<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>1.500 Toko Ritel Tutup, Aprindo Soroti Kelas Menengah Tahan Belanja</title><description>Dampak pandemi covid-19 terhadap sektor ritel cukup besar. Sekto ini  menjadi salah satu sektor usaha yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja"/><item><title>1.500 Toko Ritel Tutup, Aprindo Soroti Kelas Menengah Tahan Belanja</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja</guid><pubDate>Jum'at 10 September 2021 13:14 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja-lmkMi2H4UJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ribuan toko ritel tutup  (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/10/320/2469253/1-500-toko-ritel-tutup-aprindo-soroti-kelas-menengah-tahan-belanja-lmkMi2H4UJ.jpg</image><title>Ribuan toko ritel tutup  (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Dampak pandemi covid-19 terhadap sektor ritel cukup besar. Sektor ini menjadi salah satu sektor usaha yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Sejak 2020 hingga pertengahan 2021, sudah ada 1.500 toko ritel yang harus tutup karena tidak kuat menanggung beban biaya sewa dan operasional toko.
Baca Juga: PPKM Berlevel Diperpanjang atau Tidak, Ini Harapan Pengusaha
 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, saat ini sektor ritel masih terdampak dengan situasi pandemi. Di mana, hingga saat ini penurunan produktivitas hampir mencapai 20%.
&amp;ldquo;Pada saat kuartal II sebenarnya sudah mulai membaik ketika kita sudah mulai berhasil menurunkan kasus Covid-19. Tetapi karena adanya virus Delta ketika pertengah Juli, maka sampai saat ini kami masih merasakan dampaknya dengan penurunan hampir sekitar 20% dari produktivitas sebelum pandemi atau dalam kondisi PPKM Darurat,&amp;rdquo; katanya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (10/9/2021).
Baca Juga: Heboh Kios ITC Roxy Dilelang-Dijual, Ini Penampakannya 
 
Roy menjelaskan, hal tersebut terjadi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat dan juga daya beli yang masih tertahan. Adapun di situasi pandemi saat ini, masyarakat masih ingin melihat situasi dan perkembangan dari kasus Covid-19.&amp;ldquo;Adanya pembatasan mobilitas, kemudian juga daya beli yang masih  tertahan di status ekonomi menengah ke bawah. Tentunya kita ketahui  menengah ke atas dengan PPKM Darurat sekarang mereka masih menahan  belanja, karena memang melihat situasi dan perkembangan terlebih  dahulu,&amp;rdquo; jelas dia.
Namun, dia tidak menampik dengan adanya berbagai pelonggaran yang  sudah mulai dilakukan, perlahan sudah memberikan perbaikan bagi sektor  ritel. Walau, kondisi belum sama seperti pada saat PPKM Mikro  diberlakukan.
&amp;ldquo;Perbaikan itu karena saat ini sudah ada yang namanya QR code  PeduliLindungi. Ketika diberlakukan dan masyarakat sudah mulai  mengunjungi pusat belanja maupun juga ritel. Tapi kalau dihitung dari  jumlah yang datang, tentunya belum sama seperti keadaan PPKM Mikro  ketika aplikasi PeduliLindungi belum diterapkan,&amp;rdquo; ucap Roy.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Dampak pandemi covid-19 terhadap sektor ritel cukup besar. Sektor ini menjadi salah satu sektor usaha yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Sejak 2020 hingga pertengahan 2021, sudah ada 1.500 toko ritel yang harus tutup karena tidak kuat menanggung beban biaya sewa dan operasional toko.
Baca Juga: PPKM Berlevel Diperpanjang atau Tidak, Ini Harapan Pengusaha
 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, saat ini sektor ritel masih terdampak dengan situasi pandemi. Di mana, hingga saat ini penurunan produktivitas hampir mencapai 20%.
&amp;ldquo;Pada saat kuartal II sebenarnya sudah mulai membaik ketika kita sudah mulai berhasil menurunkan kasus Covid-19. Tetapi karena adanya virus Delta ketika pertengah Juli, maka sampai saat ini kami masih merasakan dampaknya dengan penurunan hampir sekitar 20% dari produktivitas sebelum pandemi atau dalam kondisi PPKM Darurat,&amp;rdquo; katanya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (10/9/2021).
Baca Juga: Heboh Kios ITC Roxy Dilelang-Dijual, Ini Penampakannya 
 
Roy menjelaskan, hal tersebut terjadi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat dan juga daya beli yang masih tertahan. Adapun di situasi pandemi saat ini, masyarakat masih ingin melihat situasi dan perkembangan dari kasus Covid-19.&amp;ldquo;Adanya pembatasan mobilitas, kemudian juga daya beli yang masih  tertahan di status ekonomi menengah ke bawah. Tentunya kita ketahui  menengah ke atas dengan PPKM Darurat sekarang mereka masih menahan  belanja, karena memang melihat situasi dan perkembangan terlebih  dahulu,&amp;rdquo; jelas dia.
Namun, dia tidak menampik dengan adanya berbagai pelonggaran yang  sudah mulai dilakukan, perlahan sudah memberikan perbaikan bagi sektor  ritel. Walau, kondisi belum sama seperti pada saat PPKM Mikro  diberlakukan.
&amp;ldquo;Perbaikan itu karena saat ini sudah ada yang namanya QR code  PeduliLindungi. Ketika diberlakukan dan masyarakat sudah mulai  mengunjungi pusat belanja maupun juga ritel. Tapi kalau dihitung dari  jumlah yang datang, tentunya belum sama seperti keadaan PPKM Mikro  ketika aplikasi PeduliLindungi belum diterapkan,&amp;rdquo; ucap Roy.</content:encoded></item></channel></rss>
