<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Butuh Belanja Pemerintah, Pelonggaran PPKM Bukan Berarti Ekonomi Langsung Normal</title><description>Belanja pemerintah masih dibutuhkan sampai akhir 2022, meski PPKM di Jabodetabek dan 15  kabupaten/kota lain telah turun ke level 3.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal"/><item><title>Butuh Belanja Pemerintah, Pelonggaran PPKM Bukan Berarti Ekonomi Langsung Normal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal</guid><pubDate>Selasa 24 Agustus 2021 12:27 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal-gb7xOi3XbH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemulihan Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/24/320/2460229/butuh-belanja-pemerintah-pelonggaran-ppkm-bukan-berarti-ekonomi-langsung-normal-gb7xOi3XbH.jpg</image><title>Pemulihan Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Belanja pemerintah masih dibutuhkan sampai akhir 2022, meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jabodetabek dan 15 kabupaten/kota lain telah turun ke level 3.
&quot;Pelonggaran bukan berarti ekonomi langsung normal yang berarti support belanja pemerintah masih konsisten dibutuhkan setidaknya sampai akhir 2022,&quot; kata Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Selasa (24/8/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga: Isolasi Terpusat di Luar Jawa Bali Tersedia 40.983 Tempat Tidur
 
Pelonggaran PPKM dari level 4 ke 3 akan memperbaiki konsumsi rumah tangga, tetapi secara terbatas. Konsumsi diperkirakan belum bisa kembali tinggi seperti pada kuartal II-2021 sebelum pengetatan PPKM.
Pasalnya, meskipun pusat belanja mulai diizinkan untuk dikunjungi, daya beli kelas menengah belum mendukung belanja yang tinggi. Di samping itu, kapasitas kerja di kantor masih dibatasi maksimum sampai 25% untuk sektor non esensial.
Baca Juga: Daerah PPKM Level 3 Bisa Gelar Sekolah Tatap Muka Kapasitas 50%
 
&quot;Artinya sebagian pekerja masih berada di rumah. Padahal pengunjung mal kan juga pekerja perkantoran, jadi satu sektor dilonggarkan tapi sektor lain masih dibatasi belum akan berpengaruh banyak,&quot; imbuh Bhima.
Bhima pun menyarankan pemerintah untuk terus meningkatkan penyaluran belanja untuk perlindungan sosial dan bantuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di samping itu, ia juga menyarankan kepada pemerintah untuk tetap memprioritaskan vaksinasi pekerja sektor esensial.
&quot;Jangan sampai kembali terjadi lonjakan kasus kemudian yang disalahkan sektor industri manufaktur, karena ada klaster pabrik. Prokes tetap dijaga dan dari pihak pengusaha wajib transparan jika ditemukan kasus baru di lingkungan kerja sehingga penanganan lebih cepat,&quot; imbuhnya.Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021, meski  diperkirakan masih positif, tidak akan menyentuh angka 7%. Bhima  memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 berada pada kisaran  2% year on year.
&quot;Bulan September tidak ada event besar yang bisa memicu kenaikan mobilitas masyarakat,&quot; ucapnya.
Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun juga akan dipengaruhi oleh  penanganan pandemi COVID-19 pada kuartal IV-2021 yang akan datang.  Apabila kasus COVID-19 sudah turun dan aktivitas perekonomian kembali  berjalan, perekonomian dapat tumbuh tinggi didorong oleh belanja untuk  natal dan tahun baru.
Sementara itu, ekspor cenderung belum bisa banyak diharapkan. Ia  memperkirakan ekspor akan lebih rendah karena negara tujuan sedang  berfokus menangani varian delta sehingga berpengaruh terhadap laju  konsumsi maupun permintaan bahan baku industri.</description><content:encoded>JAKARTA - Belanja pemerintah masih dibutuhkan sampai akhir 2022, meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jabodetabek dan 15 kabupaten/kota lain telah turun ke level 3.
&quot;Pelonggaran bukan berarti ekonomi langsung normal yang berarti support belanja pemerintah masih konsisten dibutuhkan setidaknya sampai akhir 2022,&quot; kata Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Selasa (24/8/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga: Isolasi Terpusat di Luar Jawa Bali Tersedia 40.983 Tempat Tidur
 
Pelonggaran PPKM dari level 4 ke 3 akan memperbaiki konsumsi rumah tangga, tetapi secara terbatas. Konsumsi diperkirakan belum bisa kembali tinggi seperti pada kuartal II-2021 sebelum pengetatan PPKM.
Pasalnya, meskipun pusat belanja mulai diizinkan untuk dikunjungi, daya beli kelas menengah belum mendukung belanja yang tinggi. Di samping itu, kapasitas kerja di kantor masih dibatasi maksimum sampai 25% untuk sektor non esensial.
Baca Juga: Daerah PPKM Level 3 Bisa Gelar Sekolah Tatap Muka Kapasitas 50%
 
&quot;Artinya sebagian pekerja masih berada di rumah. Padahal pengunjung mal kan juga pekerja perkantoran, jadi satu sektor dilonggarkan tapi sektor lain masih dibatasi belum akan berpengaruh banyak,&quot; imbuh Bhima.
Bhima pun menyarankan pemerintah untuk terus meningkatkan penyaluran belanja untuk perlindungan sosial dan bantuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di samping itu, ia juga menyarankan kepada pemerintah untuk tetap memprioritaskan vaksinasi pekerja sektor esensial.
&quot;Jangan sampai kembali terjadi lonjakan kasus kemudian yang disalahkan sektor industri manufaktur, karena ada klaster pabrik. Prokes tetap dijaga dan dari pihak pengusaha wajib transparan jika ditemukan kasus baru di lingkungan kerja sehingga penanganan lebih cepat,&quot; imbuhnya.Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021, meski  diperkirakan masih positif, tidak akan menyentuh angka 7%. Bhima  memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 berada pada kisaran  2% year on year.
&quot;Bulan September tidak ada event besar yang bisa memicu kenaikan mobilitas masyarakat,&quot; ucapnya.
Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun juga akan dipengaruhi oleh  penanganan pandemi COVID-19 pada kuartal IV-2021 yang akan datang.  Apabila kasus COVID-19 sudah turun dan aktivitas perekonomian kembali  berjalan, perekonomian dapat tumbuh tinggi didorong oleh belanja untuk  natal dan tahun baru.
Sementara itu, ekspor cenderung belum bisa banyak diharapkan. Ia  memperkirakan ekspor akan lebih rendah karena negara tujuan sedang  berfokus menangani varian delta sehingga berpengaruh terhadap laju  konsumsi maupun permintaan bahan baku industri.</content:encoded></item></channel></rss>
