<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mari Elka Bilang Sudah Ada Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi   </title><description>Tanda-tanda pemulihan ekonomi dunia sudah terlihat sejalan dengan percepatan vaksinasi dan stimulus dari pemerintah</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi"/><item><title>Mari Elka Bilang Sudah Ada Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi</guid><pubDate>Sabtu 14 Agustus 2021 14:49 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi-iiqiHGinoJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi Seiring Masifnya Vaksinasi. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/14/320/2455585/mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi-iiqiHGinoJ.jpg</image><title>Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi Seiring Masifnya Vaksinasi. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Managing Director World Bank Mari Elka Pangestu mengatakan tanda-tanda pemulihan ekonomi dunia sudah terlihat sejalan dengan percepatan vaksinasi dan stimulus yang diberikan pemerintah dari negara-negara.
Mantan Menteri Perdagangan ini menilai vaksinasi dan stimulus menjadi kunci utama dalam pemulihan ekonomi Indonesia.
&quot;Apa yang menjadi proyeksi ke depan memang sudah ada tanda-tanda pemulihan, bahkan proyeksi ekonomi dunia juga tengah mengalami pemulihan pesat terutama didorong oleh AS dengan program stimulusnya yang besar dan tingkat vaksinasi yang tinggi, serta didorong pertumbuhan di RRT,&quot; kata Mari dalam Congress of Indonesian Diaspora (CID) 'Peranan Diaspora dalam Pembangunan Bangsa' secara virtual, Sabtu (14/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Tangani Covid-19 di Sulawesi, Menko Airlangga Tingkatkan Testing hingga Vaksinasi
Mari Elka menyoroti betapa besar pengaruh percepatan vaksinasi dan stimulus untuk meminimalisir dampak ekonomi.
&quot;Kunci utamanya adalah tingkat vaksinasi dan juga seberapa jauh stimulus itu bisa dijalankan di masing-masing negara,&quot; terangnya.
Di sisi lain, kerjasama global antar-negara untuk memastikan sisi supply-demand dari vaksin perlu dilakukan.
&quot;Saya hanya ingin menyampaikan bahwa global cooperation dalam sisi ketersediaan dari negara maju ke negara berkembang perlu dilakukan,&quot; ujar Mari sembari berujar bahwa produsen vaksin masih terkonsentrasi di negara maju.
Diketahui, Indonesia menargetkan lebih dari 200 juta populasi penduduk untuk divaksin dengan target rata-rata 1-2 juta dosis suntikan per hari di beberapa wilayah yang menjadi prioritas.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menko Luhut Peringatkan Pemda Tidak Tutupi Angka Covid-19
Sementara itu, Mari Elka menyoroti ketimpangan vaksinasi di sejumlah negara.
&quot;Saat ini di Afrika hanya 1% dibanding di negara maju, dan produksi juga masih terkonsentrasi di negara maju,&quot; tuturnya.
Dari sisi permintaan (demand-side), negara harus siap menerima pasokan vaksin secara rutin, sembari mempertimbangkan faktor-faktor kesiapan lainnya.
Seperti persoalan imunitas dari tenaga kesehatan, pelatihan pekerja, dan pendekatan vaksinasi ke masyarakat.
&quot;Dua hal yang paling besar pengaruhnya adalah kecukupan dari tenaga medis untuk melakukan vaksinasi dan komunikasi dari negara dan komunitas ke masyarakat,&quot; terangnya.Dirinya memprediksi bahwa percepatan vaksinasi dapat rampung pada 2022.
&quot;Karena memang semua prediksi ini sangat terkait dengan seberapa jauh negara itu bisa mempercepat program vaksinasi itu,&quot; terangnya.
Tak ketinggalan, stimulus pemerintah berpengaruh di masyarakat. Namun, dirinya menyoroti ketimpangan alokasi stimulus antara negara maju dan berkembang.
&quot;Tentunya negara berkembang dalam situasi yang tidak menguntungkan, kalau rata-rata negara berkembang hanya bisa mempunyai kekuatan 4-5% dari produk domestik bruto (PDB) untuk melakukan stimulus termasuk social protection untuk masyarakatnya, di mana negara maju bisa sampai 10-20%, di situ letak perbedaannya,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Managing Director World Bank Mari Elka Pangestu mengatakan tanda-tanda pemulihan ekonomi dunia sudah terlihat sejalan dengan percepatan vaksinasi dan stimulus yang diberikan pemerintah dari negara-negara.
Mantan Menteri Perdagangan ini menilai vaksinasi dan stimulus menjadi kunci utama dalam pemulihan ekonomi Indonesia.
&quot;Apa yang menjadi proyeksi ke depan memang sudah ada tanda-tanda pemulihan, bahkan proyeksi ekonomi dunia juga tengah mengalami pemulihan pesat terutama didorong oleh AS dengan program stimulusnya yang besar dan tingkat vaksinasi yang tinggi, serta didorong pertumbuhan di RRT,&quot; kata Mari dalam Congress of Indonesian Diaspora (CID) 'Peranan Diaspora dalam Pembangunan Bangsa' secara virtual, Sabtu (14/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Tangani Covid-19 di Sulawesi, Menko Airlangga Tingkatkan Testing hingga Vaksinasi
Mari Elka menyoroti betapa besar pengaruh percepatan vaksinasi dan stimulus untuk meminimalisir dampak ekonomi.
&quot;Kunci utamanya adalah tingkat vaksinasi dan juga seberapa jauh stimulus itu bisa dijalankan di masing-masing negara,&quot; terangnya.
Di sisi lain, kerjasama global antar-negara untuk memastikan sisi supply-demand dari vaksin perlu dilakukan.
&quot;Saya hanya ingin menyampaikan bahwa global cooperation dalam sisi ketersediaan dari negara maju ke negara berkembang perlu dilakukan,&quot; ujar Mari sembari berujar bahwa produsen vaksin masih terkonsentrasi di negara maju.
Diketahui, Indonesia menargetkan lebih dari 200 juta populasi penduduk untuk divaksin dengan target rata-rata 1-2 juta dosis suntikan per hari di beberapa wilayah yang menjadi prioritas.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menko Luhut Peringatkan Pemda Tidak Tutupi Angka Covid-19
Sementara itu, Mari Elka menyoroti ketimpangan vaksinasi di sejumlah negara.
&quot;Saat ini di Afrika hanya 1% dibanding di negara maju, dan produksi juga masih terkonsentrasi di negara maju,&quot; tuturnya.
Dari sisi permintaan (demand-side), negara harus siap menerima pasokan vaksin secara rutin, sembari mempertimbangkan faktor-faktor kesiapan lainnya.
Seperti persoalan imunitas dari tenaga kesehatan, pelatihan pekerja, dan pendekatan vaksinasi ke masyarakat.
&quot;Dua hal yang paling besar pengaruhnya adalah kecukupan dari tenaga medis untuk melakukan vaksinasi dan komunikasi dari negara dan komunitas ke masyarakat,&quot; terangnya.Dirinya memprediksi bahwa percepatan vaksinasi dapat rampung pada 2022.
&quot;Karena memang semua prediksi ini sangat terkait dengan seberapa jauh negara itu bisa mempercepat program vaksinasi itu,&quot; terangnya.
Tak ketinggalan, stimulus pemerintah berpengaruh di masyarakat. Namun, dirinya menyoroti ketimpangan alokasi stimulus antara negara maju dan berkembang.
&quot;Tentunya negara berkembang dalam situasi yang tidak menguntungkan, kalau rata-rata negara berkembang hanya bisa mempunyai kekuatan 4-5% dari produk domestik bruto (PDB) untuk melakukan stimulus termasuk social protection untuk masyarakatnya, di mana negara maju bisa sampai 10-20%, di situ letak perbedaannya,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
