<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Orang Kaya Masih Tahan Duit untuk Belanja   </title><description>BPS mencatat konsumsi masyarakat kelompok menengah ke atas pada Maret 2020 terhadap Maret 2021 relatif lambat</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja"/><item><title>Orang Kaya Masih Tahan Duit untuk Belanja   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja</guid><pubDate>Senin 30 Agustus 2021 17:54 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja-7PTvZBuO1j.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Orang Kaya Masih Tahan Uang untuk Belanja. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/30/320/2463461/orang-kaya-masih-tahan-duit-untuk-belanja-7PTvZBuO1j.jpg</image><title>Orang Kaya Masih Tahan Uang untuk Belanja. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi masyarakat kelompok menengah ke atas pada Maret 2020 terhadap Maret 2021 relatif lambat dibandingkan Maret 2019 terhadap Maret 2020.
Kepala BPS Margo Yuwonk mengatakan, adanya kehati-hatian untuk memperhatikan konsumsi rumah tangga tersebut, mengingat konsumsi rumah tangga adalah salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga:&amp;nbsp;Penerapan Pajak Karbon Jadi Alat Menuju Indonesia Emas 2045
&amp;ldquo;Artinya kelompok menengah ke atas itu menahan belanjanya sambil melihat kondisi bagaimana  di tingkat kesehatanya,&amp;rdquo; kata Margo dalam rapat dengan DPR, Seni  (30/8/2021)
Kata dia, perlu adanya perhatian bagaimana mendorong spending masyarakat menengah ke atas. Saat ini inflasi inti konsumsi rumah tangga ini disebabkan karena adanya pembelian yang terbatas.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani Bersyukur Kasus Covid-19 Turun tapi Tetap Waspada
&amp;ldquo;Untuk itu pemerintah perlu memperhatikan bagaimana pergerakan inflasi inti ini, karena penting untuk melihat pergerakan daya beli masyarakat,&amp;rdquo; pungkasnya.Sementara itu, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2021 mencapai USD17,70 miliar, turun 4,53% dibanding ekspor Juni 2021 yang sebesar USD18,54 miliar (month-to-month/mtm). Namun jika dibandingkan dengan Juli 2020 yang sebesar USD13,69 miliar, terjadi peningkatan sebesar 29,32% (year-on-year/yoy).
Adapun, penurunan ekspor secara bulanan ini lebih disebabkan oleh faktor musiman. Pasalnya di Juni 2021 sempat terjadi peningkatan ekspor yang cukup tinggi setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi masyarakat kelompok menengah ke atas pada Maret 2020 terhadap Maret 2021 relatif lambat dibandingkan Maret 2019 terhadap Maret 2020.
Kepala BPS Margo Yuwonk mengatakan, adanya kehati-hatian untuk memperhatikan konsumsi rumah tangga tersebut, mengingat konsumsi rumah tangga adalah salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga:&amp;nbsp;Penerapan Pajak Karbon Jadi Alat Menuju Indonesia Emas 2045
&amp;ldquo;Artinya kelompok menengah ke atas itu menahan belanjanya sambil melihat kondisi bagaimana  di tingkat kesehatanya,&amp;rdquo; kata Margo dalam rapat dengan DPR, Seni  (30/8/2021)
Kata dia, perlu adanya perhatian bagaimana mendorong spending masyarakat menengah ke atas. Saat ini inflasi inti konsumsi rumah tangga ini disebabkan karena adanya pembelian yang terbatas.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani Bersyukur Kasus Covid-19 Turun tapi Tetap Waspada
&amp;ldquo;Untuk itu pemerintah perlu memperhatikan bagaimana pergerakan inflasi inti ini, karena penting untuk melihat pergerakan daya beli masyarakat,&amp;rdquo; pungkasnya.Sementara itu, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2021 mencapai USD17,70 miliar, turun 4,53% dibanding ekspor Juni 2021 yang sebesar USD18,54 miliar (month-to-month/mtm). Namun jika dibandingkan dengan Juli 2020 yang sebesar USD13,69 miliar, terjadi peningkatan sebesar 29,32% (year-on-year/yoy).
Adapun, penurunan ekspor secara bulanan ini lebih disebabkan oleh faktor musiman. Pasalnya di Juni 2021 sempat terjadi peningkatan ekspor yang cukup tinggi setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan.</content:encoded></item></channel></rss>
