<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pelemahan Rupiah Masih Lebih Baik dari Mata Uang Thailand dan Malaysia</title><description>Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar Rupiah menguat didukung langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia"/><item><title>Pelemahan Rupiah Masih Lebih Baik dari Mata Uang Thailand dan Malaysia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia</guid><pubDate>Kamis 19 Agustus 2021 15:16 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia-tipsdSXa7e.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pelemahan rupiah lebih baik dibandingkan Malaysia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/19/320/2457911/pelemahan-rupiah-masih-lebih-baik-dari-mata-uang-thailand-dan-malaysia-tipsdSXa7e.jpg</image><title>Pelemahan rupiah lebih baik dibandingkan Malaysia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar Rupiah menguat didukung langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkembangan tersebut, Rupiah sampai dengan 18 Agustus 2021 mencatat depresiasi sekitar 2,24% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020, relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Naik ke Level Rp14.379/USD 
 
&quot;Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar,&quot; kata Perry di Jakarta, Kamis (19/8/2021).
Baca Juga: Daftar Pahlawan yang Wajahnya Tercetak di Uang Rupiah
 
Nilai tukar Rupiah pada 18 Agustus 2021 menguat 0,89% secara rerata dan 0,63% secara point to point dibandingkan dengan level Juli 2021. Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh peningkatan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik seiring dengan menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.Di sisi lain, BI mencatat inflasi tetap rendah dan mendukung  stabilitas perekonomian. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2021  tercatat inflasi 0,08% (mtm) sehingga inflasi IHK sampai Juli 2021  mencapai 0,81% (ytd).
Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 1,52% (yoy), meningkat  dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,33% (yoy).  Inflasi inti terjaga rendah sejalan dengan masih terbatasnya permintaan  domestik, terjaganya stabilitas nilai tukar, dan konsistensi kebijakan  Bank Indonesia mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target.
Inflasi kelompok volatile food dan administered prices sedikit  meningkat diakibatkan kenaikan harga komoditas hortikultura dan  berlanjutnya transmisi kenaikan cukai tembakau. Bank Indonesia tetap  berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan  dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim  Pengendali Inflasi (TPI dan TPID), termasuk menjaga ketersediaan pasokan  selama implementasi kebijakan pembatasan mobilitas. Inflasi  diprakirakan akan berada dalam kisaran sasarannya 3,0&amp;plusmn;1% pada 2021 dan  2022</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar Rupiah menguat didukung langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkembangan tersebut, Rupiah sampai dengan 18 Agustus 2021 mencatat depresiasi sekitar 2,24% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020, relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Naik ke Level Rp14.379/USD 
 
&quot;Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar,&quot; kata Perry di Jakarta, Kamis (19/8/2021).
Baca Juga: Daftar Pahlawan yang Wajahnya Tercetak di Uang Rupiah
 
Nilai tukar Rupiah pada 18 Agustus 2021 menguat 0,89% secara rerata dan 0,63% secara point to point dibandingkan dengan level Juli 2021. Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh peningkatan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik seiring dengan menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.Di sisi lain, BI mencatat inflasi tetap rendah dan mendukung  stabilitas perekonomian. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2021  tercatat inflasi 0,08% (mtm) sehingga inflasi IHK sampai Juli 2021  mencapai 0,81% (ytd).
Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 1,52% (yoy), meningkat  dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,33% (yoy).  Inflasi inti terjaga rendah sejalan dengan masih terbatasnya permintaan  domestik, terjaganya stabilitas nilai tukar, dan konsistensi kebijakan  Bank Indonesia mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target.
Inflasi kelompok volatile food dan administered prices sedikit  meningkat diakibatkan kenaikan harga komoditas hortikultura dan  berlanjutnya transmisi kenaikan cukai tembakau. Bank Indonesia tetap  berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan  dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim  Pengendali Inflasi (TPI dan TPID), termasuk menjaga ketersediaan pasokan  selama implementasi kebijakan pembatasan mobilitas. Inflasi  diprakirakan akan berada dalam kisaran sasarannya 3,0&amp;plusmn;1% pada 2021 dan  2022</content:encoded></item></channel></rss>
