<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bioskop Mau Dibuka Lagi, Bagaimana Pergerakan Saham BLTZ hingga FILM?</title><description>Intip pergerakan saham emiten hiburan di tengah rencana pembukaan bioskop pada 14 September 2021.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film"/><item><title>Bioskop Mau Dibuka Lagi, Bagaimana Pergerakan Saham BLTZ hingga FILM?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film</guid><pubDate>Senin 13 September 2021 09:45 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film-Cxq55lSAAW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bioskop Mau Dibuka Lagi (Foto: Baamboozle)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/13/278/2470383/bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film-Cxq55lSAAW.jpg</image><title>Bioskop Mau Dibuka Lagi (Foto: Baamboozle)</title></images><description>JAKARTA - Intip pergerakan saham emiten hiburan di tengah rencana pembukaan bioskop pada 14 September 2021. Rencana pembukaan bioskop di tengah melandainya kasus Covid-19.

Jelang dibukanya bioskop, sejumlah emiten hiburan terpantau bergerak variatif sepanjang pekan ini, menilik data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/9/2021).

Emiten pengelola bioskop CGV dan fasilitas makanan-minuman PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) terpantau mulai menunjukkan optimisme. Meski valuasi bulanan masih terpuruk (-3.53%), tetapi sepekan menunjukkan positif (12,33%). Secara year do date, BLTZ masih menguat (13,04%).

Baca Juga: Bioskop Akan Dibuka Mulai 14 September, Tingkat Kunjungan ke Mal Bisa Meningkat?
&amp;nbsp;
Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, pergerakan BLTZ masih terlihat cukup monoton alias tidak likuid.

&quot;BLTZ masih tidak likuid,&quot; katanya saat dihubungi MNC Portal, Jakarta, Senin (13/9/2021).

Hal ini dilihat dari laporan keuangan terakhir menunjukkan emiten berkode BLTZ ini masih mengalami kerugian Rp168 miliar selama semester I-2021, membaik tipis dari periode tahun sebelumnya yang menembus Rp185 miliar. Pada akhir pekan lalu, BLTZ ditutup anjlok (-3,24%) di level 3280.

Sementara, PT MD Pictures Tbk (FILM) melaporkan penjualannya mencapai Rp126 miliar, melesat 443% dengan laba bersih Rp35,98 miliar.

Adapun emiten berkode FILM ini masih berada di range positif secara year to date (77,89%). Namun, valuasi sepekan hingga tiga bulan terakhir masih berada di zona merah yakni: sepekan (-6,11%), sebulan (-12,44%), dan tiga bulan (-16,75%).

FILM terpantau berada di zona merah empat hari berturut-turut pekan lalu, dan ditutup merosot (-2,33%) di 336.

William melihat emiten FILM masih menunjukkan tren penurunan. &quot;FILM masih downtrend,&quot; tuturnya.

Selanjutnya, PT Dyandra Media Internasional Tbk (DYAN) sebagai perusahaan penyedia fasilitas jasa pertemuan dan pameran (Meetings, Incentives, Conventions, dan Exhibitions / MICE).

Emiten berkode DYAN memiliki rekam jejak keuangan yang membaik dari periode tahun sebelumnya yaitu pendapatan perusahaan yang tumbuh mencapai Rp143,71 miliar. Kerugian bersih senilai Rp54,41 miliar, turun 42,13% dari tahun lalu.

William justru merekomendasikan saham ini lantaran dari segi pengamatan teknikal, DYAN telah menemukan titik supportnya di level 87 dan 82.

&quot;DYAN direkomendasikan, buy on weakness, take profit (TP) di 102-120,&quot; tuturnya.

Seperti diketahui, harapan dibukanya kembali bioskop dapat memacu kembali industri perfilman tanah air menyusul pelonggaran di pusat perbelanjaan dan mal di kota-kota besar.

&amp;ldquo;Kita mengharapkan 60% (bioskop) seluruh indonesia dibuka dulu, karena ini menyangkut market pemilik film. Kita minta di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok, buka, baru bisa suplai ke seluruh Indonesia,&amp;rdquo; terang Ketua GPBSI Djonny.

Apabila bioskop masih tutup, maka peluang akan datang terhadap platform penyedia layanan streaming alias nonton bioskop secara daring.</description><content:encoded>JAKARTA - Intip pergerakan saham emiten hiburan di tengah rencana pembukaan bioskop pada 14 September 2021. Rencana pembukaan bioskop di tengah melandainya kasus Covid-19.

Jelang dibukanya bioskop, sejumlah emiten hiburan terpantau bergerak variatif sepanjang pekan ini, menilik data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/9/2021).

Emiten pengelola bioskop CGV dan fasilitas makanan-minuman PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) terpantau mulai menunjukkan optimisme. Meski valuasi bulanan masih terpuruk (-3.53%), tetapi sepekan menunjukkan positif (12,33%). Secara year do date, BLTZ masih menguat (13,04%).

Baca Juga: Bioskop Akan Dibuka Mulai 14 September, Tingkat Kunjungan ke Mal Bisa Meningkat?
&amp;nbsp;
Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, pergerakan BLTZ masih terlihat cukup monoton alias tidak likuid.

&quot;BLTZ masih tidak likuid,&quot; katanya saat dihubungi MNC Portal, Jakarta, Senin (13/9/2021).

Hal ini dilihat dari laporan keuangan terakhir menunjukkan emiten berkode BLTZ ini masih mengalami kerugian Rp168 miliar selama semester I-2021, membaik tipis dari periode tahun sebelumnya yang menembus Rp185 miliar. Pada akhir pekan lalu, BLTZ ditutup anjlok (-3,24%) di level 3280.

Sementara, PT MD Pictures Tbk (FILM) melaporkan penjualannya mencapai Rp126 miliar, melesat 443% dengan laba bersih Rp35,98 miliar.

Adapun emiten berkode FILM ini masih berada di range positif secara year to date (77,89%). Namun, valuasi sepekan hingga tiga bulan terakhir masih berada di zona merah yakni: sepekan (-6,11%), sebulan (-12,44%), dan tiga bulan (-16,75%).

FILM terpantau berada di zona merah empat hari berturut-turut pekan lalu, dan ditutup merosot (-2,33%) di 336.

William melihat emiten FILM masih menunjukkan tren penurunan. &quot;FILM masih downtrend,&quot; tuturnya.

Selanjutnya, PT Dyandra Media Internasional Tbk (DYAN) sebagai perusahaan penyedia fasilitas jasa pertemuan dan pameran (Meetings, Incentives, Conventions, dan Exhibitions / MICE).

Emiten berkode DYAN memiliki rekam jejak keuangan yang membaik dari periode tahun sebelumnya yaitu pendapatan perusahaan yang tumbuh mencapai Rp143,71 miliar. Kerugian bersih senilai Rp54,41 miliar, turun 42,13% dari tahun lalu.

William justru merekomendasikan saham ini lantaran dari segi pengamatan teknikal, DYAN telah menemukan titik supportnya di level 87 dan 82.

&quot;DYAN direkomendasikan, buy on weakness, take profit (TP) di 102-120,&quot; tuturnya.

Seperti diketahui, harapan dibukanya kembali bioskop dapat memacu kembali industri perfilman tanah air menyusul pelonggaran di pusat perbelanjaan dan mal di kota-kota besar.

&amp;ldquo;Kita mengharapkan 60% (bioskop) seluruh indonesia dibuka dulu, karena ini menyangkut market pemilik film. Kita minta di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok, buka, baru bisa suplai ke seluruh Indonesia,&amp;rdquo; terang Ketua GPBSI Djonny.

Apabila bioskop masih tutup, maka peluang akan datang terhadap platform penyedia layanan streaming alias nonton bioskop secara daring.</content:encoded></item></channel></rss>
