<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dear Investor Pemula, Jangan Tergiur dengan Cuan Besar</title><description>Ada tips investasi untuk investor saham pemula, terutama kaum milenial dan Gen Z, agar tak gampang tergiur memperoleh cuan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar"/><item><title>Dear Investor Pemula, Jangan Tergiur dengan Cuan Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar</guid><pubDate>Rabu 18 Agustus 2021 13:07 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar-HvFH0bxml4.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Invetsasi bagi pemula (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/18/622/2457208/dear-investor-pemula-jangan-tergiur-dengan-cuan-besar-HvFH0bxml4.jpeg</image><title>Tips Invetsasi bagi pemula (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ada tips investasi untuk investor saham pemula, terutama kaum milenial dan Gen Z, agar tak gampang tergiur memperoleh cuan yang besar dalam waktu singkat.
&quot;Selalu ingat prinsip investasi dasar high risk-high return. Apabila ada tawaran investasi dengan potensi imbal hasil yang tinggi atau bahkan di luar nalar, kita harus selalu waspada. Di balik potensi return yang tinggi, terdapat potensi risiko yang tinggi pula,&quot; kata Chief Economist &amp;amp; Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Katarina Setiawan dilansir dari Antara, Rabu (18/8/2021).
Baca Juga: Presiden Jokowi Yakin Target Investasi Rp900 Triliun Bisa Tercapai
 
Selain itu Katarina menyarankan investor untuk membiasakan melakukan riset terhadap produk atau instrumen investasi sebelum membeli, sehingga dapat mengenal produk atau instrumen tersebut dan mengambil keputusan investasi dengan lebih baik.
Selain itu, lanjutnya, investasi harus disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing.
Baca Juga: Wajib Tahu, Berikut 5 Ciri-Ciri Investasi Bodong
 
&quot;Investor pemula yang baru mengenal investasi atau baru berinvestasi, idealnya mulai dari instrumen investasi yang risikonya rendah atau konservatif. Bertahap, setelah mengenal dan memahami investasi yang dipilih, silakan naik ke investasi yang risiko lebih tinggi,&quot; ujar Katarina.
Ia menjelaskan, investasi dan spekulasi adalah dua hal yang berbeda. Spekulasi lebih bersifat mencari keuntungan jangka pendek, sementara investasi lebih bersifat jangka panjang yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial investor.&quot;Bayangkan spekulasi seperti sebuah lomba lari sprint 100 meter,  sementara investasi adalah marathon 42 km. Keduanya memiliki strategi  yang berbeda untuk bisa sukses,&quot; katanya.
Menurut Katarina, investasi yang baik sudah mengintegrasikan aspek  perencanaan keuangan pribadi untuk menentukan keputusan investasi. Jadi  berbagai faktor seperti tujuan finansial, jangka waktu investasi,  kebutuhan likuiditas, dan profil risiko, menjadi faktor penting yang  menjadi bahan pertimbangan. Oleh karena itu tingkat risiko investasi  dapat ditekan oleh perencanaan yang baik.
&quot;Sementara itu spekulasi bersifat jangka pendek dan untung-untungan.  Aksi spekulan biasanya didorong oleh rumor dan tanpa perencanaan atau  riset yang baik. Oleh karena itu tingkat risiko spekulasi relatif  tinggi, bisa untung besar dan sebaliknya juga bisa rugi besar,&quot; ujar  Katarina.
Ia menilai,saat ini masih belum banyak masyarakat yang mengenal atau  belum paham soal investasi sehingga rawan sekali adanya penipuan yang  mengatasnamakan investasi, ataupun aksi spekulasi yang dianggap sebagai  investasi.
&quot;Kami memiliki modul edukasi yang kita sebut 3i yaitu insyaf, irit,  invest, yang diluncurkan sejak 2013. Kami mengajarkan ke masyarakat dari  berbagai lapisan, proses investasi. Dari mulai insyaf, dan sadar akan  gaya hidup berlebih, kemudian berlanjut untuk lebih irit atau berhemat,  sampai sisa dana kemudian diinvestasikan demi masa depan yang cerah,&quot;  kata Katarina.</description><content:encoded>JAKARTA - Ada tips investasi untuk investor saham pemula, terutama kaum milenial dan Gen Z, agar tak gampang tergiur memperoleh cuan yang besar dalam waktu singkat.
&quot;Selalu ingat prinsip investasi dasar high risk-high return. Apabila ada tawaran investasi dengan potensi imbal hasil yang tinggi atau bahkan di luar nalar, kita harus selalu waspada. Di balik potensi return yang tinggi, terdapat potensi risiko yang tinggi pula,&quot; kata Chief Economist &amp;amp; Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Katarina Setiawan dilansir dari Antara, Rabu (18/8/2021).
Baca Juga: Presiden Jokowi Yakin Target Investasi Rp900 Triliun Bisa Tercapai
 
Selain itu Katarina menyarankan investor untuk membiasakan melakukan riset terhadap produk atau instrumen investasi sebelum membeli, sehingga dapat mengenal produk atau instrumen tersebut dan mengambil keputusan investasi dengan lebih baik.
Selain itu, lanjutnya, investasi harus disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing.
Baca Juga: Wajib Tahu, Berikut 5 Ciri-Ciri Investasi Bodong
 
&quot;Investor pemula yang baru mengenal investasi atau baru berinvestasi, idealnya mulai dari instrumen investasi yang risikonya rendah atau konservatif. Bertahap, setelah mengenal dan memahami investasi yang dipilih, silakan naik ke investasi yang risiko lebih tinggi,&quot; ujar Katarina.
Ia menjelaskan, investasi dan spekulasi adalah dua hal yang berbeda. Spekulasi lebih bersifat mencari keuntungan jangka pendek, sementara investasi lebih bersifat jangka panjang yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial investor.&quot;Bayangkan spekulasi seperti sebuah lomba lari sprint 100 meter,  sementara investasi adalah marathon 42 km. Keduanya memiliki strategi  yang berbeda untuk bisa sukses,&quot; katanya.
Menurut Katarina, investasi yang baik sudah mengintegrasikan aspek  perencanaan keuangan pribadi untuk menentukan keputusan investasi. Jadi  berbagai faktor seperti tujuan finansial, jangka waktu investasi,  kebutuhan likuiditas, dan profil risiko, menjadi faktor penting yang  menjadi bahan pertimbangan. Oleh karena itu tingkat risiko investasi  dapat ditekan oleh perencanaan yang baik.
&quot;Sementara itu spekulasi bersifat jangka pendek dan untung-untungan.  Aksi spekulan biasanya didorong oleh rumor dan tanpa perencanaan atau  riset yang baik. Oleh karena itu tingkat risiko spekulasi relatif  tinggi, bisa untung besar dan sebaliknya juga bisa rugi besar,&quot; ujar  Katarina.
Ia menilai,saat ini masih belum banyak masyarakat yang mengenal atau  belum paham soal investasi sehingga rawan sekali adanya penipuan yang  mengatasnamakan investasi, ataupun aksi spekulasi yang dianggap sebagai  investasi.
&quot;Kami memiliki modul edukasi yang kita sebut 3i yaitu insyaf, irit,  invest, yang diluncurkan sejak 2013. Kami mengajarkan ke masyarakat dari  berbagai lapisan, proses investasi. Dari mulai insyaf, dan sadar akan  gaya hidup berlebih, kemudian berlanjut untuk lebih irit atau berhemat,  sampai sisa dana kemudian diinvestasikan demi masa depan yang cerah,&quot;  kata Katarina.</content:encoded></item></channel></rss>
