivery/digital channel. Ini yang bisa dilakukan oleh pemain resto. Mesti harus ke delivery, ini yang saya sebut creative channel, misalnya jual via whatsapp group, jual lewat instagram, selain delivery kurir, dan bahkan bisa melalui web/mobile aplikasi usaha itu,&quot; ujarnya.

Yuswo memandang diversifikasi bisnis kafe-resto ke arah digital adalah suatu hal yang niscaya. Artinya konsep take-away atau membawa pulang pesanan ini harus dapat menjadi peluang pengembangan bisnis mereka, di tengah kebijakan buka-tutup pembatasan.

&quot;Jadi begitu ditutup, dia akan ke digital, kalau dibuka akan dine-in, nah pemain resto harus punya kesiapan untuk punya dua channel itu dan punya sumber pendapatan yang dua itu, enggak bisa mengandalkan dine-in saja, perlu diversifikasi ke digital,&quot; katanya.

Meskipun perubahan ke arah digital tidak semudah membalikkan telapak tangan, di tengah maraknya digitalisasi, proses transformasi ini dinilai Yuswo akan mendidik para pelaku usaha.

&quot;Saya yakin mereka akan survive. Pasar itu akan mendidik mereka untuk bertahan, mendorong, mengarahkan, dan memaksa mereka untuk terus hidup, dan pilihannya ada disitu, pilihannya mereka akan mulai mengabil channel baru untuk mendapatkan omset melalui delivery, take away atau sosmed digital channel,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
