<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TKA China dan Arab Dibatasi Bikin Banyak Proyek Molor</title><description>Pembatasan Tenaga Kerja Asing asal China dan Arab membuat sejumlah proyek pertambangan molor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor"/><item><title>TKA China dan Arab Dibatasi Bikin Banyak Proyek Molor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor</guid><pubDate>Rabu 01 September 2021 11:17 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor-XfO0bOzTUy.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kedatangan TKA yang dibatasi menghambat proyek pertambangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/01/320/2464334/tka-china-dan-arab-dibatasi-bikin-banyak-proyek-molor-XfO0bOzTUy.jpeg</image><title>Kedatangan TKA yang dibatasi menghambat proyek pertambangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pembatasan Tenaga Kerja Asing asal China dan Arab membuat sejumlah proyek pertambangan molor. Selama pandemi covid-19, pekerja khusus dari China dan Uni Emirat Arab menunda keberangkatannya ke Indonesia.
Direktur Utama Mining Industry Indonesia atau MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, meski molor, pengerjaan proyek seperti desain yang tidak membutuhkan pertemuan fisik tetap berjalan normal.
Baca Juga: Erick Thohir Minta Bekas Tambang di-Replanting
 
&quot;Itu memang terjadi penundaan dalam arti tenaga kerja yang mestinya hadir dia gak bisa hadir, baik itu dari china maupun dari Uni Emirat Arab. Tetapi hal-hal yang terkait dengan desain tetap jalan,&quot; ujar Orias, Rabu (1/9/2021).
Dia mencatat, molornya sejumlah proyek pertambangan di beberapa daerah tidak saja disebabkan pembatasan pergerakan masa di Indonesia. Namun, kebijakan serupa yang juga diberlakukan di beberapa negara.
Baca Juga: Klaster Tambang di Ternate, Karyawan yang Terpapar Covid-19 Capai 251 Orang
 
Akibatnya, kegiatan pengiriman untuk peralatan-peralatan konstruksi di pelabuhan luar negeri menjadi terganggu selama beberapa bulan belakangan ini.
&quot;Proyek-proyek itu bisa tertunda karena kedatangan dari peralatan. Jadi Peralatan yang diperlukan bisa terganggu kehadirannya karena kegiatan di pelabuhan luar negeri yang terganggu, jadi pengiriman barang terkait dengan proyek itu terganggu, terlambat beberapa bulan,&quot; katanya.
Adapun proyek Holding BUMN Pertambangan yang tercatat molor adalah modernisasi tungku (pot upgrading). Konstruksi proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas sekaligus menekan ongkos listrik fasilitas peleburan aluminium milik perseroan.Kemudian, smelter grade Alumina di Kalimantan Barat. Proyek tersebut  merupakan kerja sama antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)  dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Dimana, perseroan menghubungkan rantai pasokan antara mineral bijih  bauksit dari IUP milik ANTM dengan pabrik peleburan aluminium milik  Inalum
&quot;Kalau kita lihat sekarang pergerakan masih dibatasi, kami berharap  mungkin bulan September (2021) mungkin sudah bisa ada pergerakan orang  yang lebih bebas, dalam arti kausa Covid sudah menurun, kalau belum  menurun itu konsekuensi logis aja dari kebijakan yang ada untuk kebaikan  bersama jangka panjang dan kami ikuti, dan itu tidak masalah,&quot; ungkap  dia.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pembatasan Tenaga Kerja Asing asal China dan Arab membuat sejumlah proyek pertambangan molor. Selama pandemi covid-19, pekerja khusus dari China dan Uni Emirat Arab menunda keberangkatannya ke Indonesia.
Direktur Utama Mining Industry Indonesia atau MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, meski molor, pengerjaan proyek seperti desain yang tidak membutuhkan pertemuan fisik tetap berjalan normal.
Baca Juga: Erick Thohir Minta Bekas Tambang di-Replanting
 
&quot;Itu memang terjadi penundaan dalam arti tenaga kerja yang mestinya hadir dia gak bisa hadir, baik itu dari china maupun dari Uni Emirat Arab. Tetapi hal-hal yang terkait dengan desain tetap jalan,&quot; ujar Orias, Rabu (1/9/2021).
Dia mencatat, molornya sejumlah proyek pertambangan di beberapa daerah tidak saja disebabkan pembatasan pergerakan masa di Indonesia. Namun, kebijakan serupa yang juga diberlakukan di beberapa negara.
Baca Juga: Klaster Tambang di Ternate, Karyawan yang Terpapar Covid-19 Capai 251 Orang
 
Akibatnya, kegiatan pengiriman untuk peralatan-peralatan konstruksi di pelabuhan luar negeri menjadi terganggu selama beberapa bulan belakangan ini.
&quot;Proyek-proyek itu bisa tertunda karena kedatangan dari peralatan. Jadi Peralatan yang diperlukan bisa terganggu kehadirannya karena kegiatan di pelabuhan luar negeri yang terganggu, jadi pengiriman barang terkait dengan proyek itu terganggu, terlambat beberapa bulan,&quot; katanya.
Adapun proyek Holding BUMN Pertambangan yang tercatat molor adalah modernisasi tungku (pot upgrading). Konstruksi proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas sekaligus menekan ongkos listrik fasilitas peleburan aluminium milik perseroan.Kemudian, smelter grade Alumina di Kalimantan Barat. Proyek tersebut  merupakan kerja sama antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)  dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Dimana, perseroan menghubungkan rantai pasokan antara mineral bijih  bauksit dari IUP milik ANTM dengan pabrik peleburan aluminium milik  Inalum
&quot;Kalau kita lihat sekarang pergerakan masih dibatasi, kami berharap  mungkin bulan September (2021) mungkin sudah bisa ada pergerakan orang  yang lebih bebas, dalam arti kausa Covid sudah menurun, kalau belum  menurun itu konsekuensi logis aja dari kebijakan yang ada untuk kebaikan  bersama jangka panjang dan kami ikuti, dan itu tidak masalah,&quot; ungkap  dia.</content:encoded></item></channel></rss>
