<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>ADB Sebut Pendapatan UMKM Indonesia Masih Lesu</title><description>Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia masih mengalami penurunan permintaan dan pendapatan pada 2021.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu"/><item><title>ADB Sebut Pendapatan UMKM Indonesia Masih Lesu</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu</guid><pubDate>Kamis 19 Agustus 2021 20:23 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu-iNKdu7IJQh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ADB sebut pendapatan UMKM masih rendah (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/19/455/2458046/adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu-iNKdu7IJQh.jpg</image><title>ADB sebut pendapatan UMKM masih rendah (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia masih mengalami penurunan permintaan dan pendapatan pada 2021. Pendapatan masih rendah meskipun sebagian aktivitas usaha sudah kembali dibuka.
&amp;ldquo;Aktivitas usaha sudah kembali buka tapi pelaku UMKM masih menghadapi penurunan permintaan dan pendapatan yang tajam,&amp;rdquo; kata Senior Ekonomis Asian Development Bank (ADB) Shigehiro Shinozaki dilansir dari Antara, Kamis (19/8/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor
 
Berdasarkan data yang diperoleh dari survei yang melibatkan 2.509 pelaku UMKM Indonesia, ADB menemukan bahwa penutupan usaha mikro telah menurun dari 48% pada Maret-April 2020 menjadi lima% periode yang sama tahun 2021. Sementara itu, penutupan usaha kecil menurun dari 54,4% menjadi 1,8%, dan penutupan usaha menengah menurun dari 31,3% menjadi 6,3%.
Namun demikian pelaku UMKM yang mengalami penurunan permintaan domestik yang memengaruhi pendapatan masih meningkat. Usaha kecil yang mengalami penurunan permintaan domestik meningkat dari 27,9% pada Maret-April 2020 menjadi 60,2% di periode yang sama 2021, usaha kecil dari 40% menjadi 68,7%, dan usaha menengah dari 43,8% menjadi 64,6%.
Baca Juga: Jokowi Bangga Lebih dari 14 Juta UMKM Sudah Go Digital
 
&amp;ldquo;Beberapa pelaku UMKM telah berhasil mengatasi kondisi tanpa cash yang serius. Namun jumlah pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke depan mengalami peningkatan,&amp;rdquo; imbuhnya.
Dalam survei yang sama, hanya 28,1% pelaku usaha mikro, 10,1% pelaku usaha kecil, dan 6,3% pelaku usaha menengah, yang tercatat sudah tidak memiliki dana kas atau simpanan pada Maret-April 2021.Persentase itu berkurang dibandingkan periode yang sama tahun lalu,  di mana 55,8% pelaku usaha mikro, 40% pelaku usaha kecil, dan 31,3%  pelaku usaha menengah, mengaku sudah tidak memiliki cash atau simpanan  sama sekali.
Hanya saja Shigehiro mengatakan pemerintah harus memberikan perhatian  kepada pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke  depan karena jumlahnya meningkat.
Pada Maret-April 2020 ADB mencatat tidak ada pelaku usaha mikro,  kecil, dan menengah yang mengaku akan kehabisan modal kerja dalam 3-6  bulan ke depan. Sementara itu jumlahnya menjadi 14,7% untuk pelaku usaha  mikro, 18,9% untuk pelaku usaha kecil, dan 14,6% untuk pelaku usaha  menengah pada Maret-April 2021.
&amp;ldquo;Pelaku UMKM sangat menginginkan akses terhadap pinjaman lunak,  tetapi keinginan mereka itu berkurang saat akses kepada kredit bank  meningkat. Subsidi usaha adalah langkah kebijakan teratas yang  diinginkan,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia masih mengalami penurunan permintaan dan pendapatan pada 2021. Pendapatan masih rendah meskipun sebagian aktivitas usaha sudah kembali dibuka.
&amp;ldquo;Aktivitas usaha sudah kembali buka tapi pelaku UMKM masih menghadapi penurunan permintaan dan pendapatan yang tajam,&amp;rdquo; kata Senior Ekonomis Asian Development Bank (ADB) Shigehiro Shinozaki dilansir dari Antara, Kamis (19/8/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor
 
Berdasarkan data yang diperoleh dari survei yang melibatkan 2.509 pelaku UMKM Indonesia, ADB menemukan bahwa penutupan usaha mikro telah menurun dari 48% pada Maret-April 2020 menjadi lima% periode yang sama tahun 2021. Sementara itu, penutupan usaha kecil menurun dari 54,4% menjadi 1,8%, dan penutupan usaha menengah menurun dari 31,3% menjadi 6,3%.
Namun demikian pelaku UMKM yang mengalami penurunan permintaan domestik yang memengaruhi pendapatan masih meningkat. Usaha kecil yang mengalami penurunan permintaan domestik meningkat dari 27,9% pada Maret-April 2020 menjadi 60,2% di periode yang sama 2021, usaha kecil dari 40% menjadi 68,7%, dan usaha menengah dari 43,8% menjadi 64,6%.
Baca Juga: Jokowi Bangga Lebih dari 14 Juta UMKM Sudah Go Digital
 
&amp;ldquo;Beberapa pelaku UMKM telah berhasil mengatasi kondisi tanpa cash yang serius. Namun jumlah pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke depan mengalami peningkatan,&amp;rdquo; imbuhnya.
Dalam survei yang sama, hanya 28,1% pelaku usaha mikro, 10,1% pelaku usaha kecil, dan 6,3% pelaku usaha menengah, yang tercatat sudah tidak memiliki dana kas atau simpanan pada Maret-April 2021.Persentase itu berkurang dibandingkan periode yang sama tahun lalu,  di mana 55,8% pelaku usaha mikro, 40% pelaku usaha kecil, dan 31,3%  pelaku usaha menengah, mengaku sudah tidak memiliki cash atau simpanan  sama sekali.
Hanya saja Shigehiro mengatakan pemerintah harus memberikan perhatian  kepada pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke  depan karena jumlahnya meningkat.
Pada Maret-April 2020 ADB mencatat tidak ada pelaku usaha mikro,  kecil, dan menengah yang mengaku akan kehabisan modal kerja dalam 3-6  bulan ke depan. Sementara itu jumlahnya menjadi 14,7% untuk pelaku usaha  mikro, 18,9% untuk pelaku usaha kecil, dan 14,6% untuk pelaku usaha  menengah pada Maret-April 2021.
&amp;ldquo;Pelaku UMKM sangat menginginkan akses terhadap pinjaman lunak,  tetapi keinginan mereka itu berkurang saat akses kepada kredit bank  meningkat. Subsidi usaha adalah langkah kebijakan teratas yang  diinginkan,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
